#Politik #Politik Korea

Spekulasi Skandal Dating Idol sebagai Pengalihan Isu Kontroversi Pemerintah Korea Selatan

Korea Selatan merupakan sebuah negara tersohor di kawasan Asia Timur yang didirikan pada tanggal 15 Agustus 1948 dan terkenal dengan budayanya yang kita kenal sebagai K-pop. Budaya pada dasarnya adalah media praktek diplomasi, dimana terdapat usaha dari pemerintah untuk berkomunikasi dengan masyarakat di negaranya maupun negara lain dengan menggunakan budaya sebagai media komunikasinya yang tentunya harus dijalankan dengan strategi yang tepat. Budaya, yang bersifat menarik, harus dikemas dengan metode komunikasi yang tepat. Korea Selatan merupakan salah satu negara yang cukup dikenal secara global dengan diplomasi budayanya yang dianggap sukses hingga korea selatan mampu menyaingi negara-negara besar seperti Tiongkok, Amerika Serikat, dan Jepang. Diplomasi budaya Korea Selatan dilatarbelakangi oleh keinginan Korea Selatan untuk menciptakan citra baru negaranya dan pengakuan lebih dari dunia internasional, dimana pada awal dekade 1990-an telah menarik perhatian dunai internasional karena menjadi salah satu “Asian Miracle” yaitu negara Asia yang ekonominya paling tumbuh pesat. Negara yang kerap dipanggil dengan sebutan negeri ginseng tersebut memiliki banyak kemajuan dalam berbagai bidang seperti teknologi, otomotif, dan industri kreatif. Terutama dalam industri kreatifnya seperti Drama Korea, K-Pop, K-Movie, K-Food dan lainnya. Korea Selatan dinilai pantas untuk menjadi salah satu contoh yang baik dalam membangun dan mengembangkan industri kreatif.

Kpop atau yg bisa kita sebut dengan Korean Wave atau disebut dengan Hallyu (한류) merupakan salah satu fenomena dalam era globalisasi saat ini. Sejarah Kpop hingga mendunia sangat menarik untuk dikulik. Fenomena gelombang Korea Selatan ini dimulai pada tahun 1990-an. Sejarah perkembangan Kpop telah banyak dipengaruhi oleh berbagai jenis musik Barat dan grup pop. Bisa dibilang, budaya pop Amerika memiliki pengaruh yang besar terhadap jenis musik Kpop. Asal usul K-pop modern dimulai pada tahun 1987, tepatnya saat tahun perubahan politik yang merajalela dan menyebabkan demokratisasi Korea Selatan. Pada tahun 1992 dengan grup Seo Taiji and Boys, yang merupakan grup kontemporer pertama yang muncul di Korea Selatan dan aktif pada pertengahan 1990-an. Pada tahun 2000-an, K-pop terus berkembang dengan munculnya idol grup seperti Big Bang, yang memulai debutnya pada tahun 2006. Selama dekade terakhir, K-pop menjadi semakin populer seperti EXO, Blackpink, Twice BTS dan mulai mendapat tempat di dunia barat.

Di Indonesia sendiri, Fenomena Hallyu mulai menerpa Indonesia pada tahun 2002, yang ditandai dengan kemunculan berbagai drama Korea yang ditayangkan pada stasiun televisi swasta yakni drama Korea Winter Sonata dan Full House di stasiun TV Indosiar. Sejak itu, sebagian masyarakat Indonesia dari kalangan muda dari usia muda dan setengah baya mulai menggemari drama TV Korea.

Akan tetapi, dalam meniti karirnya, idola K-Pop tak dapat lepas dari rumor dan berbagai isu miring dan terkadang mengakibatkan aktivitas mereka tertunda selama beberapa waktu. Rumor yang cukup sering dilontarkan oleh beberapa warganet adalah keterkaitan antara isu politik dengan konten baru oleh kelompok penyanyi K-Pop atau yang kerap disebut sebagai pengalihan isu. Pengalihan isu merupakan salah satu bentuk komunikasi non- verbal, dimana terjadi hubungan pemahaman pesan secara tidak langsung dan dapat menimbulkan rasa kepuasan pada salah satu pihak pelaku pengalihan isu. Korean Pop sebagai alat untuk pengalihan isu dihadirkan pada saat informasi, pemberitaan, ataupun isu yang semula dibahas khalayak segera ingin dialihkan dengan informasi lain dengan tujuan perbincangan khalayak yang awalnya adalah sebuah topik utama, menjadi topik yang hilang diterjang angin.

Di Korea, kesan baik sangat penting karena budaya mereka sangat memperhatikan hierarki sosial, penghormatan terhadap otoritas, dan citra diri. Kesopanan, hormat, dan penghargaan terhadap orang lain adalah nilai-nilai yang sangat dijunjung tinggi. Dalam konteks ini, kesan seseorang atau sebuah institusi dapat berdampak besar pada reputasi mereka di mata masyarakat. Oleh karena itu, untuk menjaga reputasi baik dan posisi sosial yang dihormati, kesan di kalangan masyarakat Korea menjadi sangat penting. Popularitas K-Pop juga mendatangkan berbagai isu skandal yang kerap dianggap digunakan untuk mengalihkan perhatian publik.

Salah satu konten YouTube milik kreator dengan akun bernama Nessie Judge, menjelaskan bahwa ada salah satu kelompok idola K-Pop yang diduga memiliki dugaan pengalihan isu, kelompok ini bernama Red Velvet. Masyarakat atau fans K-Pop baik dari Korea Selatan maupun penggemar Internasional seperti Indonesia, mengaku terkejut dengan pengumuman SM Entertainment yang tergolong terlalu mendadak hingga mengalihkan fokus khalayak dari skandal keterlibatan Pemerintah Korea Selatan yang lalai dalam meringkas tragedi tenggelamnya Kapal Feri Sewol pada tanggal 16 April 2014 lalu yang menewaskan ratusan siswa di bawah umur serta dituding sebagai kelalaian terbesar pemerintah politik di Korea Selatan. Apalagi, selisih waktu press release dengan waktu debut sangat berdekatan. Hanya dalam 5 hari, SM Entertainment menghadirkan Red Velvet tanpa ada perilisian foto atau biasa disebut dengan teaser perkenalan seperti yang telah dilakukan pada grup-grup sebelumnya. Contohnya pada waktu grup penyanyi EXO debut, sebanyak 28 konten teaser atau perkenalan para personil anggota EXO secara terperinci, posisi dalam kelompok, dan memakan waktu 6 bulan sejak tahun 2011 sebelum akhirnya debut melalui lagu bertajuk ‘MAMA’ pada tahun berikutnya.

Selain itu, skandal lain juga diduga muncul untuk menutupi kasus pemerintah Korea Selatan. Diantara seperti berita tentang Mingyu Seventeen yang dirumorkan melakukan bullying semasa sekolah muncul bersamaan dengan berita 2 pejabat pengadilan yang melecehkan wanita di gedung SongPa-Gu. Selain itu pada November 2023, G-Dragon diterpa rumor narkoba bersamaan dengan adanya rumor kelakuan buruk Presiden Korea Selatan Yoon Seuk Yeol.

Namun, terlepas dari dugaan yang ada fenomena ini menjadi bukti kuatnya industri hiburan dalam mengarahkan perhatian masyarakat.

Korean Wave: Idol dan Aktor Korea Menjadi

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *