Sumber gambar: Pinterest
Retaknya Tembok Homogenitas
Selama beberapa dekade, Korea Selatan membangun narasi identitas nasionalnya di atas fondasi yang kokoh namun rapuh: konsep danil minjok (민족), atau etnis tunggal. Sebuah keyakinan kolektif bahwa bangsa Korea adalah satu ras murni yang homogen. Namun, dalam dua dekade terakhir, tembok ini mulai retak. Arus globalisasi, kebutuhan akan pekerja migran, dan meningkatnya pernikahan internasional telah memaksa Korea untuk bergulat dengan realitas baru. Pemerintah secara resmi mengadopsi kebijakan damunhwa (다문화), atau multikulturalisme, untuk mengelola keragaman yang tak terelakkan ini.
Meski demikian, penerimaan ini seringkali bersifat transaksional. “Orang luar” diterima selama mereka mengisi peran yang dibutuhkan: sebagai pekerja pabrik, perawat, atau pasangan bagi pria di pedesaan (Yoon, 2012). Di tengah konteks sosial yang kompleks inilah, liga olahraga profesional, khususnya V-League (liga voli), memperkenalkan kebijakan “Asia Quarter Draft” pada tahun 2023. Kebijakan ini, yang dirancang untuk meningkatkan level permainan dan jangkauan regional, secara tidak sengaja membuka pintu bagi sebuah fenomena.
Masuklah Megawati Hangestri Pertiwi, seorang atlet voli asal Indonesia. Ia bukan sekadar pemain asing; ia adalah seorang Muslimah yang taat, tampil di setiap pertandingan dengan mengenakan hijab, sebuah simbol keyakinan yang sangat terlihat dan asing bagi sebagian besar mata publik Korea. Namun, dalam hitungan minggu, ia bertransformasi. Ia bukan lagi “pemain berhijab”; ia adalah “Megatron” (메가트론), sang pencetak poin andalan.
Fenomena Megawati menjadi studi kasus premium tentang bagaimana multikulturalisme beroperasi di Korea modern. Ini bukan cerita sederhana tentang penerimaan, melainkan sebuah persimpangan kompleks di mana tiga pilar kebudayaan Korea bertemu: prestasi olahraga, validasi budaya pop (K-Pop), dan identitas agama. Kehadirannya membuktikan sebuah hipotesis baru: di Korea, penerimaan multikultural dapat dicapai, namun seringkali “bersyarat”, menuntut kinerja luar biasa sebagai tiket masuknya.
Kunci Pembuka Gerbang: Kinerja di Atas Prasangka
Di negara yang sangat kompetitif seperti Korea Selatan, prestasi adalah mata uang tertinggi. Konsep nasionalisme olahraga tertanam dalam (Cho, 2015). Kemenangan di kancah internasional, seperti Olimpiade atau Asian Games, dianggap sebagai bukti keunggulan bangsa. Mentalitas ini meresap ke dalam liga profesional domestik. Seorang pemain asing tidak hanya diharapkan untuk bermain bagus; mereka diharapkan untuk mendominasi.
Megawati tiba di Daejeon KGC (sekarang Red Sparks) dengan membawa beban ekspektasi sekaligus keunikan visual. Hijabnya adalah pemandangan yang benar-benar baru di V-League. Media lokal awalnya fokus pada keunikan ini. Namun, begitu peluit pertandingan pertama dibunyikan, narasi itu segera berubah.
Spike kerasnya yang konsisten dan akurat, yang membuatnya mendapatkan julukan “Megatron” dari komentator Korea, berbicara lebih keras daripada penampilannya. Ia tidak hanya beradaptasi; ia memimpin. Pada akhir putaran pertama musim 2023-2024, Megawati terpilih sebagai MVP (Pemain Terbaik), sebuah pencapaian langka bagi seorang rookie dari Asia Quarter (Yoo, 2023). Ia secara konsisten berada di papan atas pencetak skor liga.
Di sinilah letak kunci pertama penerimaannya. Publik Korea, dan yang lebih penting, rekan satu timnya, melihat kinerjanya. Di ruang ganti yang didorong oleh hasil, satu-satunya hal yang penting adalah apakah Anda berkontribusi pada kemenangan. Megawati berkontribusi secara masif. Performanya yang luar biasa efektif “menetralkan” potensi prasangka. Ia membuktikan nilainya terlebih dahulu sebagai seorang atlet elit. Identitas budayanya, seperti hijab dan statusnya sebagai seorang Muslimah, kemudian menjadi bagian sekunder dari identitasnya sebagai “atlet andalan kami”.
Penerimaan ini adalah bentuk multikulturalisme berbasis kinerja. Megawati tidak diterima meskipun ia berbeda; ia diterima karena ia luar biasa. Kinerjanya memberinya “izin” sosial untuk menjadi berbeda. Hijabnya dengan cepat bertransformasi dari simbol “Liyan” (The Other) menjadi trade mark seorang superstar, sama ikoniknya dengan selebrasi “Juliette” dari rekan setimnya, Giovanna Milana.
Jembatan Emas Hallyu: Validasi dari Seungkwan SEVENTEEN
Jika kinerja membuka gerbang, budaya pop meruntuhkan tembok yang tersisa. Di Korea modern, K-Pop bukan lagi sekadar industri musik; ia adalah detak jantung budaya nasional dan ekspor soft power terbesar (Lie, 2012). Pengaruh idola K-Pop terhadap opini publik, terutama di kalangan generasi muda, sangat besar.
Masuklah Boo Seungkwan, anggota salah satu grup K-Pop paling berpengaruh di dunia, SEVENTEEN. Seungkwan juga dikenal di Korea dengan persona domestik yang kuat sebagai “Profesor Boo” (부교수님) atau “Buseung-gwan” (부승관), seorang penggemar berat bola voli yang fanatik dengan pengetahuan ensiklopedis tentang V-League.
Ketika Seungkwan, seorang figur publik A-List, mulai secara terbuka dan antusias menunjukkan dukungannya untuk Red Sparks (dan secara spesifik untuk Megawati), itu lebih dari sekadar interaksi selebriti. Ia menghadiri pertandingan, tertangkap kamera bersorak penuh semangat untuk Megawati, dan bahkan berinteraksi dengannya (Jay, 2023). Puncaknya adalah ketika Seungkwan mengundang Megawati dan tim Red Sparks ke acara bincang-bincang populernya, sebuah momen yang menjadi viral.
Tindakan ini berfungsi sebagai validasi budaya pop yang tak ternilai. Seungkwan, sebagai arbiter selera mainstream, secara efektif mengirimkan pesan kepada jutaan penggemarnya (dikenal sebagai “Carats”) dan publik yang lebih luas: “Megawati itu keren. Dia adalah salah satu dari kita. Mendukungnya, dengan segala keunikannya, adalah hal yang normal dan populer.”
Interaksi ini menjembatani kesenjangan antara “atlet asing” dan “figur budaya Korea”. K-Pop, dalam hal ini, bertindak sebagai akselerator multikultural. Ia mengambil penerimaan berbasis kinerja yang telah diraih Mega di lapangan voli dan mengangkatnya ke level penerimaan sosial mainstream. Bagi banyak penggemar muda Korea, jika idola mereka menerima Megawati, mereka juga akan menerimanya. Ini adalah bentuk normalisasi yang jauh lebih cepat dan lebih efektif daripada kebijakan pemerintah manapun.
Efek Domino: Saat Korea Mulai Beradaptasi
Aspek paling menarik dari fenomena Megawati adalah bahwa multikulturalisme yang terjadi bukanlah jalan satu arah (asimilasi). Megawati tidak hanya beradaptasi dengan Korea; Korea, sebagai sebuah institusi, mulai beradaptasi dengannya.
Pemicunya adalah “serbuan” digital dari basis penggemar Megawati di Indonesia, negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia. Media sosial Red Sparks dan KOVO (Federasi Bola Voli Korea) meledak. Akun Instagram Red Sparks, yang tadinya hanya memiliki puluhan ribu pengikut, meroket melampaui satu juta, didominasi oleh orang Indonesia (Ganesan, 2024). Kolom komentar di setiap postingan dan siaran langsung YouTube, yang dulu murni berbahasa Korea, kini dibanjiri oleh Bahasa Indonesia.
Ini adalah kekuatan fandom dan pasar yang tidak bisa diabaikan. Klub dan liga menghadapi kenyataan komersial baru. Dan mereka beradaptasi dengan cepat. Red Sparks mulai mempekerjakan penerjemah Bahasa Indonesia. Mereka secara rutin membuat konten, keterangan foto, dan video yang secara khusus menargetkan penggemar Indonesia. Bahkan media mainstream Korea seperti SBS Sports mulai membuat segmen video dengan subtitle Bahasa Indonesia untuk melayani audiens baru ini.
Ini adalah multikulturalisme dua arah yang didorong oleh pasar. Institusi olahraga Korea secara proaktif mengubah cara mereka berkomunikasi dan beroperasi untuk mengakomodasi budaya dan bahasa baru, karena adanya insentif komersial yang jelas. Megawati bukan hanya seorang atlet; ia adalah pembuka pasar. Kehadirannya, didukung oleh fandom negaranya yang masif, memaksa adaptasi institusional, sebuah langkah maju yang signifikan dari sekadar toleransi pasif.
Kesimpulan
Pada akhirnya, fenomena Megawati Hangestri bukanlah sebuah kisah dongeng di mana semua perbedaan budaya tiba-tiba melebur dan Korea Selatan seketika menjadi utopia multikultural. Realitasnya jauh lebih bernuansa dan, bisa dibilang, jauh lebih jujur. Apa yang kita saksikan melalui “Megatron” adalah cerminan dari multikulturalisme bersyarat (conditional multiculturalism) atau instrumental. Ini adalah sebuah model penerimaan yang tidak didasarkan pada idealisme abstrak tentang keragaman, melainkan pada pragmatisme yang sangat nyata.
Korea Selatan tidak serta-merta mengubah pandangan fundamentalnya tentang danil minjok (etnis tunggal) hanya karena satu atlet. Sebaliknya, Korea menemukan sebuah individu yang kinerjanya begitu luar biasa sehingga ia “mendapatkan” hak istimewa untuk diterima sepenuhnya. Megawati dirayakan dengan tangan terbuka bukan meskipun ia berbeda, tetapi karena ia adalah seorang pemenang yang tak terbantahkan. Ia harus terlebih dahulu membuktikan nilainya melalui bahasa universal prestasi, sebuah bahasa yang sangat selaras dengan etos kerja kompetitif dan nasionalisme olahraga (Cho, 2015) yang telah lama mendarah daging di masyarakat Korea. Kemenangan adalah paspor utamanya.
Di atas fondasi kinerja yang kokoh inilah pilar-pilar penerimaan lainnya dibangun. Validasi kultural dari Seungkwan SEVENTEEN, seorang duta Hallyu yang mewakili budaya mainstream anak muda, bertindak sebagai jembatan emas. Interaksinya menormalkan sosok Megawati, mentransformasikannya dari “atlet asing yang unik” menjadi “bintang yang didukung idola kita”. Ia memberikan “izin” sosial bagi generasi muda untuk merangkul Mega tanpa keraguan.
Pada saat yang sama, nilai ekonomi dari fandom Indonesia yang masif memberikan insentif yang tidak bisa diabaikan. Ketika media sosial liga dibanjiri Bahasa Indonesia, institusi (klub dan liga) merespons bukan murni karena toleransi, tetapi karena logika pasar. Mereka tidak hanya menoleransi budaya baru; mereka secara aktif merangkul dan melayaninya demi keuntungan komersial.
Hasilnya, identitas Megawati sebagai seorang Muslimah berhijab mengalami transformasi simbolis. Hijabnya, yang dalam konteks lain mungkin menjadi penghalang atau sumber prasangka, kini terbungkus dalam aura kesuksesan. Ia menjadi trade mark seorang juara. Ini mungkin bukan penerimaan ideologis murni yang didambakan kaum idealis, tetapi ini adalah bentuk penerimaan pragmatis yang sangat nyata dan kuat di lapangan.
Cerita Megawati, Seungkwan, dan Red Sparks menunjukkan sebuah paradoks sekaligus model baru. Ia membuktikan bahwa di Korea modern yang kompleks, arena yang paling global dan kompetitif (olahraga dan budaya pop) secara ironis menjadi pintu masuk paling efektif untuk keragaman, sekalipun pintu itu masih dijaga ketat oleh syarat-syarat prestasi yang luar biasa.
Oleh: Tazkiyah Asysyamil Putri – 202410360110113
Referensi dan bacaan:
Cho, Y. H. (2015). Sport, nationalism, and the developmental state in South Korea. Dalam B. Houlihan & J. M. S. (Eds.), Sport in Asian Society: Past and present (hlm. 138–154). Routledge.
Lie, J. (2012). What is the K in K-pop? South Korean popular music, the culture industry, and national identity. Korea Observer, 43(3), 339–363.
Yoon, I. (2012). The changing determinants of attitudes toward immigrants in South Korea: From ethnic nationalism to civic nationalism. Journal of Ethnic and Migration Studies, 38(4), 575–592. https://doi.org/10.1080/1369183X.2012.650014
Ganesan, D. (2024, 14 Maret). Commentary: How Indonesia’s ‘Megatron’ Megawati took South Korea’s volleyball league by storm. CNA (Channel News Asia). https://www.channelnewsasia.com/commentary/megawati-hangestri-pertiwi-south-korea-volleyball-red-sparks-indonesia-hijab-4191631
Jay, A. (2023, 12 Desember). SEVENTEEN’s Seungkwan shows love for pro volleyball player Megawati Hangestri Pertiwi. Allkpop. https://www.allkpop.com/article/2023/12/seventeens-seungkwan-shows-love-for-pro-volleyball-player-megawati-hangestri-pertiwi
Yoo, J. (2023, 7 November). ‘Megatron’ Megawati named V League Round 1 MVP. Korea JoongAng Daily. https://koreajoongangdaily.joins.com/2023/11/07/sports/volleyball/Megatron-Megawati-named-V-League-Round-1-MVP/1908759




