Post-THAAD Diplomacy: Perubahan Strategi Korea Selatan dalam Hubungan Tiga Arah (RRT-AS-Korsel)

Picture source: East Asian Forum

Pengenalan sistem Terminal High Altitude Area Defense (THAAD) oleh Amerika Serikat di Korea Selatan pada tahun 2017 telah menciptakan keretakan dalam hubungan Korea Selatan dengan China, yang mengarah pada evaluasi ulang baru terhadap strategi diplomatiknya. Transformasi ini ditandai dengan ambisi Korea Selatan untuk memposisikan dirinya sebagai “Global Pivotal State”, sebuah gagasan yang diperjuangkan oleh pemerintahan Yoo Suk-yeol untuk memperkuat kekuasaannya melalui aliansi strategis, terutama dengan Amerika Serikat, sambil menavigasi hubungannya yang rumit dengan China. Setelah instalasi THAAD, pendekatan diplomatik Korea Selatan terhadap hubungannya dengan Amerika Serikat dan China telah mengalami transformasi yang luar biasa, menunjukkan keinginannya untuk membentuk kembali posisinya di arena internasional. Pendekatan dinamis ini berlabuh dalam perjalanan sejarah Korea Selatan sebagai kekuatan penting, dengan terampil memanfaatkan kecakapan ekonomi dan kemahiran diplomatiknya untuk dengan cekatan bermanuver melalui arus geopolitik rumit yang dibentuk oleh kekuatan dominan.

Konsep Global Pivotal State menyoroti ambisi Korea Selatan untuk memperkuat dampaknya di seluruh dunia dengan menjalin aliansi dengan negara yang memiliki pemikiran sama, terutama melalui kemitraan AS-ROK. Pendekatan ini bertujuan untuk membedakan upaya diplomatik Korea Selatan dari pemerintahan sebelumnya dengan menekankan kehadiran global yang ekspansif, daripada hanya berkonsentrasi pada masalah lokal atau militer. Perawakan Korea Selatan sebagai kekuatan menengah memungkinkannya untuk berfungsi sebagai penghubung vital di antara kekuatan besar, mempromosikan sinergi dan dialog, terutama dalam dinamika rumit seperti segitiga Cina-Jepang-Korea. Hal ini telah ditandai dengan keahlian Korea Selatan untuk menetapkan agenda dan memilih aliansi strategis dengan hati-hati, meskipun telah menghadapi rintangan dalam mempertajam fokus dan menyinkronkan upaya dengan mitranya. Korea Selatan sebagai pemain tangguh di panggung global tidak hanya dikaitkan dengan kemajuan ekonominya yang luar biasa tetapi juga dengan inisiatif diplomatiknya yang kuat yang bertujuan memperluas hubungan perdagangan dan menghilangkan bayang-bayang pengasingan diplomatik pasca-Perang Korea. Kemenangan ekonomi negara telah memperkuat pengaruh diplomatiknya, memberdayakannya untuk mengambil peran yang lebih penting baik di bidang regional maupun internasional.

Reaksi Korea Selatan terhadap krisis internasional, seperti serangan Rusia ke Ukraina, menggambarkan keselarasan dengan sekutu Barat dan kesiapannya untuk menegaskan dirinya dalam masalah global, lebih jauh dari Rusia. Penyelarasan ini menunjukkan strategi menyeluruh Korea Selatan untuk bersekutu dengan negara-negara demokratis dan menjunjung tinggi standar internasional. Sementara visi diplomatik pasca-THAAD Korea Selatan menekankan memperkuat aliansinya dengan Amerika Serikat dan memperkuat statusnya sebagai negara yang signifikan secara global, Korea Selatan secara bersamaan menghadapi tantangan dalam menyeimbangkan hubungannya dengan China. Lanskap strategis Asia Timur Laut yang tetap rumit, memaksa Korea Selatan untuk menavigasi identitas kekuatan tengahnya dengan kemahiran untuk mempertahankan keseimbangan regional dan mencegah keterasingan mitra penting. Tindakan penyeimbangan yang rumit ini menyoroti pentingnya ketepatan diplomatik Korea Selatan dan kapasitasnya untuk menyesuaikan diri dengan lanskap geopolitik yang berkembang.

 

Oleh: Subal Radhitia Putri Ardhani

 

Bacaan lebih lanjut:

Cheng and Yan, “South Korea’s Role Recalibration as ‘Global Pivotal State.’”

Dennis Patterson and Jangsup Choi, Diplomacy, Trade, and South Korea’s Rise to International Influence, 2019, https://journals.sagepub.com/doi/full/10.1177/2233865917740726.

Enrico Fels, “The Republic of Korea: No Longer a Small ‘Shrimp Among Whales’” (Springer, Cham, 2017), 567–635, https://doi.org/10.1007/978-3-319-45689-8_10.

Muhui Zhang, “Growing Activism as Cooperation Facilitator,” The Korean Journal of International Studies 14, no. 2 (2016): 309–37, https://doi.org/10.14731/KJIS.2016.08.14.2.309.

Ramon Pardo and Saeme Kim, “South Korea: Siding with the West and Distancing from Russia,” International Politics, 2023, 1–21, https://doi.org/10.1057/s41311-023-00431-1.

Zhenlu Cheng and Haoen Yan, “South Korea’s Role Recalibration as ‘Global Pivotal State,’” Journal of Asian Research 8, no. 3 (November 14, 2024): p49, https://doi.org/10.22158/jar.v8n3p49.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *