Sumber gambar: Pinterest
Korea Selatan merupakan negara yang mempertahankan budaya lokal dengan sebutan budaya tunggal atau monokultur. “Jangan hanyut oleh pusaran arus, menarilah di atas gelombang”, merupakan salah satu pepatah Korea Selatan dalam menggambarkan tradisi masyarakat dan mempertahankan budaya-budaya lokal (Haekal, 2021). Namun, multikulturalisme di Korea Selatan mulai muncul karena adanya perkembangan globalisasi yang semakin pesat, menjadikan masyarakat hidup secara beragam.
Salah satu arus globalisasi yang berkembang dan mempengaruhi budaya Korea Selatan adalah penggunaan bahasa asing yakni bahasa Inggris dalam lirik grup band K-Pop (Korean Pop). Padahal, menurut keputusan Mahkamah Konstitusi Korea Selatan tahun 2016, terdapat kendala jika bahasa Inggris diajarkan, karena dapat mengganggu kemampuan mempelajari bahasa Korea (Facette, 2021). Namun, Kepala Departemen Kebijakan Pendidikan Terpadu Dinas Pendidikan Provinsi Gyeonggi, Cho Young-min, mengungkapkan, “Kami bisa membantu anak-anak keluarga multikultural untuk tumbuh menjadi talenta global melalui kelebihan mereka, yaitu pendidikan bahasa Korea intensif. Melalui perluasan Sekolah bahasa Korea Provinsi Gyeonggi, kami memberikan arah baru dalam pendidikan multikultural serta membuat model pendidikan keluarga multikultural yang terdepan”. Melalui hal ini, dapat disimpulkan bahwa Korea Selatan mulai membuka akses dalam multikultural bahasa dengan dalih membantu keluarga kultural. K-Pop juga merupakan penanda masuknya arus globalisasi dengan mencampurkan penggunaan bahasa Inggris dalam lagu-lagu yang diciptakan. Penyebutan ‘Konglish’ atau Korean English merupakan istilah yang mencerminkan adanya percampuran dua bahasa. (Armstrong, 2025) menyebutkan, “Konglish adalah gabungan kata-kata Korea dan Inggris, yang seringkali dipinjam dari bahasa Inggris tetapi memiliki makna atau pengucapan yang unik dalam bahasa Korea. Contoh penggunaan istilah Konglish adalah 센티 (senti) : centimeter (sentimeter).
Namun, dalam artikel ini menemukan grup K-Pop yang murni menggunakan bahasa Korea dalam penulisan liriknya dengan tujuan untuk mempertahankan nilai-nilai bahasa lokal. Lagu yang
dirilis oleh SNSD (Girls Generation) di bawah naungan SM Entertainment pada tahun 2007 yang berjudul “Into The New World” untuk pasar domestik Korea Selatan dengan hanya ditulis menggunakan bahasa Korea saja. Lagu ini menjadi lagu pergerakan, lagu perjuangan, dan seringkali diputar dalam berbagai demonstran lokal di Korea Selatan. Selain karena makna lagunya, “Into The New World” ini semakin menjadi terasa milik sendiri (Yusron, 2024). Mempertahankan budaya sendiri memang tidak salah, namun perkembangan zaman yang semakin kompleks menciptakan perubahan yang semakin besar, juga sambil mempertahankan nilai-nilai lokal atau tradisional. Selain itu, (Yusron, 2024) juga menyebutkan “Whistle milik BLACKPINK adalah lagu yang dirilis saat debut mereka, ketika grup YG Entertainment itu lebih fokus ke pasar domestik daripada internasional. Sehingga komposisi liriknya pun ditulis dalam bahasa Korea dengan pengecualian di beberapa bagian rap”.
Saat ini, K-Pop telah dikenal dan diterima oleh banyak orang di berbagai negara. Hal ini tentu terdapat berbagai pengaruh yang meluas seperti penggunaan bahasa. Namun, K-Pop yang merupakan grup band berasal dari negeri yang terkenal monokultur, justru ikut menyesuaikan atas perkembangan arus globalisasi yang telah di sebarkan melalui lagu-lagu yang diciptakan. Penyesuaian atau percampuran bahasa Korea dan bahasa Inggris kini menjadi tren terbaru mereka. K-Pop generasi 4, menggunakan lirik bahasa Inggris dalam lagunya bukan hanya sebatas dalam judul lagu saja. Namun, sebuah riset yang dilakukan oleh Kim Jin Woo dari Circle Chart, dikutip Asia Kyungjae menyatakan, terdapat penggunaan lirik lagu berbahasa Inggris dalam 400 lagu K- Pop teratas di Circle Chart (data dari periode paruh pertama 2023) mencapai angka 41,3%. Jika dibandingkan dengan penggunaan bahasa Inggris dari sampel data yang sama di tahun 2018, terjadi peningkatan sebesar 18,9. IVE menjadi grup K-Pop generasi 4 yang paling sedikit menggunakan lirik bahasa Inggris dalam lirik lagu mereka yakni hanya sekitar 24,9%, meski semua judul lagu hits mereka menggunakan bahasa Inggris. Sementara girlband yang paling banyak menggunakan lirik bahasa Inggris adalah (G)I-DLE yang mencapai 53,6%. Selain (G)I- DLE, terdapat grup K-Pop LE SSERAFIM yang menginjak angka 50,6 persen, BLACKPINK pascasukses internasional menginjak angka 50 %, NMIXX 49,3%, dan NewJeans 48,4%. I, You, Like, Love, dan kata-kata dengan sentimen serupa adalah yang paling banyak digunakan (Yusron, 2024).
Penggunaan bahasa Inggris dalam percampuran dua bahasa tersebut sangat lebih mudah dimengerti oleh banyak fans K-Pop. Karena hal ini bukan hanya sebatas lagu yang didengarkan saja. Masuknya budaya K-Pop dalam masyarakat dunia menjadikan multikulturalisme dapat menyebar. Bagi para penggemar K-Pop, penggunaan bahasa Inggris dapat menjadi alat komunikasi untuk menjelaskan kepada seseorang yang dianggap non-K-Pop. Dalam masyarakat Korea Selatan sendiri, tentu terdapat pengaruh yang lebih kuat atas lagu-lagu yang muncul dalam budaya mereka. Masyarakat yang awalnya terpolarisasi dengan satu bahasa atau monokultur, menjadi mengenal bahasa lain yang mana bahasa Inggris juga merupakan bahasa Internasional untuk berkomunikasi dengan orang asing atau multikultural. Masyarakat multikultural membutuhkan tempat yang harus diwadahi oleh negara. Meskipun Korea Selatan memiliki sejarah yang monokultur, namun perkembangan globalisasi harus di seimbangkan dengan apa yang saat ini terjadi. Hal ini merupakan bahasan dalam bidang sosial dan budaya, yang mana dalam hal tersebut negara harus memberi ruang atas dunia yang semakin terbuka. Apalagi Korea Selatan merupakan negara yang paling banyak dikunjungi oleh wisatawan atau turis dengan budaya K- Pop nya. Maka dari itu, warga negara Korea Selatan juga harus lebih terbuka atas soft power yang membuat banyak pengaruh budaya Korea Selatan menyebar ke seluruh dunia.
Oleh: INDAH TIARA DEWAYANTI – 202410360110137
Referensi dan bacaan lebih lanjut:
Armstrong, J. (2025). Konglish – Kata-kata Unik Korea-Inggris yang Akan Anda Dengar Setiap Hari. https://www.90daykorean.com/konglish/
Facette, F. F. (2021). Korsel Larang Kasih Pelajaran Bahasa Inggris, Mengapa? https://www.jawapos.com/internasional/0162029/korsel-larang-kasih-pelajaran-bahasa- inggris-mengapa
Haekal, S. (2021). Politik Kebudayaan Menggerakkan Transformasi Korea Selatan. https://ecatri.com/2021/09/04/politik-kebudayaan-menggerakkan-transformasi-korea- selatan/
Yusron, A. A. (2024). Lirik Bahasa Inggris di K-Pop Mulai Ganggu Pendengar Korea. https://www.detik.com/pop/korean-wave/d-7188010/lirik-bahasa-inggris-di-k-pop-mulai- ganggu-pendengar-korea/amp




