Sumber gambar: Pinterest
Multikulturalisme merupakan topik akademik yang menarik untuk ditulis, terutama jika dikaitkan dengan negara yang saat ini terkenal dengan penyebaran budayanya melalui soft power, seperti grup pop dan drama yang kini menjamur di berbagai negara, salah satunya Indonesia. Negara yang saat ini dikenal dengan pembahasan multikulturalismenya adalah Korea Selatan dengan K-Pop dan drama Korea-nya, membentuk sebuah komunitas yang disebut Kpopers yang merupakan penggemar grup Korea seperti Ateez, Blackpink, dan Gfriend, dsb. Oleh karena itu, tidak mengherankan jika banyak negara mulai melirik Korea Selatan sebagai negara yang ingin mereka kunjungi atau tinggali sebagai batu loncatan dalam bidang akademik, pekerjaan, atau bahkan hanya untuk berlibur. Korea telah lama digambarkan sebagai negara yang homogen secara ras, dengan budaya dan populasi yang serupa. Namun, akhir-akhir ini, Korea sering digambarkan sedang bertransformasi dengan cepat menjadi masyarakat multiras dan multikultural, karena jumlah warga negara asing yang tinggal di Korea telah mencapai satu juta orang, atau lebih dari dua persen dari total populasi. Menurut laporan Organisasi untuk Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD), Korea menerima 58.000 imigran jangka panjang atau permanen baru pada tahun 2022, meningkat 20% dibandingkan tahun 2021. Peningkatan ini mencerminkan meningkatnya keterbukaan Korea Selatan terhadap arus migrasi global. Namun, terlepas dari tren positif ini, beberapa masalah sosial muncul, seperti keterasingan sosial, diskriminasi, dan kesulitan imigran dalam beradaptasi dengan budaya dan norma lokal. Situasi ini menunjukkan adanya jarak sosial yang terus-menerus antara imigran dan penduduk asli.
Atas dasar hak asasi manusia dan demokrasi, dengan beberapa aktivis menuduh pemerintah dan masyarakat Korea memperlakukan pekerja asing sebagai budak dan penjahat. Namun, beberapa imigran yang datang ke Korea Selatan untuk tujuan selain bekerja terkadang sudah memiliki jaringan sosial dengan penduduk lokal dan sebagian besar juga sudah melakukan riset mengenai daerah yang akan mereka tinggali. Sehingga sebagian besar dari mereka tidak terlalu merasa didiskriminasi oleh penduduk lokal, karena mereka sudah melakukan riset terlebih dahulu karena pada dasarnya cara pandang penduduk lokal terhadap imigran berbeda-beda di setiap negara, ada yang menerima namun ada juga yang tidak. Sebagian besar dari penduduk lokal melakukan diskriminasi terhadap kehadiran sesuatu yang baru yang tidak sesuai dengan budaya mereka, mereka merasa bahwa kehadiran imigran akan membuat mereka kehilangan budaya yang mereka pertahankan, misalnya seorang influencer Indonesia bernama Xaviera yang mendapatkan beasiswa di Universitas Yonsei, ia mengenakan hijab dan mendapatkan diskriminasi dari penduduk lokal, terutama mereka yang sudah berusia lanjut karena dianggap mencoreng budaya mereka dan menolak kehadiran budaya baru. Selain masalah diskriminasi, hal lain yang harus dihadapi para imigran adalah keterbatasan bahasa, karena sebagian besar imigran hanya menguasai tingkat bahasa tertentu dan tidak menguasainya sepenuhnya.
Menggunakan teori lintas budaya yang dipelopori oleh Young Yun Kim, yang menyatakan bahwa setiap individu di lingkungan asing akan mengalami proses adaptasi lintas budaya, merupakan upaya untuk membangun hubungan yang stabil dan saling menguntungkan dengan masyarakat tuan rumah. Teori adaptasi lintas budaya memandang proses ini sebagai perkembangan yang dinamis, di mana manusia secara alami berusaha mencapai keseimbangan batin ketika menghadapi situasi lingkungan yang seringkali bertentangan dengan nilai-nilai atau adat istiadat mereka. Proses adaptasi ini dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti kondisi lingkungan sosial, latar belakang etnis, dan kepribadian individu. Dalam beberapa kasus, keberhasilan adaptasi sangat bergantung pada keterbukaan, kekuatan, dan sikap positif individu imigran, yang memungkinkan mereka beradaptasi meskipun berada di lingkungan yang kurang menerima. Namun, ada juga situasi di mana perubahan adaptif minimal karena individu tersebut tinggal di komunitas etnis yang tertutup dan terlindungi dari tantangan budaya masyarakat tuan rumah. Proses adaptasi tidak hanya tentang penyesuaian sosial, tetapi juga melibatkan transformasi identitas pribadi. Ketika individu berusaha beradaptasi di masyarakat tuan rumah, mereka secara bertahap mengalami perubahan identitas yang halus dan seringkali tidak disadari, yang mengarah pada pembentukan kepribadian antarbudaya yang semakin meningkat, yang mampu menjembatani nilai-nilai budaya asal dan budaya baru. Dalam proses ini, individu mengembangkan kematangan persepsi dan emosional yang lebih baik serta pemahaman yang lebih mendalam tentang kondisi manusia universal. Pengalaman hidup yang penuh ketidakpastian dan tantangan di lingkungan baru justru mendorong individu untuk melampaui batas-batas budaya asal mereka. Meskipun identitas lama tidak sepenuhnya hilang, identitas tersebut bertransformasi dan menyatu dengan unsur-unsur budaya baru, membentuk identitas hibrida yang lebih terbuka, toleran, dan mampu menghargai perbedaan. Dengan demikian, teori ini menegaskan bahwa adaptasi lintas budaya yang berhasil menciptakan individu dengan pandangan hidup yang lebih luas dan empati terhadap keberagaman manusia.
Dari sini kita bisa memahami bahwa setiap individu akan mengalami diskriminasi atau tantangan ketika berpindah ke negara baru dengan budaya yang baru, namun hal ini bukan berarti dapat menjadikan suatu negara menjadi buruk dan rasis karena pada dasarnya mereka hanya ingin melindungi budayanya saja, namun seiring dengan perkembangan zaman dan globalisasi, kedatangan para imigran dan adaptasi budaya mulai menjadi suatu hal baru yang tidak sepenuhnya salah dan justru akan semakin mempererat multikulturalisme di suatu negara.
Oleh: Sabianti Oktavia Ramadhani – 202410360110047
Referensi dan bacaan lebih lanjut:
Anderson, L. E. (1994). A new look at an old construct: Cross-cultural adaptation. International journal of intercultural relations, 18(3), 293-328.
Han, K. K. (2007). Multiculturalism in Korea?” from. Archaeology of the Ethnically Homogeneous Nation-state and Multiculturalism in Korea-Korea Journal 47 (4), 1-33.
Kim, Y. Y. (2000). Becoming intercultural: An integrative theory of communication and cross-cultural adaptation. Sage Publications.
Moon, K. H. (2000). Strangers in the midst of globalization: Migrant workers and Korean nationalism. Korea’s globalization, 147-169
OECD. (2024). Korea International Migration Outlook 2024. OECD Publishing. Retrieved from https://share.google/UfKjjEC3KLxG96eoL
Seol, D. H. (2010). Which multiculturalism? Discourse of the incorporation of immigrants into Korean society. Korea observer, 41(4), 593-614.
Seol, D. H. (2006). Women marriage immigrants in Korea: Immigration process and adaptation. In Asia-Pacific Forum (Vol. 33, No. 0, pp. 32-58).




