Sumber gambar: Pinterest
Korea Selatan merupakan salah satu negara yang dikenal memiliki historis yang homogen hal tersebut bisa dilihat dari segi bahasa, etnis, maupun budayanya. Namun dalam dua dekade terakhir banyak keluha tentang perubahan wajah sosial Korea Selatan yang sangat pesat karena pengaruh dari globalisasi dan arus pendatang yang banyak berdatangan ke Korea Selatan terus meningkat tinggi. Adapun salah satu faktor yang melakukan pendorongan dalam keterbukaan yaitu berkembangnya budaya populer dari Korea Selatan atau yang biasa dikenal dengan Hallyu (Gelombang Korea), didalamnya terdapat musik K – pop, drama, film, hingga tren gaya hidup modern disana (Jin, 2016).
Budaya populer ini bukan hanya memiliki peran untuk menyebarkan budaya Korea di dunia, tetapi juga memiliki peran penting untuk terbentuknya kesadaran multikultural yang ada di dalam negeri. Multikulturalisme sering kali diartikan sebagai sebuah kondisi yang dimana jika berbagai kelompok budaya bisa hidup berdampingan dengan cara saling menghormati dan saling berinteraksi tanpa harus mengilangkan identitas masing – masing (Shin et al., 2021). Artikel ini didalamnya akan membahas tentang bagaimana budaya populer bisa berkontribusi dengan perkembangan multikulturalisme di Korea Selatan lewat media, industri hiburan, dan perubahan sosial dalam masyarakat.
Budaya populer memiliki tempat sebagai ruang interaksi global. Munculnya fenomena Hallyu telah membuat budaya Korea dapat menembus batas negara dan banyak menjangkau audiens global dari sejak awal tahun 2000 – an. K – pop merupakan salah satu yang menjadi simbol keterbukaan budaya Korea. Adapun beberapa idol Korea yaitu BTS, BLACKPINK, dan NCT, mereka bukan hanya menyebarkan musik korea saja, namun mereka juga menjalin kolaborasi dengan artis dari berbagai negara seperti Halsey, Nicki Minaj, dan Selena Gomez (Oh, 2021). Dalam kerjasama lintas negara tersebut bisa memperlihatkan tentang bagaimana insutri hiburan yang ada di Korea dapat beradaptasi dengan nilai – nilai multikultural dan global.
Dengan hadirnya para anggota non – Korea di dalam grup K – pop juga menjadikan bukti tentang bagaimana inklusivitas budaya populer. Ada beberapa contoh idol yaitu Lisa BLACKPINK yang berasal dari Thailand dan Mark NCT yang berasal dari Kanada hal tersebut dapat melihatkan tentang bagaimana Korea bisa menerima talenta dari berbagai latar belakang etnis (J. Kim et al., 2022). Hal ini bukan hanya sekedar menjadi strategi pasar saja, melainkan juga dapat menunjukkan tentang transformasi nilai sosial jika keberagaman bisa memperkuat daya tarik budaya.
Terdapat representasi multikultural yang ada di media dan film, adanya perubahan pandangan pada keberagaman juga bisa diliat lewat representasi orang asing terhadap film dan drama Korean. Pada saat era 1990 – an, karakter yang bukan orang Korea sering kali mendapat kecaman secara stereotipikal dan kurang realistis. Karena hal tersebut media sudah mulai menampilkan mereka dengan pendekatan yang lebih manusiawi. Film Minari pada tahun 2020 yang disutradarai oleh Lee Isaac Chung, didalamnya menggambarkan tentang perjuangan keluarga imigran yang berasal dari Korea di Amerika Serikat (F et al., 2024), dengan memperlihatkan nilai – nilai universal yaitu kerja keras, cinta keluarga, dan adaptasi budaya.
Sementara itu, ada juga drama seperti Crash Landing on You pada tahun 2019 dan Hometown Cha – Cha – Cha pada tahun 2021 didalamnya menujukkan tentang bagaiman interaksi yang terjadi antara budaya dan berbagai latar sosial dengan membangun nuansa yang positif. Narasi seperti ini bisa membantu masyarakat Korea untuk bisa paham tentang keberagaman bukanlah sebuah ancaman, namun menjadikan kesempatan untuk belajar dan terus berkembang (A. Kim, 2018). Didalam ini media massa memiliki peran yang sangat penting untuk membentuk opini publik tentang bagaimana menerima budaya asing.
Budaya juga sangat populer dikenal sebagai alat diplomasi dan pendidikan multikultural. Selain memiliki peran sebagai hiburan, budaya populer juga memiliki peran sebagai intrumen dalam diplomasi budaya Korea. Pemerintah dengan aktif sangat mendukung dalam penyebaran K – pop dan draman dengan melewati kebijakan promosi internasional, karena hal tersebut terbukti efektif bisa meningkatkan citra positif negara. Lewat popularitas budaya tersebut membuat masyarakat Korea kini lebih terbuka dalam gagasan dan nilai – nilai luarnya (H. Kim, 2022).
Membahas lebih jauh lagi, jika budaya populer mulai banyak dimanfaatkan dalam sektor pendidikan formal dan informal. Sekolah – sekolah di Korea telah menggunakan film dan musim dalam mengajarkan bagaimana toleransi dan menghargai perbedaan. Fandom internasional yang mulai terbentuk lewat media sosial juga telah menciptakan ruang untuk interaksi lintas negara, yang dimana remaja Korea bisa berkomunikasi langsung dengan berbagai penggemar dari berbagai budaya. Fenomena ini dapat menjadi budaya populer sebagai medium edukatif yang efektif dalam membangun kesadaran global (Han, 2023).
Memiliki tantangan menuju masyarakat yang multikultural, meski telah terjadi kemajuan, namun realitas sosial masih menunjukkan bahwa penerimaan terhadap multikulturalisme di Korea masih belum rata. Masih adanya dikriminasi terhadap pekerja migran, terutama di Asia Tenggara, serta stigma dalam keluarga campuran. Masih banyak anak hasil pernikahan multikultural mengalami berbagai kesulitan seperti dalam sistem pendidikan karena mereka menganggap berbeda. Namun, generasi muda telah menunjukkan perubahan positif nya mereka yang bisa tumbuh dengan akses internet dan budaya global yang lebih terbuka terhadap keberagaman. Budaya populer juga menjadi katalis penting yang dapat membantu masyarakat Korea dalam memahami bahwa dunia modern adalah ruang yang saling terhubung, dan keberagaman adalah bagian alami dari identitas nasional yang baru (Han, 2023).
Budaya populer telah mejadi suatu kekuatan sosial yang bisa membentuk wajah baru Korea Selatan. Melalui K – pop, film, dan drama membuat nilai – nilai jeterbukaan, tolerasi, dan penghargaan terhadap perbedaan semakin mengakar di dalam masyarakat. Korea kini telah bergerak dari masyarakat hompgen menuju pada komunitas multikultural yang lebih inklusif dan dinamis.
Peran budaya populer tidak hanya untuk menciptakan suatu kebanggan nasional saja, melainkan juga dapat membangun jembatan antar budaya yang dapat memperkuat hubungan antar bangsa. Transformasi ini telah menunjukkan bahwa budaya bisa menjadi sarana yang efektif untuk memperkuat nilai – nilai kemanusiaan, menjadikan Korea Selatan sebagai contoh nyata tentang keberhasilan dalam mengintegrasikan multikulturalisme melalui kekuatan budayanya.
Oleh: Dhimas Luhung Prayoga – 202210360311284
Referensi dan bacaan lebih lanjut:
F, F., F, F., & F, F. (2024). Examining the Role of Social Capital and Socioeconomic Status on Anti-Foreigner Sentiment in South Korea. Korea Observer – Institute of Korean Studies, 55(1), 131–158. https://doi.org/10.29152/KOIKS.2024.55.1.131
Han, M. , & S. E. (2023). Multicultural Education through Korean Popular Culture. Korean Journal of Education Studies, 41(2), 89–104.
Jin, D. Y. (2016). New Korean Wave. University of Illinois Press. https://doi.org/10.5406/illinois/9780252039973.001.0001
Kim, A. (2018). Social Exclusion of Multicultural Families in Korea. Social Sciences, 7(4), 63. https://doi.org/10.3390/socsci7040063
Kim, H. (2022). Soft Power and the Globalization of Korean Culture. Journal of International Relations in East Asia, 10(1), 67–84.
Kim, J., Kim, K., Park, B., & Choi, H. (2022). The Phenomenon and Development of K-Pop: The Relationship between Success Factors of K-Pop and the National Image, Social Network Service Citizenship Behavior, and Tourist Behavioral Intention. Sustainability, 14(6), 3200. https://doi.org/10.3390/su14063200
Oh, I. , & P. G. (2021). Cultural Hybridity and the Korean Wave. Global Media and Communication: Vol. 17(4).
Shin, J., Lee, H., Choi, E. K., Nam, C., Chae, S.-M., & Park, O. (2021). Social Determinants of Health and Well-Being of Adolescents in Multicultural Families in South Korea: Social-Cultural and Community Influence. Frontiers in Public Health, 9. https://doi.org/10.3389/fpubh.2021.641140




