MULTIKULTURALISME BUDAYA KOREA SELATAN

Sumber gambar: Pinterest

 

Korea Selatan merupakan suatu negara yang monoras dan monokultur pada awalnya. Namun, seiring berjalannya waktu pada tahun 2006 Pemerintah melakukan pengumuman bahwa Korea Selatan mengalami perubahan menjadi masyarakat yang multikultural. Dalam hal ini, Pemerintah Korea Selatan memiliki komitmen dalam memberikan dukungan terhadap integrasi social masyarakat asing di dalam masyarakat lokal melalui pembentukan kebijakan yang di sebut sebagai kebijakan multikultural (Hasby, Kurnia, & Rusdiati, 2025). Deklarasi yang dikeluarkan oleh Pemerintah menimbulkan munculnya wacana multikulturalisme di Korea. Wacana ini menjadi bentuk respon pemerintah Korea Selatan terhadap peningkatan jumlah imigran asing yang terus memasuki Korea Selatan. 

Di samping itu, wacana multikulturalisme di Korea Selaan memiliki peran untuk mengatasi adanya konlik diskriminasi yang terjadi pada para imigran asing. Fenomena peningkatan imigran asing di Korea Selatan dilatar belakangi oleh peningkatan kebutuhan buruh di industry manufaktur, dimana industri ini sangat kurang diminati oleh masyarakat lokal. Sejak pendeklarasian wacana multikulturalisme oleh pemerintah Korea Selatan, wacana multikulturalisme menjadi sebuah agenda nasional. Dalam Bahasa Korea Selatan, multikulturalisme sendiri disebut dengan damunhwa. Hal ini menjadi topik perbincangan seluruh elemen, terutama bagi media yang mana menjadi alat untuk melakukan promosi dan pendistribusian wacana multikultaslisme Korea Selatan terhadap masyarakat dengan efektif (Iqbal, 2018).

Saat ini penduduk asing di Korea Selatan sendiri telah mencapai hampir 3% dari populasi homogen Korea Selatan. Oleh karena itu, pemerintah Korea Selatan menganggap wacana multikulturalisme merupakan hal yang sangat penting dan serius. Sehingga, sangat penting untuk melakukan analisis secara mendalam terhadap bagaimana wacana multikulturalisme ini berlangsung di tengah masyarakat yang semula merupakan masyarakat homogen.

Meninjau multikulturalisme Korea Selatan, pemerintah Korea Selatan terus melakukan upaya menggerakkan kebijakan multikulturalisme di negaranya yang merupakan negara monokultur atau satu suku bangsa. Meninjau jumlah penduduk asing yang berada di Korea Selatan mencapai 2.507.584 pada akhir tahun 2024. Walaupun mengalami penurunan pada masa Pandemi Covid-19 jumlah penduduk asing dari 4,86% pada 2019 mengalami peningkatan pada tahun 2023 menjadi 4,89%. Berdasarkan data OECD (Organisasi Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi) suatu negara dapat disebut sebagai negari multicultural apabila memiliki jumlah penduduk dengan latar belakang imigran lebih dari 5% (Ri, 2024). 

Menurut data statistik yang ada, sebanyak 75% penduduk asing di Korea Selatan merupakan penduduk yang tinggal dalam jangka waktu panjang atau tinggal selama lebih dari 90 hari dan 25% sisanya merupakan penduduk asing yang tinggal dalam jangka waktu pendek. Kemudian, dari sisi kewarganegaraan, warga negara yang berasal dari Tiongkok menduduki tingkat penduduk asing terbanyak yang menetap di Korea Selatan mencapai 942.395 jiwa, kemudian Vietnam mencapai 271.712, Thailand mencapai 202.121, Amerika Serikat mencapai 161.895, dan warga negara Uzbekistan mencapai 87.698 (Rueanjun, 2023). 

Meninjau mulai banyaknya penduduk imigran memasuki Korea Selatan, pemerintah memiliki perencanaan dasar kebijakan yang berkaitan dengan penduduk asing selama rentang waktu 2023-2027 mencakup kebijakan terpadu yang berkaitan dengan imigran dan membentuk fasilitasi imigrasi. Dalam hal multicultural, masyarakat multikulturalisme mempunyai toleransi terhadap orang baru atau orang asing dengan latar belakang yang berbeda dengan mereka. Dalam masyarakat multicultural juga diharuskan dapat lebih terbuka terhadap budaya asing yang masuk bersamaan datangnya penduduk asing (Thammyvienvip, 2024). 

Multikulturalisme yang berkembang di Korea Selatan merupakan bentuk gagasan dalam melakukan perayaan atas keberagaman etnokultural dan memberikan dorongan masyarakat dalam menerima dan menghargai makanan, agama, tradisi, dan music dari beberapa budaya lain dari Korea Selatan. Dalam pengaplikasiannya, proses multikulturalisme di Korea Selatan tidak dapat dipisahkan dari tantangan historis dan sosial yang cukup kompleks. Pemerintah Korea Selatan juga melakukan integrasi nilai-nilai multicultural ke dalam kurikulum Pendidikan. 

Disamping itu juga masih terlihat tindakan diskriminasi terhadap penduduk asing yang berlatar belakang beda khususnya pada para pengungsi Korea Utara. Dalam hal ini diskriminasi terjadi merujuk pada perbedaan aksen Bahasa dan adanya perbedaan latar belakang dari aspek sosial-ekonomi yang memang jauh tertinggal di bandingkan dengan Korea Selatan. Hal ini mengakibatkan para pengungsi Korea Utara seringkali merasa terisolasi di antara masyarakat Korea Selatan (Korean Center Indonesia, 2018). Kemudian, adanya sikap xenophobia menjadikan hal ini hambatan terbesar dalam melakukan pengembangan multikulturalisme di Korea Selatan. Dimana nasionalisme dan etnosentrisme telah mengakar kuat di dalam identitas nasional semakin menguatkan pandangan terkait keanekaragaman dan dinilai sebagai bentuk ancaman akan keberlanjutan budaya Korea Selatan. Meskipun demikian, Korea Selatan masih memiliki peluang untuk melakukan penerimaan atas heterogenitas sosial yang terus mengalami peningkatan dan dapat melakukan pengembangan visi baru terkait multikulturalisme (Putri, 2025).

Berdasarkan pembahasan di atas, dapat disimpulkan bahwa multikulturalisme budaya di Korea Selatan masih berada pada proses yang cukup sulit untuk dapat tercapai dengan sukses. Hal ini dikarenakan sejarah Korea Selatan yang merupakan masyarakat monokultur dan telah mengakar kuat dalam identitas nasional Korea Selatan yang mengakibatkan sulit tercapainya multikulturalisme. Namun, disamping tantangan tersebut pemerintah Korea Selatan masih memiliki peluang untuk melakukan penerimaan atas heterogenitas sosial yang terus mengalami peningkatan dan dapat melakukan pengembangan visi baru terkait multikulturalisme. Dalam hal ini juga membutuhkan kerja sama dengan masyarakat agar dapat tercapai sesuai sasaran dan rencana awal.

Oleh: N. Deva Agus Saputra – 202210360311116

Bacaan lebih lanjut:

Anindita, V. (2020). Gelombang Pengungsi Korea Utara di Korea Selatan: Politik Domestik, Integrasi, dan Permasalahan Sosial. Jurnal Hubungan Internasional□ Tahun XIII, (2), 279.

Hasby, F., Kurnia, L., & Rusdiati, S. R. (2025). Analisis Struktural Wacana Multikultural dalam TV Show Korea My Neighbor Charles. Jurnal Desain, 12(3), 623-642.

Iqbal, M. (2018). Integrasi dan Adaptasi SOsial Migrant di Korea Selatan. Jurnal Ilmu Kesejahteraan Sosial, 19(1), 23-34.

Korean Center Indonesia. (2018, Juni 21). Korean Center Global Network. Retrieved November 11, 2025, from id.koreancenter.net: http://id.koreancenter.net/2018/06/multikulturalisme-di-korea.html

Putri, N. E. (2025). Multikulturalisme di Korea Selatan dan Tantangannya di Tengah Homogenitas Budaya. Malang: Hanchingu.

Ri, P. H. (2024, Januari 17). KOREA.net. Retrieved November 10, 2025, from indonesian.kore.net: https://indonesian.korea.net/NewsFocus/Society/view?articleId=245563

Rueanjun, K. (2023). Institute of Asian Studies . Retrieved from ias.chula.ac.th: http://ias.chula.ac.th/en/article/understanding-korea-multicultural-korea/

Thammyvienvip. (2024, December 29). thammyvienvip. Retrieved November 11, 2025, from thammyvienvip.com: http://thammyvienvip.com/budaya-dari-korea-selatan-menjaga-tradisi-di-era-modern/ 

Thalib, A. A. (2018). Film dan Identitas Nasional Korea Selatan: Studi Komparasi pada Film My Little Hero dan Secretly Greatly. Satwika: Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial2(1), 36-46.

Yunia, L. (2023). Analisis Resepsi Pasangan Pernikahan Beda Negara Terhadap Multikulturalisme Dalam Vlog Kimbab Family. Jurnal Ilmiah Wahana Pendidikan9(19), 464-475.

Zahra, A. A. (2024, November 26). Rasisme di Korea Selatan: Tantangan Menuju Masyarakat Multikultural. Malang: Hanchingu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *