Sumber gambar: Pinterest
Artikel ini akan membahas pernikahan internasional sebagai salah satu faktor yang mendorong multikulturalisme di Korea Selatan. Secara historis, negara ini merupakan negara yang homogen dalam hal etnisitas maupun budaya. Tren terbaru di negara ini meliputi penuaan populasi, tingkat kelahiran yang rendah, menikah di usia lanjut, serta kekurangan tenaga kerja manusia. Hal ini telah menyebabkan peningkatan fenomena pernikahan internasional antara warga Korea dan wanita dari negara-negara seperti Vietnam, Filipina, China, serta Thailand. Artikel ini akan membahas bagaimana pernikahan internasional di negara ini telah mengubah masyarakat Korea, membentuk kembali identitas nasional negara ini, serta mendorong inisiatif yang mempromosikan keluarga multikultural di negara ini. Artikel ini juga akan mengeksplorasi kesulitan yang dihadapi oleh istri-istri internasional serta anak-anak internasional dalam pernikahan internasional di Korea Selatan.
Hampir setiap negara di dunia telah menemukan cara untuk menerapkan multikulturalisme guna memastikan adanya tingkat harmonisasi tertentu yang didorong oleh faktor, baik sosial maupun ekonomi. Multikulturalisme dapat dengan mudah menimbulkan konflik antar kelompok jika tidak ada dukungan pemerintah dalam bentuk kerangka kerja yang jelas. Hal ini terutama karena negara seharusnya memastikan bahwa setiap kelompok diberikan kesempatan tertentu untuk berinteraksi satu sama lain. Dalam kasus Korea Selatan, kerangka kerja semacam itu menjadi semakin penting seiring dengan terus bertambahnya jumlah keluarga multikultural.
Pernikahan internasional mulai berkembang pesat di masyarakat Korea Selatan sejak tahun 1990-an. Beberapa pria Korea, terutama dari daerah pedesaan, mencari layanan perjodohan internasional dalam upaya untuk mendapatkan istri asing. Dari sudut pandang pria Korea, kombinasi faktor sosial, demografis, dan ekonomi, berkontribusi terhadap keterlibatan pria dalam pernikahan internasional. Di sisi lain, sebagian besar wanita mengaharapkan bahwa menikahi pria Korea akan membantu mereka meningkatkan status sosial dan ekonomi mereka.
Faktor-faktor ini membawa perubahan struktural besar dalam masyarakat Korea. Karena munculnya keluarga multikultural dalam masyarakat Korea, apa yang dianggap konvensional dan apa yang diidentifikasi sebagai Korea perlu dinegosiasikan ulang, karena orang-orang dari berbagai lapisan masyarakat terlibat dalam hubungan ini. Keluarga multikultural dalam hal ini mewakili bentuk perubahan sosial yang radikal dalam masyarakat yang selama ini dikenal sebagai salah satu Masyarakat yang homogen.
Namun, tidak semuanya berjalan lancar seperti yang diharapkan. Sebagian besar istri asing mengalami diskriminasi dalam satu atau lain bentuk. Harus belajar beradaptasi dengan budaya Korea adalah hal yang tak terhindarkan. Anak-anak multikultural mengalami kesulitan di sekolah, baik karena perbedaan bahasa maupun perbedaan fisik.
Sebagai repons terhadap tantangan ini, pemerintah Korea Selatan mengesahkan undang-undang untuk membantu integrasi keluarga multikultural ini. Ini merupakan indikator penerimaan keragaman sebagai kenyataan baru yang tak terelakan, bukan sebagai masalah. Pemerintah telah mendirikan sejulam Pusat Dukungan Keluarga Multikultural yang menawarkan pelatihan bahasa Korea serta pemahaman tentang budaya Korea, selain yang ditawarkan kepada keluarga asing. Kebijakan-kebijakan ini mencerminkan penerimaan nasional yang semakin meningkat terhadap multikulturalisme sebagai bagian esensial dari evolusi sosial korea.
Koneksi dengan masyarakat dan empati adalah kunci untuk memimpin masyarakat multikultural dalam keadaan damai. Sebuah masyarakat yang berfungsi dengan baik didasarkan pada nila-nilai kasih sayang, empati, serta kesatuan, bukan kesamaan budaya. Tingginya tingkat depresi, isolasi sosial, dan bunuh diri di Korea menujukkan masyarakat yang terpecah. Tentu saja, masyrakat multikultural juga harus dibangun. Pertama-tama, hal ini harus dilakukan atas nama keluarga Multikultural.
Keragaman dalam Kerangka Multikultural di Asia Timur, khususnya di negara-negara Asia Timur seperti Korea Selatan dan Jepang, terdapat sejarah etnonasionalisme yang cukup panjang serta konsep garis keturunan yang murni. Karena alasan ini, terdapat tingkat resistensi sosial yang cukup besar terhadap penerimaan multikulturalisme di wilayah ini. Namun, dalam kasus kedua negara ini, hal ini menjadi jelas akibat penuaan populasi dan kekurangan tenaga kerja. Akibatnya, dalam kasus Korea Selatan, keluarga asing di negara ini menjadi manifestasi nyata dari fakta ini. Demografi, meskipun terdapat bias yang cukup signifikan serta stereotip tertentu yang terkait dengan isu ini, multikulturalisme tetap menjadi kebutuhan daripada pilihan. Pernikahan internasional dalam kasus ini dapat dianggap sebagai langkah pertama yang signifikan menuju masyarakat Korea multietnis.
Peningkatan jumlah pernikahan internasional di Korea Selatan tidak hanya menjadi masalah sosial, karena pernikahan internasional di negara ini menandakan transformasi truktural dalam masyarakat yang secara etnis homogen. Melalui pernikahan internasional, negara ini secara perlahan mengatasi kondisi globalisasi, penurunan populasi, dan menerima keragaman dalam masyarakat. Keluarga multikulrual di negara Korea ini menantang ideologi yang telah lama dianut di negara ini terkait dengan identitas nasional Korea di era baru ini. Mekipun fenomena keluarga multikultural di negara ini menghadapi kesulitan dalam komunikasi sosial, diskriminasi, serta penyesuaian terhadap budaya baru, rekasi pemerintah terhadap inisiatif keluarga multikultural di negara ini menandakan bahwa penerimaan sebagai masalah nasional perlahan-lahan menjadi kenyataan di negara ini. Terkahir, pernikahan internasional di negara Korea tidak hanya menawarkan solusi untuk masalah demografi negara, solusi yang merupakan hasil dari kebutuhan negara ini, tetapi juga janji transformasi sosial di negara ini.
Oleh: Devina Luthfiyana Izzah – 202410360110080
Referensi dan bacaan lebih lanjut:
Aulia, D., Lubis, F. O., & Kusumaningrum, R. (2022). Multikultural pada pasangan beda warga negara Indonesia–Korea Selatan. Nusantara: Jurnal Ilmu Pengetahuan Sosial, 9(9), 3279–3285. https://jurnal.um-tapsel.ac.id/index.php/nusantara/article/view/7950
Kim, H. R. (2009). Contested governance in the making of multicultural societies: Labor migration and international marriages in South Korea. Korea Observer, 40(2), 273–300. https://www.researchgate.net/profile/Hyuk-Rae-Kim/publication/281446060_Contested_Governance_in_the_Making_of_Multicultural_Societies_Labor_Migration_and_International_Marriages/links/55fa648708aeba1d9f3114d8/Contested-Governance-in-the-Making-of-Multicultural-Societies-Labor-Migration-and-International-Marriages.pdf
Koh, M. (2018). Marriage migration of women and making a multicultural society in South Korea (Doctoral dissertation, The Ohio State University). https://etd.ohiolink.edu/acprod/odb_etd/etd/r/1501/10?clear=10&p10_accession_num=osu1524087991212587
Salsabila, A. R. (2022). Fenomena gukje kyeolhon (pernikahan antarbangsa) pada pasangan Indonesia–Korea Selatan (Doctoral dissertation, Universitas Nasional). https://repository.unas.ac.id/id/eprint/5456/
Yunia, L. (2023). Analisis resepsi pasangan pernikahan beda negara terhadap multikulturalisme dalam vlog Kimbab Family. Jurnal Ilmiah Wahana Pendidikan, 9(19), 464–475. http://jurnal.peneliti.net/index.php/JIWP/article/view/5180




