Misaeng: Incomplete Life – Potret Perjuangan Pekerja dalam Dunia Kerja Neoliberal Korea

Picture source: WeTV

Serial drama Misaeng: Incomplete Life merupakan salah satu drama Korea bergenre Slice of life yang ditayangkan pada 2014 di stasiun tvN Korea Selatan. Diadaptasi dari webtoon populer karya Yoon Tae-ho dan mendapat banyak perhatian karena penggambarannya yang realistis dan menyentuh tentang kehidupan kerja di perusahaan besar. Jang Geu-rae (diperankan oleh Im Si-Wan) harus menyerahkan mimpinya untuk menjadi pemain baduk international saat ia kehilangan sosok sang ayah dikehidupannya dan finansial yang kurang memadai. Sehingga membuat Geu-rae terjun menjadi seorang karyawan di perusahaan perdangangan internasional bernama ONE International. Membuatnya memahami kehidupan yang seperti saat ini ia jalani harus memiliki strategi seperti permainan baduk untuk membuatnya bertahan dalam menjalankan segala rintangannya. Saat pertama bergabung di perusahaan ini ia mengalami pengucilan oleh rekan-rekan sesama nya karena latar belakang pendidikannya yang hanya Paket C serta lolosnya ia di perusahaan ini. Namun seiring berjalannya waktu Geu-rae mampu diterima karena ke gigihan, kesabarannya serta kebijaksanaannya mampu membuat orang disekitarnya bisa menilai ketulusannya. Namun sayangnya setelah lolos dari masa magang, geu-rae hanya menjadi karyawan kontrak selama dua tahun. 

Drama ini secara eksplisit disebut sebagai salah satu contoh dari “new type of workplace dramas” yang mencerminkan perubahan budaya kerja pasca-krisis finansial Asia 1997–1998, khususnya dalam konteks Korea Selatan yang mengalami transformasi ekonomi besar akibat intervensi IMF. Dalam drama ini Misaeng dapat dibaca sebagai kritik sosial terhadap dunia kerja neoliberal yang mengedepankan fleksibilitas tenaga kerja, persaingan individual, dan dehumanisasi hubungan kerja. Krisis ekonomi Asia 1997 menghantam Korea Selatan secara telak dan memaksa pemerintah menerima bailout dari IMF. Sebagai syaratnya, negara ini harus menerapkan berbagai kebijakan neoliberal, termasuk liberalisasi pasar tenaga kerja, privatisasi BUMN, dan deregulasi ekonomi. Hasilnya, banyak perusahaan memberlakukan sistem kerja kontrak dan menurunkan jaminan kerja tetap. Dalam konteks ini, lahirlah generasi pekerja muda yang menghadapi ketidakpastian kerja, tekanan performa tinggi, dan ekspektasi sosial yang kaku serta tema yang diangkat dengan kuat dalam Misaeng.

Dalam perusahaan tempat Geu-rae bekerja para pegawai kontrak diperlakukan sebagai kelas kedua, diabaikan dalam pengambilan keputusan, dan harus terus-menerus membuktikan nilai mereka demi peluang kerja tetap. Pengalaman ini sangat representatif dari “precarity” atau ketidakpastian hidup yang dihasilkan oleh sistem kerja fleksibel neoliberal. Lebih jauh, drama ini juga mengeksplorasi bagaimana solidaritas antar pekerja menjadi senjata untuk bertahan di tengah sistem yang memecah dan memperlemah kolektivitas pekerja. Berbeda dengan drama Korea tradisional yang sering bersifat escapist dan penuh glamor, Misaeng justru mendapat pujian karena realisme naratif dan visualnya. Drama ini tidak menampilkan kisah romansa yang didramatisasi atau karakter antagonis yang terlalu stereotipikal. Sebaliknya, ia membangun ketegangan naratif dari konflik sehari-hari: tekanan tenggat waktu, kesenjangan antar departemen, atau ketidakadilan manajerial.

Hal ini menjadikan Misaeng sebagai kritik sosial yang tajam namun subtil terhadap ideologi meritokrasi dan sistem kerja kapitalistik. Drama ini mengangkat isu-isu seperti beban emosional pekerja perempuan, ekspektasi gender dalam ruang kerja, serta dilema moral dalam menjalankan tugas profesional di bawah tekanan atasan. Semua ini menambah kompleksitas narasi dan mengukuhkan Misaeng sebagai refleksi otentik dari kehidupan kerja di bawah sistem neoliberal Korea. Selain itu, Misaeng juga mengkritik budaya kerja yang menuntut dedikasi total dari para pekerjanya. Adegan-adegan yang menunjukkan Geu-rae bekerja lembur hingga larut malam dan menahan rasa lapar demi menyelasikan proyek atau merelakan waktu pribadi demi kepentingan perusaahan yang mencerminkan realitas yang dialami oleh banyak pekerja di Korea Selatan. Fenomena ini sering dikenal sebagai gapjil (kebiasaan bekerja berlebihan) yang sering kali menyebabkan stres, depresi, dan rasa ingin bunuh diri. Meskipun Misaeng berlatar di Korea Selatan tetapi isu-isu yang diangkat dalam drama ini bersifat universal. Banyak negara di seluruh dunia menghadapi tantangan serupa dalam dunia kerja. Drama ini mengundang refleksi tentang bagaimanan sistem ekonomi neoliberal telah mengubah cara orang bekerja dan hidup dan sering kali mengorbankan kesejahteraan individu.

Di sisi lain, Misaeng juga menawarkan pesan harapan meskipun Geu-rae menghadapi banyak rintangan. Ia tetap teguh pada prinsipnya dan terus berusaha untuk berkembang dan tidak putus asa. Menunjukkan bahwa meskipun sistem mungkin tidak adil, individu masih dapat menemukan makna dan kepuasan dalam pekerjaan mereka melalui dedikasi dan kerja keras. Keberhasilan Misaeng tidak hanya terletak pada temanya yang kuat tetapi juga pada pendekatan naratifnya yang realistis dan humanis. Drama ini menghindari sensasionalisme atau dramatisasi berlebihan, melainkan fokus pada detail kecil yang membuat cerita terasa autentik. Misalnya, dialog-dialog dal am drama ini sering kali mencerminkan percakapan sehari-hari di tempat kerja sementara adegan-adegan emosional disampaikan dengan nuansa yang halus namun mendalam. Produksi berkualitas tinggi juga menjadi salah satu faktor yang membuat Misaeng sukses. Penulis naskah Yoon Sung-eun dan sutradara Kim Won-seok berhasil menciptakan dunia yang realistis dan relevan dengan karakter-karakter yang kompleks dan multidimensi. Para aktor, termasuk Im Si-wan yang memerankan Jang Geu-rae, memberikan penampilan yang sangat meyakinkan, sehingga penonton dapat merasakan emosi dan perjuangan karakter-karakter tersebut.

 

Oleh: Resta Athaya Rayssa

 

Bacaan lebih lanjut:

Chang, H.-J. (2002). Kicking away the ladder: Development strategy in historical perspective. Anthem Press.​

Fadhil. (2022, Juni 10). Fenomena ‘Gapjil’ di Korea soal orang kaya yang arogan, apakah ada juga di Indonesia? Froyonion. Diakses 25 April 2025, dari https://www.froyonion.com/news/esensi/fenomena-gapjil-di-korea-soal-orang-kaya-yang-arogan-apakah-ada-juga-di-indonesia

Jin, D. Y. (2019). Korean webtoonist Yoon Tae Ho: History, webtoon industry, and transmedia storytelling. International Journal of Communication, 13, 2216–2230.

Standing, G. (2011). The precariat: The new dangerous class. Bloomsbury Academic.​

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *