Hibriditas Budaya Dalam Adaptasi Manhwa ke Anime : Praktik Multikulturalisme dan Diplomasi Budaya Korea Selatan Melalui Adaptasi Solo Levelling

Sumber gambar: Pinterest

 

Korea Selatan dalam dua dekade terakhir telah menjelma menjadi kekuatan budaya global melalui gelombang Hallyu, yang meliputi music, drama, hingga webtoon. Fenomena ini tidak hanya memperluas pengaruh ekonomi dan diplomatik Korea Selatan, tetapi juga menjadi bukti bahwa budaya pop mempu berperan sebagai instrumen soft power di tingkat internasional. Salah satu bentuk terbaru dari ekspansi budaya tersebut adalah adaptasi manhwa popular Solo Levelling menjadi anime atau animasi Jepang yang diproduksi oleh studio animasi A-1 Pictures. Proyek lintas negara ini menandai bentuk konkret dari kerja sama budaya antara Korea dan Jepang, dua negara dengan sejarah politik yang kompleks namun saling terhubung secara industry kreatif.

Namun, dibalik kolaborasi ini muncul perdebatan tentang multikulturalisme dan identitas budaya : sejauh mana unsur “Korea” dapat bertahan dalam proses produksi global yang didominasi gaya anime Jepang? Kasus Solo Levelling menjadi contoh menarik bahwa bagaimana interaksi budaya dapat menghasilkan bentuk hybrid yang menembus batas nasional sekaligus menimbulkan ketegangan baru sntara otentisitas dan komersialisasi. Tulisan ini berupaya menganalisis adaptasi tersebut melalui perspektif multikulturalisme dan kerja sama budaya di era globalisasi.

Multikulturalisme pada dasarnya menekankan koeksistensi berbagai identitas dan ekspresi budaya dalam satu ruang sosial tanpa menghapus perbedaan yang ada. Menurut Onjung Yang (2017), multikulturalisme di Korea Selatan berkembang bersamaan dengan meningkatnya arus globalisasi dan migrasi, sehingga memunculkan kebutuhan untuk menegosiasikan identitas nasional budaya local di tengah keberagaman baru. Dalam konteks budaya populer, konsep ini tampak melalui interaksi lintas budaya yang menghasilkan bentuk hibriditas, yakni percampuran unsur local dan global dalam satu produk budaya (Hall, 1992;Bryce et al., 2010).

Selain itu, teori soft power dari Joseph Nye (2004) menjelaskan bagaimana negara dapat mempengaruhi pihak lain melalui daya Tarik budaya alih-alih kekuatan militer atau ekonomi. Korea Selatan secara aktif menggunakan ekspor budaya seperti music, drama dan webtoon sebagai strategi diplomasi budaya untuk memperkuat citra nasionalnya. Jang dan Song (2017) menambahkan bahwa proses ini juga mencerminkan fenomena glokalisasi, adaptasi budaya local untuk konsumsi global. Dalam kerangka tersebut, adaptasi lintas negara seperti Solo Levelling tidak hanya menjadi proyek hiburan, melainkan juga arena negosiasi makna dan kekuasaan dalam bentuk budaya multicultural global.

Karya Solo Levelling bermula sebagai novel web Korea oleh Chugong (2016), kemudian diadaptasi menjadi manhwa/webtoon pada 2018-2021 oleh studio Redice Studio-D&C Media. Versi Webtoon telah dikonsumsi secara massif; misalnya dalam pasar Jepang melalui layanan Piccoma, dan disebut sebagai global hit (Nwaenie, 2024). Adaptasi animasinya dikembangkan oleh studio animasi Jepang A-1 Pictures yang tayang perdana Januari 2024 dan langsung disimulasikan secara global melalui platform streaming (TOI, 2025).

Dari sisi industri budaya Korea Selatan, adaptasi ini muncul di tengah lonjakan ekspor webtoon/manhwa. Menurut laporan Ketua Creative Content Agency (KOCCA), total pendapatan webtoon Korea pada 2023 mencapai 2,189 triliun won (> US$1,49 miliar), naik 19,7% dari tahun sebelumnya (Seung-Jin, 2025). Eksport pasarnya sangat besar: Jepang menyumbang 40,3% dari ekspor webtoon Korea, diikuti Amerika Utara 19,7% , China 15,6%, Asia Tenggara 12,3%, dan Eropa 8,3% (Jonggil, 2025).

Adaptasi Solo Levelling menunjukkan bentuk kerja sama budaya lintas negara dengan beberapa ciri penting, yaitu (1) Hak Kekayaan Intelektual Cerita yang tetap berasal dari Korea sementara animasi dan produksi teknis dilakukan oleh Jepang, (2) Distribusi Distribusi diarahkan ke pasar global, bukan hanya domestik Korea, (3) Kerja Sama Adaptasi cerita ini menegaskan bahwa konten budaya Korea kini tidak hanya diekspor sebagai “produk jadi” melainkan menjadi bagian dari produksi bersama.

Namun, adaptasi ini juga memunculkan tantangan mengenai identitas budaya dan otensitas, misalnya ketika gaya visual atau Teknik animasi Jepang yang dominan, sehingga unsur “ke-Korea-an” dalam cerita atau estetika mungkin harus disesuaikan untuk pasar global.

Adaptasi Solo Levelling menggambarakan bagaimana multikulturalisme tidak hanya terjadi dalam konteks sosial domestik, tetapi juga dalam produksi budaya transnasional. Sebagai hasil kerja sama Korea-Jepang, proyek ini mencerminkan bentuk hibriditas budaya sebagaimana dijelaskan oleh Homi Bhabha (1994), yaitu terciptanya ruang ketiga (third space) dimana perbedaan budaya bernegosiasi dan menghasilkan bentuk baru. Walaupun cerita dan karakter bersal dari konteks sosial Korea, dengan elemen khas seperti sistem hierarki “hunter” dan struktur Masyarakat post-modern, visualisasi dan gaya naratifnya mengikuti estetika anime Jepang, yang sudah mapan secara global.

Fenomena ini menimbulkan dialektika antara cultural pride dan global market adaptation. Sebagian penggemar korea sempat menilai bahwa adaptasi Jepang dapat “menghapus” identitas local Solo Levelling, sementara pihak lain melihatnya sebagai strategi memperluas jangkauan global. Park (2023) menekankan bahwa “hibridisasi budaya kontemporer adalah strategi bertahan hidup dalam ekonomi kreatif lintas negara.” Dalam konteks ini, Solo Levelling menjadi simbol negosiasi kekuasaan budaya antara dua negara yang historisnya memiliki ketegangan, namun kini terhubung melalui logika ekonomi budaya
global.

Lebih jauh, proyek ini juga merefleksikan praktik soft-power (Nye, 2004) Korea Selatan yang bertransformasi dari sekedar ekspor budaya menjadi bentuk diplomasi kreatif. Melalui keberhasilan adaptasi ini, Korea tidak hanya memperluas pengaruh ekonominya di sektor konten digital, tetapi juga memperkuat posisi sebagai pusat inovasi budaya Asia Timur. Dengan demikian, Solo Levelling berfungsi sebagai topik pembahasan multicultural tempat dimana kerja sama, hibriditas, dan diplomasi budaya berinteraksi dalam satu produk global.

Adaptasi Solo Levelling dari Manhwa Korea menjadi Anime Jepang menandai fasi baru dalam dinamika multikulturalisme dan diplomasi budaya Asia Timur. Kolaborasi ini memperlihatkan bahwa globalisasi budaya tidak selalu berarti dominasi satu pihak, melainkan proses negosiasi yang menciptakan bentuk hibrida di antara dua tradisi kreatif. Melalui teori Multikulturalisme, hibriditas budaya, dan soft power, dapat dipahami bahwa keberhasilan adaptasi ini tidak hanya terletak pada aspek ekonomi atau estetika, tetapi juga pada kemampuan kedua negara dalam memanfaatkan perbedaan budaya sebagai modal kolaboratif. Meskipun tantangan terkait identitas dan otentisitas masih muncul, Solo Levelling menunjukan bahwa interaksi budaya lintas negara dapat menghasilkan bentuk diplomasi kultutal baru yang lebih inklusif. Dengan demikian, proyek adaptasi animasi dari manhwa Solo Levelling ini bukan sekedar fenomena industry hiburan, melainkan refleksi dari cara baru memahami kekuasaan dan keberagaman dalam tatanan budaya global.

Oleh: Muhamad Adhitya Gus Ismoyo – 202210360311136

Bacaan lebih lanjut:

Bhabha, H. K. (1994). The Location of Culture. Routledge.

Bryce, M., Davis, J., & Pratten, C. (2010). “The Manga Phenomenon in Global Context.” Journal of Graphic Novels and Comics, 1(1), 13–29.

Hall, S. (1992). “Cultural Identity and Diaspora.” In J. Rutherford (Ed.), Identity: Community, Culture, Difference (pp. 222–237). Lawrence & Wishart.

Jang, W., & Song, J. (2017). “Soft Power and the Korean Wave: Cultural Diplomacy in the Age of Globalization.” Korea Observer, 48(1), 1–23.

KOCCA. (2024). Korean Webtoon Industry Report 2023. Korea Creative Content Agency.

Nye, J. S. (2004). Soft Power: The Means to Success in World Politics. PublicAffairs.

Onjung Yang. (2017). “Multiculturalism in South Korea: A Critical Review.” Asian Social Science, 13(6), 68–76.

Park, H. (2023). “Hybrid Cultural Production in East Asian Media Collaboration.” International Journal of Cultural Studies, 26(3), 345–359.

Wikipedia. (2024). Solo Leveling. Retrieved from https://en.wikipedia.org/wiki/Solo_Leveling

Korea JoongAng Daily. (2025, Jan 2). Korea’s Webtoon Industry Made Almost $1.5 Billion in 2023.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *