Diskriminasi Rasial di Korea Selatan: Antara Modernisasi, Nasionalisme, dan Tantangan Multikulturalisme

Sumber gambar: Pinterest

 

Korea Selatan selama dua dekade terakhir dikenal sebagai negara yang modern dan berpengaruh secara global, terutama melalui ekonomi berbasis teknologi dan budaya populer seperti KPop dan KDrama. Namun, citra modern ini sering bertentangan dengan realitas sosial di dalam negeri. Meskipun masyarakat Korea Selatan semakin terhubung dengan dunia internasional, negara ini mempertahankan identitas nasional yang sangat homogen dan berbasis pada nasionalisme etnis (Kim, 2020). Kondisi ini menimbulkan paradoks: modernisasi yang maju tidak selalu diikuti oleh penerimaan terhadap keberagaman budaya.

Secara historis, masyarakat Korea Selatan dibentuk oleh ideologi “danil minjok” atau “one blood, one nation”, yang menekankan kesatuan ras dan kesamaan identitas etnis (Choi, 2018). Ide ini semakin menguat setelah pendudukan Jepang dan Perang Korea, ketika rasa nasionalisme menjadi alat pemersatu masyarakat. Akibatnya, keberadaan orang asing sering dianggap sebagai “pendatang”, bukan bagian dari masyarakat. Namun sejak awal 2000an, arus imigrasi meningkat pesat, terutama pekerja migran dan perkawinan internasional. Kementerian Dalam Negeri Korea Selatan mencatat bahwa pada 2023 jumlah warga asing telah melebihi tiga juta orang, dengan lebih dari 6% anak sekolah merupakan keturunan campuran (Ministry of Interior and Safety, 2023). Untuk mengelola perubahan ini, pemerintah mengesahkan Multicultural Family Support Act pada tahun 2008.

Meskipun demikian, penelitian dan laporan internasional menunjukkan bahwa diskriminasi masih menjadi tantangan utama dalam multikulturalisme Korea Selatan. Human Rights Watch (2020) menemukan bahwa banyak pekerja migran, terutama dari Asia Tenggara, masih mengalami diskriminasi upah, pelecehan verbal, hingga kekerasan fisik. Migrant Center Korea juga melaporkan bahwa pekerja migran di sektor pertanian dan pabrik sering tidak mendapatkan perlindungan hukum yang memadai (Lee, 2022). Perlakuan berbeda ini juga berkaitan dengan hierarki rasial: pekerja dari negara Barat cenderung lebih dihargai, sedangkan pekerja dari Asia Tenggara dianggap kelas dua (Park, 2019).

Diskriminasi tidak hanya terjadi pada orang dewasa, tetapi juga pada anak-anak multikultural. Sebuah survei oleh National Youth Policy Institute menemukan bahwa lebih dari 40% siswa keturunan campuran pernah mengalami perundungan dan perlakuan diskriminatif di sekolah, terutama jika memiliki kulit lebih gelap atau bahasa Korea yang kurang fasih (National Youth Policy Institute, 2021). Banyak keluarga melaporkan bahwa anak-anak mereka sulit diterima, sehingga berdampak pada pendidikan dan kesehatan mental.

Contoh nyata diskriminasi rasial juga muncul dalam dunia hiburan. Kasus Sam Okyere, selebriti asal Ghana, menjadi salah satu yang paling dikenal. Ketika ia mengecam penggunaan blackface oleh siswa SMA Korea pada 2020, ia justru mendapat serangan balik dan komentar rasis di media sosial. Alhasil, Sam meninggalkan Korea setelah protesnya tidak mendapat dukungan publik (BBC News, 2021). Kasus ini memperlihatkan bahwa sebagian masyarakat belum siap menerima kritik terkait rasisme, meskipun negara mereka semakin mendunia.

Fenomena diskriminasi ini tidak lepas dari kuatnya nasionalisme etnis. Bagi sebagian masyarakat Korea, menjadi “orang Korea” berarti memiliki darah dan budaya Korea (Yang, 2020). Akibatnya, orang asing sulit dianggap sebagai warga setara. Yang menarik, diskriminasi tidak selalu setara: orang Barat umumnya lebih diterima karena dianggap “berprestise”, sementara imigran Asia Tenggara atau Afrika lebih sering distigma sebagai “buruk” atau “mengancam budaya” (Jin & Kim, 2022).

Modernisasi yang cepat tidak otomatis menghapus rasisme. Media dan internet bahkan memperkuat stereotip negatif melalui komentar anonim dan berita sensasional. Ketika muncul kasus kriminal yang melibatkan warga asing, sentimen anti-imigran meningkat drastis (Seoul Institute, 2020). Beberapa politisi konservatif juga menggunakan isu ini untuk menarik suara pemilih nasionalis, sehingga memperlambat proses multikulturalisme.

Walaupun begitu, perubahan tetap terjadi. Pemerintah menjalankan program pendidikan multikultural di sekolah, membuka pusat dukungan keluarga, dan menyediakan pelatihan bahasa Korea bagi imigran (Ministry of Gender Equality and Family, 2022). Industri hiburan juga mulai memasukkan representasi budaya asing, dan popularitas idol non Korea memperkenalkan masyarakat pada keberagaman global.

Kesimpulannya, Korea Selatan sedang berada pada fase peralihan menuju masyarakat multikultural, tetapi masih menghadapi hambatan besar akibat nasionalisme etnis dan diskriminasi rasial. Modernisasi negara tidak selalu berarti perubahan sosial. Namun dengan meningkatnya jumlah imigran, perkawinan internasional, serta keterpaparan budaya global, masa depan multikulturalisme Korea Selatan memiliki peluang berkembang lebih baik. Perubahan ini membutuhkan waktu, kebijakan inklusif, dan kesadaran masyarakat sebagai fondasi utama negara yang benar-benar multikultural.

Oleh: Ahmad Hasan Fadhly – 202410360110092

Bacaan lebih lanjut:

BBC News. (2021). Ghanaian TV personality Sam Okyere leaves South Korea after racism controversy. https://www.bbc.com/news/world-asia-56022103

Choi, J. (2018). Korean ethnic nationalism in the era of globalization. Journal of Asian Studies, 77(2), 245–260. https://doi.org/10.1017/S0021911818000128

Human Rights Watch. (2020). South Korea: Migrant workers face labor abuses. https://www.hrw.org

Jin, H., & Kim, S. (2022). Racial hierarchy and migrant labor in South Korea. Asian Sociology Review, 18(3), 112–130. https://asrjournal.org

Kim, Y. (2020). Multicultural challenges in South Korea. Korea Observer, 51(1), 1–22. https://www.ekoreajournal.net

Lee, M. (2022). Working conditions of migrant labor in South Korea. Migrant Center Korea Report. http://www.migrants.kr

Ministry of Gender Equality and Family. (2022). Multicultural family policy report. https://www.mogef.go.kr

Ministry of Interior and Safety. (2023). Foreign residents statistics in Korea. https://mois.go.kr National Youth Policy Institute. (2021). Survey on multicultural students in Korean schools. https://www.nypi.re.kr

Park, S. (2019). Discrimination against Southeast Asian migrants in South Korea. Asia Pacific Migration Journal, 28(1), 77–98. https://doi.org/10.1177/0117196819834130

Seoul Institute. (2020). Public perception of foreign residents in Korea. https://www.si.re.kr

Yang, H. (2020). The persistence of ethnic nationalism in Korean society. Korean Social Science Journal, 47(4), 50–67. https://kssj.or.kr

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *