Sumber gambar: Pinterest
Korea Selatan selama beberapa dekade dikenal sebagai negara dengan tingkat homogenitas etnis yang tinggi. Hampir seluruh penduduknya berasal dari etnis Korea dan kebanggaan terhadap identitas nasional menjadi bagian penting dari budaya masyarakat. Namun, dalam dua dekade terakhir, globalisasi dan perkembangan budaya populer Korea (Hallyu Wave) telah membuka interaksi lintas budaya secara luas. Fenomena ini tidak ganya membawa Korea ke panggung dunia, tetapi juga menghadirkan dinamika baru dalam kehidupan sosialnya. Ditengah keterbukaan global tersebut muncul pertanyaan menarik. Apakah keterbukaan budaya Korea di ranah media juga mencerminkan keterbukaan dalam kehidupan sosial masyarakatnya?
Tulisan ini bertujuan untuk membahas bagaimana media dan budaya populer berperan dalam membentuk perpsepsi dan realitas multukulturalisme di Korea Selatan. Dengan pendekatan deskriptif – analisis, pembahasan ini menyoroti hubungan antara globalisasi budaya, representasi media, dann tantangan sosial yang dihadapi oleh masyarakat Korea dalam mengelolah keberagaman.
Konsep Dasar Multikulturalisme dan Globalisasi
Multikulturalisme adalah istilah yang digunakan untuk menjelaskan pandangan tentang ragam kehidupan di dunia, atau kebijakan kebudayaan yang menekankan penerimaan tentang adanya keragaman, kebhinekaan, pluralitas, sebagai realitas utama dalam kehidupan masyarakat menyangkut nilai-nilai, sistem sosial budaya, dan politik yang mereka anut (Roald, 2009). Kymlicka (1995) juga menegaskan bahwa multikultural tidak sekedar pengakkuan terhadap perbedaan, tetapi juga mencangkup keadilan sosial dan kesetaraan bagi kelompok minoritas. Dalam konteks globalisasi, arus informasi, imigrasi, dan pertukaran budaya menjadi semakin intens, sehingga batas-batas identitas nasional menjadi lebih cair (Heil & Mcgrew, 2007).
Korea Selatan yang sebelumnya dikenal sebagai negara etnosentris, kini dihadapkan pada realitas baru. Jumlah imigran dan keluarga multikultural meningkat pesat sejak awal tahun 2000-an, terutama setelah pemerintah meluncurkan kebijakan Multicultural Family Support Policy pada 2008 (Kim, 2018). Namun, proses penerimaan terhadap keberagaman ini tidak selalu berjalan mulus, karena nilai-nilai tradisional dan nasionalisme etnis masih sangat kuat di sebagian masyarakat.
Budaya Pop Korea dan Representasi Multikulturalisme
Salah satu aspek paling menarik dari perkembangan Korea Selatan adalah keberhasilan budayanya yang menembus pasar global. Gelombang Korea (Hallyu Wave) yang meliputi musik, film, drama, dan mode (fashion) telah menjadi simbol soft power yang kuat. K-Pop misalnya, tidak hanya menjadi produk hiburan, tetapi juga jembatan pertukaran budaya global. Kolaborasi antara artis Korea dengan musisi internasional seperti Blackpink denngan Selena Gomez memberlihatkan citra Korea yang modern, inklusif, dan terbuka terhadap pengaruh luar (Jin, 2006).
Namun, representasi multikulturalisme dalam industri hiburan Korea masih sering bersifat simbolik. Beberapa figur multikulturalisme seperti Yoon Mirae (berdarah Korea-Amerika), Han Hyun-min (model berdarah Korea-Nigeria), Sam Okyere (entertainer asal Ghana), Lalisa Manoban (member Blackpink berdarah Thailand), dan Carmen (member Hearts2Hearts berdarah Indonesia) menjadi contoh wajah baru dari keberagaman di media Korea. Kehadiran mereka menantang stereotip tradisional tentang “orang Korea”, namun pada saat yang sama, media sering kali menampilkan mereka dalam kerangka “keunikan” atau “eksotisme” (Lie, 2014). Hal ini menunjukkan bahwa meskipun media Korea tampak terbuka, representasi yang muncul belum sepenuhnya setara.
Tantangan dan Realitas Sosial
Keterbukaan budaya melalui media tidak serta merta diikuti oleh penerimaan sosial yang mendalam. Dibalik citra global yang inklusif, Korea Selatan mashih menganggap berbagai tantangan dalam mengimpelentasikan multikulturalisme di tingkat masyarakat. Bayak keluarga campuran dan pekerja imigran yang masih sering mengalami diskriminasi, baik dalan pekerjaan, pendidikan, maupun kehidupan sosial sehari-hari (Seol & Skrentny, 2009).
Fenomena ini sering disebut sebagai Cosmetic Multiculturalism, yaitu keterbukaan yang hanya tampak dipermukaan, sementara nilai-nilai homogenitas masih mendominasi (Lim, 2012). Media berperan ganda disini, disatu sisi menjadi alat sosialisasi keberagaman, tetapi disisi lain juga bisa memperkuat steriotip melalui cara mereka menggambarkan “orang asing”. Misalnya, program televisi yang menampilkan selebritis asing di Korea sering kali menonjolkan perbedaan mereka sebagai hiburan, bukan sebagai refleksi kesetaraan budaya (Oh & Kim, 2014).
Meskipun demikian, generasi muda Korea menunjukkan sikap yang lebih terbuka dibandingkan generasi sebelumnya. Pengaruh globalisasi digital dan akses terhadap media internasional membuat mereka lebih terbiasa dengan keberagaman. Platfrom seperti Youtube, TikTok, Instagram, Twitter (sekarang X), dan lain lain juga memfasilitasi interaksi lintas budaya antar warga Korea dengan masyarakat global, sehingga membentuk pemahaman baru tentang identitas dan keberagaman (Jang, 2020).
Kesimpulan
Perkembangan multukulturalisme di Korea Selatan menunjukkan dinamika yang kompleks antara keterbukaan global dan realitas lokal. Budaya pop dan media Korea memainkan peran besar dalam membentuk citra korea sebagai negara modern dan inklusif di mata dunia. Namun, dibalik citra itu, masyarakat Korea masih berproses dalam memahami dan menerima makna sejati dari keberagaman budaya.
Kedepannya, tantangan utama bagi Korea Selatan dalah bagaimana mengubah keterbukaan simbolik menjadi keterbukaan substantif dimana penghargaan terhadap perbedaan menjadi bagian nyata dari kehidupan sosial, bukan sekedar representasi di layar kaca. Untuk mencapai hal itu, sinergi antara kebijakan publik, pendidikan, dan media sangat diperlukan. Hanya dengan cara tersebut, multikulturalisme dapat berkembang tidak hanya sebagai citra global, tetapi juga sebagai nilai sosial yang hidup dalam masyarakat Korea.
Oleh: Novan Fariq Angga Fadila – 202410360110162
Bacaan lebih lanjut:
Held, D., & McGrew, A. (2007). Globalization Theory: Approaches and Controversies. Polity Press.
Jang, W. (2020). Digital Media and Youth Culture in South Korea. Routledge.
Jin, D. Y. (2016). New Korean Wave: Transnational Cultural Power in the Age of Social Media. University of Illinois Press.
Kim, H. (2018). “The Evolution of Multicultural Policy in South Korea: From Assimilation to Inclusion.” Asian Social Work and Policy Review, 12(1), 23–34.
Kymlicka, W. (1995). Multicultural Citizenship: A Liberal Theory of Minority Rights. Oxford University Press.
Lie, J. (2014). K-Pop: Popular Music, Cultural Amnesia, and Economic Innovation in South Korea. University of California Press.
Lim, T. C. (2012). “Rethinking Belongingness in Korea: Transnational Migration, Citizenship, and the Politics of Identity.” Pacific Affairs, 85(1), 61–85.
Oh, D. C., & Kim, J. (2014). “Media Representations of Multiculturalism in South Korea.” International Journal of Cultural Studies, 17(5), 497–513.
Parekh, B. (2000). Rethinking Multiculturalism: Cultural Diversity and Political Theory. Harvard University Press.
Seol, D. H., & Skrentny, J. D. (2009). “Ethnic Return Migration and Hierarchical Nationhood: Korean Chinese Foreign Workers in South Korea.” Ethnicities, 9(2), 147–174.
Roald, Anne Sofie. 2009. Multiculturalism and Pluralism in Secular Society: Individual or Collective Rights?. Michelsen Institute Press.




