Demam Bahasa Korea! Remaja Indonesia Kini Akrab Menggunakan Kosakata Bahasa Korea Pada Kehidupan Sehari-hari

Fenomena buadaya Korea atau yang sering disebut dengan Korea Wave (Hallyu) kini tak hanya soal music K-Pop atau drama Korea. Lebih dari itu, bahasa korea mulai meresap pada kehidupan sehari-hari, terutapa pada kalangan remaja di Indonesia. Mulai dari kata-kata sederhana seperti “annyeong” (halo), “oppa” (kakak laki-laki), dan “saranghae” (aku cinta kamu), semakin sering kita jumpai dalam percakapan anak remaja, caption di media sosial hingga pada chat di aplikasi seperti whatsapp dan line. Tidak sedikit juga yang sudah mulai terbiasa menyisipkan bahasa Korea saat berbicara dengan teman sebaya, bahkan hal itu dapat dilakukan tanpa disadari. 

Fenomena ini berdampak terhadap global karena penyebaran pengaruh budaya Korea yang sangat mudah ditemukan hanya dengan mengakses internet kebudayaan dari Negara lain dapat diserap oleh pemakai, mnunculnya “Ruang Elektronik” dalam kehidupan secara meluas menyebabkan hilangnya proses “Social learning” yang memungkinkan simpati dilakukan dalam hubungan antar individu hanya dengan migrasi dari satu tempat ke tempat lain tidak lagi diperlukan untuk membawa pindah suatu kebudayaan. 

Menurut beberapa remaja, penggunaan bahasa Korea dapat membuat mereka merasa lebih “kekinian” dan merasa dekat dengan idola mereka. Tidak hanya dari drama maupun lagi Korea, media sosial seperti TikTok dan Instagram juga jadi saluran utama penyebaran bahasa Korea. Tren lipsync, dance challenge, sampai video tutorial bahasa Korea menjamur di beranda para gen Z. Bahkan, kini sudah banyak akun-akun edukasi yang secara khusus membagikan konten belajar bahasa Korea secara gratis. 

Ditambah lagi dengan maraknya konser-konser K-Pop di Indonesia yang merupakan salah satu bentuk dari penyebaran Korean Wave. Tidak sedikit dari grup K-Pop yang memasukkan Indonesia sebagai salah satu list dari rangkaian Worl Tour mereka. Adapun daftar-daftar grup yang mengadakan konser di Indonesia pada tahun 2024 diantaranya, NCT-127, Enhypen, Day6, dan masih banyak lagi. Hal ini juga sangat berpengaruh pada kaum remaja yang memiliki ketertarikan kepada Korea, tidak sedikit dari mereka yang menjadi penggemar dari grup musik memiliki komunitas yang biasa disebut “fanbase” mengikuti serangkaian acara konser musik yang diadakan. Dengan tanpa disadari kebanyakan dari mereka memiliki kebiasaan menyelipkan bahasa-bahasa korea dalam pembicaraan sesama penggemar K-Pop, banyak dari mereka merasa dekat dengan Idolanya karena bisa menirukan beberapa bahasa Korea.

Korean Wave memberikan beberapa dampak positif bagi masyarakat Indonesia, hal ini dapat dilihat dari tumbuhnya minat untuk mendalami dan belajar bahasa Korea dengan adanya Korean Wave. Menurut penelitian yang dilakukan, terdapat peningkatan terhadap minat belajar bahasa Korea sebesar 43% setelah menonton drama Korea pada pelajar Indonesia. 

Dari sekian banyak pengaruh Korean Wave fenomena pada penggunaan bahasa Korea dalam percakapan sehari-hari di kalangan remaja Indonesia mencerminkan bagaimana budaya pop dapat membentuk cara berkomunikasi antar teman sebaya maupun sesama penggemar budaya Korea. Dari sekedar sapaan seperti “annyeong” hingga ungkapan emosional seperti “aigoo” atau “daebak”, semua itu kini terasa tidak asing di telinga banyak remaja. Bahasa Korea tidak hanya menjadi simbol ketertarikan terhadap idol atau drama favorit mereka, tetapi juga menciptakan semacam kode komunikasi bersama yang mempererat hubungan sosial di antara mereka. Ini menunjukkan bahwa bahasa bukan sekedar alat komunikasi, tapi juga bagian dari ekspresi identitas kelompok. Meskipun hal ini membawa sisi positif dalam hal keterbukaan budaya dan semangat belajar bahasa asing, penting juga untuk tetap menjaga keseimbangan agar tidak melupakan bahasa ibu dan kearifan lokal. Demam Korea boleh saja mewarnai gaya bicara, selama tetap memberi ruang untuk mencintai budaya sendiri dengan cara yang lebih kreatif dan bijak.

 

Oleh: Achmad Nakhlah Phelia Rahim

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *