Picture source: Pinterest
Siapa sih kini yang tidak mengenal Korea Selatan. Dalam beberapa tahun terakhir korea telah berhasil menarik perhatian dunia,bukan karena kekuatan militer yang mereka miliki namun karena kekuatan budaya. Kenapa bisa demikian ?
Karena fenomena Hallyu,atau biasa juga di sebut sebagai Korean Wafe yang mengaju pada popularitas dan pengaruh hiburan Korea Selatan di seluruh dunia termasuk musik (K-pop), drama televisi (K-Drama), film (K-Movie), acara varietas, mode, kecantikan (K-Beauty), dan makanan (K-Food). Namun, ini lebih dari sekedar hiburan semata, dalam dunia Hubungan Internasional modern, kekuatan suatu negara tidak hanya bergantung pada kekuatan ekonomi atau militernya Korea Selatan adalah contoh nyata dari negara yang dapat membangun citra global melalui soft power, yaitu kekuatan yang berasal dari budaya, nilai, dan daya tarik sosial. Korea sebenarnya sedang menggunakan budaya untuk menciptakan citra yang baik dan pengaruh internasional.
Salah satunya melalui K-pop yang banyak di gemari oleh anak-anak muda zaman sekarang boyband yang paling terkenal BTS. Siapa sih yang sekarang gak tau sama BTS pasti rata-rata semuanya tau dengan boyband yang satu ini yang beranggotakan 7 member, RM,Jin,Suga,J-Hop,Jimin,Vdan Jongkok. BTS debut pada tanggal 13 Juni 2013, di bawah naungan Big Hit Entertainment, dengan single utama ‘No More Dream’ di album ‘2 Cool 4 Skool’. Tidak hanya parasnya yang tampan namun mereka memiliki bakat bernyayi dan dance yang sangat bagus yang membuat mereka memiliki banyak penggemar dari berbagai manca negara.
Yang membuat para wisatawan asing ingin mengunjungi Korea untuk melihat langsung penampilan dari idola mereka yaitu BTS atapun hanya sekedar membeli marchendesnya dan mengujungi berbagai tempat yang identik dengan BTS. Dimana ini membuat devisit negara naik secara tidak langsung tak mengherankan jika BTS disebut sebagai “Ikon Ekonomi” baru Korea Selatan karena pengaruhnya terhadap bisnis ekspor Korea Selatan seperti pakaian, kosmetik, dan makanan. Selain itu, industri musik Korea Selatan telah lama dikenalkan oleh pemerintah negara tersebut. Hal ini terbukti pada tahun 1990-an, ketika sebagian besar negara Asia mengalami krisis ekonomi, Korea Selatan justru melakukan hal yang sebaliknya. Mereka membentuk Kementerian Kebudayaan dengan departemen khusus K-Pop dan membelanjakan jutaan dolar untuk membangun citra negara mereka melalui perkembangan musik.
Pemerintah Korea Selatan sangat mendukung penyebaran gelombang budaya Korea
(Korean Wave) ke seluruh dunia. Dalam pidato pembukaan “Seventh Conference for the Promotion of New Economy” di Seoul pada tahun 1994 menyatakan, “We live in an era in which culture holds sway over the destinies of nations. The advent of the Information age and the knowledge industries made the cultural competence equal to national competence” (Y,S,Kim. 1994). Kemudian Presiden Kim Young Sam menyatakan bahwa Korea Selatan siap untuk bersaing dalam bidang budaya dan ekonomi baru di kancah gobal.
Sejak tahun 2005, Korean Wave telah digunakan oleh pemerintah Korea Selatan dalam diplomasi publik. Ini mirip dengan yang dijelaskan dalam kebijakan luar negeri Korea Selatan sejak tahun 2005 bahwa dalam upaya membangun citra positif dari “Korean Wave, Ministry of Foreign Affrairs And Trade” telah terlibat dalam kegiatan diplomasi publik
Korea Selatan untuk meningkatkan kegiatan budaya dan mempromosikan citra nasional sebagai negara terkemuka di bidang kebudayaan
Melihat budaya K-pop populer, pemerintah Korea tidak tinggal diam. Mereka mendirikan organisasi atau lembaga seperti Korea Creative Content Agency (KOCCA) yang bertugas mengembangkan konten budaya dan memfasilitasi ekspor budaya Korea. Selaian itu juga membangun Pusat Seni Korea (KCC) di berbagai negara untuk mendukung industri hiburan. Menggunakan budaya untuk membangun hubungan antarnegara.
Tindakan yang dilakukan oleh pemerintahan korea ini di sebut sebagai istilah soft power,konsep yang di kenalkan oleh ilmuan politik Joseph Nye yang dimana soft power ini bekerja secara halus melalui daya tarik budaya,nilai dan gaya hidup yang menarik. Ini berbeda dengan hard power yang menggunakan kekuatan militer atau ekonomi untuk mempengaruhi. Korea Selatan adalah contoh nyata dari negara yang dapat berkomunikasi dengan baik menggunakan budaya pop mereka .
K-Pop memiliki pengaruh yang luar biasa, yang benar-benar memicu diplomasi antara negara dengan Korea Selatan. Korea Selatan telah memperoleh banyak keuntungan, mulai dari sektor ekonomi,pertahanan dan suara publik . Selain itu, budaya mereka membentuk citra yang baik di mata dunia sehingga banyak negara yang ingin menjalin kerja sama dengan korea untuk memperoleh keuntunganya yang mebuat hubungan diplomasi antar negara semakin baik . Meskipun fenomena saat ini mungkin terlihat sepele, Korean Wave telah menjadi fenomena yang berhasil menarik perhatian publik. K-Pop memiliki pengaruh yang begitu besar sehingga banyak negara akhirnya melakukan diplomasi dengan Korea Selatan. Negara-negara yang sudah memiliki hubungan diplomatik dengan Korea Selatan juga memperkuat hubungan mereka. Di antaranya adalah Amerika Serikat, Indonesia, dan negara-negara Asia Tenggara.
Di Indonesia sendiri, dampak budaya Korea sangat terasa. Dimana anak-anak muda zaman sekarang gemar mendengarkan K-pop, menonton drama Korea, mencoba makanan Korea, hingga belajar bahasanya bahkan produk skincare Korea juga digemari, dan banyak café hingga toko yang mengusung tema Korea yang bermunculan. Hal ini menunjukkan bahwa budaya Korea telah menjadi bagian dari gaya hidup masyarakat, bukan hanya sekedar tontonan sesaat.
Namun, kita juga harus mempertimbangkan ini secara kritis. Ketika budaya luar terlalu mendominasi, budaya lokal berisiko terpinggirkan. Oleh karena itu, penting bagi masyarakat, khususnya generasi muda, untuk dapat mempergunakan budaya asing dengan bijak, mengambil sisi baiknya , namun tetap mempertahankan identitas dalam diri dirinya jangan mudah terpengaruh oleh budaya asing harus tetap menjunjung tinngi ke bhineka tunggal ika. Secara keseluruhan, Korea Selatan telah menunjukkan kepada dunia bahwa budaya bisa menjadi kekuatan politik yang sangat kuat. Mereka membuktikan bahwa menyebarkan pengaruh tidak harus lewat kekuatan, tapi bisa lewat hal-hal yang menyenangkan musik, drama, dan makanan. Dan di era sekarang, siapa yang menguasai budaya, bisa jadi juga menguasai dunia.
Oleh: Hikmah Auliyya Kusuma Wardani
Bacaan lebih lanjut:
Diplomasi Publik: Pengaruh K-Pop dalam Hubungan Antarnegara Grevanny Js Sinlae https://kumparan.com/grevanny-js-sinlae/diplomasi-publik-pengaruh-k-pop-dalam-hubungan-antarnegara-21Ik9RNnmzW/full
Korompis, Merry Jeanned’arc, dan Christoforus Adrie Pieter Koleangan. Fenomena Hallyu dan Dampaknya terhadap Perilaku Konsumen: Analisis Bibliometrik . Jurnal Inovatif 20, no. 1 (April 2023). Program Studi Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Katolik De La Salle Manado.
Sari, Lukita Perwita. Analisis Korean Wave sebagai Bentuk Soft Diplomacy yang Efektif di Bidang Kebudayaan . Universitas Potensi Utama.
Biodata, Profil, dan Fakta Lengkap Member BTS. Diakses dari https://kepoper.com/biodata-profil-dan-fakta-lengkap-member-bts/ .
Berita Blora. Kpop sebagai Media Diplomasi . 27 Desember 2020. Diakses dari https://www.bloranews.com/kpop-sebagai-media-diplomasi/ .
Sinlae, Grevanny Js. Diplomasi Publik: Pengaruh K-Pop dalam Hubungan Antarnegara . Kumparan. Diakses dari https://kumparan.com/grevanny-js-sinlae/diplomasi-publik-pengaruh-k-pop-dalam-hubungan-antarnegara-21Ik9RNnmzW/full .




