Sumber gambar: Myeongdong, Seoul by Viona Ivy on Pinterest
Pemerintah Korea Selatan secara aktif mendukung berkembangnya Korean Wave sebagai strategi untuk membangun citra bangsa yang kaya akan budaya dan menarik di mata dunia. Sejak awal 2000-an, fenomena ini menunjukkan kesuksesan besar di berbagai negara Asia, termasuk Asia Tenggara dan Timur Tengah, sebelum akhirnya meluas ke Eropa dan Amerika pada dekade 2010-an. Popularitas Korean Wave yang mencakup drama, musik, film, hingga fashion tidak hanya meningkatkan ekonomi nasional, tetapi juga memperkuat pengaruh sosial, politik, dan budaya Korea di kancah global. Menurut laporan Kementerian Kebudayaan, Olahraga, dan Pariwisata (MCST), Indonesia tercatat sebagai negara dengan tingkat ketertarikan tertinggi terhadap budaya Korea, mencapai 86,3%, diikuti India, Thailand, Uni Emirat Arab, dan Vietnam. Tingginya antusiasme ini mendorong Kedutaan Besar Korea Selatan di Indonesia, di bawah kepemimpinan Park Soo Deok, untuk terus memperluas kerja sama budaya dan mempererat hubungan antarnegara melalui berbagai kegiatan pertukaran budaya. Tentunya popularitas artis-artis seperti BTS, BLACKPINK, hingga drama seperti Crash Landing on You dan Squid Game tidak hanya memperkenalkan budaya Korea kepada dunia, tetapi juga menciptakan citra baru tentang modernitas dan daya tarik budaya Asia Timur di kancah global.

Popularitas besar Hallyu sendiri tidak terjadi secara spontan, melainkan hasil dari kolaborasi antara pemerintah, sektor swasta (chaebol), dan para selebritas atau grup idola yang bersama-sama memainkan peran strategis dalam memperluas pengaruh budaya Korea ke seluruh dunia. Pemerintah Korea memanfaatkan Hallyu sebagai bentuk diplomasi publik, yaitu strategi untuk memperkenalkan nilai, gaya hidup, dan citra positif bangsa melalui kegiatan budaya, seperti festival internasional, seminar, pemberian beasiswa, pameran, serta konser musik global. Proses penyebaran Hallyu terjadi secara bertahap. Generasi pertama dimulai pada pertengahan 1990-an dan berfokus pada wilayah Asia Timur melalui drama dan musik Korea. Generasi kedua, pada awal 2000-an, menjangkau Asia Tenggara dan Timur Tengah dengan tambahan konten film. Sedangkan generasi ketiga, atau dikenal sebagai The New Wave Invasion sejak 2010, menembus pasar Eropa dan Amerika dengan cakupan budaya yang lebih luas, termasuk fashion dan industri hiburan digital. Keberhasilan Hallyu bukan hanya karena daya tarik produk budayanya, tetapi juga karena misi yang dibawanya juga, yaitu tentang membangun citra positif Korea Selatan, mengubah pandangan dunia terhadap bangsa Korea, serta memperkuat hubungan diplomatik antarnegara. Melalui pendekatan budaya yang lembut (soft power), Hallyu menjadi sarana komunikasi global yang menyampaikan pesan perdamaian dan keterbukaan, bukan sekadar bentuk nasionalisme budaya. Bahkan kini, Hallyu telah menjadi identitas budaya transnasional Korea Selatan. Para bintang K-Pop dan aktor K-Drama berperan sebagai “wajah budaya” Korea di mata dunia, memfasilitasi pertukaran budaya antara Asia, Eropa, Afrika, dan Amerika. Popularitasnya yang luar biasa menjadikan Hallyu bukan hanya fenomena hiburan, tetapi juga kekuatan diplomatik dan ekonomi yang memperkuat posisi Korea Selatan sebagai pusat budaya global modern.
Namun perlu digaris bawahi bahwa, Korea Selatan dikenal sebagai negara yang masyarakatnya sangat homogen. Bahkan hampir keseluruhan penduduknya memiliki Etnis Korea. Terkadang. identitas nasional yang kuat dan kebanggaan terhadap warisan budaya tradisional sering kali membuat masyarakat Korea memiliki pandangan yang tertutup terhadap perbedaan etnis atau budaya luar. Maka dari itu, kondisi ini tentu memunculkan pertanyaan penting bagi kita, “Apakah budaya Korea Selatan yang mendunia mendorong keterbukaan multikultural, atau justru memperkuat nasionalisme budaya yang berpusat pada “Korea Selatan”?”
Jika dilihat berdasarkan standar OECD (Organisasi Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi), suatu negara dapat disebut multikultural jika lebih dari 5% penduduknya berasal dari latar belakang imigran, termasuk warga naturalisasi, generasi kedua, dan warga asing. Maka dari itu, dari kriteria ini, Korea Selatan tengah menuju status negara multikultural. Pada 2023, terdapat sekitar 2,5 juta penduduk asing di Korea, dengan 75% merupakan penduduk jangka panjang dan 25% pendatang sementara. Warga Tiongkok menjadi kelompok terbesar, disusul oleh Vietnam, Thailand, Amerika Serikat, dan Uzbekistan. Selain itu, jumlah pelajar internasional juga meningkat pesat dalam empat tahun terakhir, dari 153 ribu pada 2020 menjadi lebih dari 226 ribu pada 2023, dengan mayoritas berasal dari Vietnam dan Tiongkok.
Tetapi, dari besarnya data tersebut didapatkan pula hasil survei yang dapat dibilang cukup berbanding terbalik dengan nilai-nilai multikultural. Menurut laporan tahun 2023 yang dirilis oleh US News & World Report, Korea Selatan menempati peringkat kesembilan dari 79 negara di dunia dalam hal tingkat rasisme. Selain itu, hasil survei yang dilakukan oleh Segye Ilbo pada tahun 2020 terhadap 207 warga asing yang tinggal di Korea menunjukkan bahwa sekitar 69,1% responden pernah mengalami diskriminasi atau menjadi sasaran serangan bermotif kebencian. Meskipun kasus kekerasan fisik langsung hanya mencapai 3,4%, bentuk diskriminasi tidak langsung seperti sikap tubuh atau tatapan bermusuhan tercatat sebesar 32,9%. Sementara itu, 16,4% responden mengaku pernah menerima penghinaan pribadi, termasuk pelecehan verbal, dan 10,6% lainnya melaporkan perlakuan tidak adil seperti diskriminasi dalam upah kerja. Pada 11 Juli 2019, BBC.com sempat meliput kasus kekerasan yang dilakukan oleh salah satu warga Korea Selatan terhadap istri imigran yang berasal dari Kamboja. Tetapi, di Korea Selatan kasus kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) masih sering dianggap sebagai “urusan pribadi keluarga”, bukan pelanggaran hukum serius. Akibat pandangan tersebut, penanganan hukumnya pun sangat lemah. Dari seluruh kasus KDRT yang dilaporkan dalam lima tahun terakhir, hanya sekitar 13% pelaku yang ditahan, 8,5% yang resmi dijadikan tersangka, dan bahkan hanya 0,9% yang akhirnya dijatuhi hukuman penjara.
Dari data-data tersebut saya memiliki pandangan bahwa perkembangan multikulturalisme di Korea Selatan pada era popularitas Hallyu tidak sepenuhnya menunjukkan keterbukaan sosial yang sesungguhnya. Fenomena ini lebih mencerminkan bentuk multikulturalisme “semu”, di mana keberagaman diterima dalam konteks konsumsi budaya, tetapi belum sepenuhnya diakui dalam tatanan sosial dan nilai kemanusiaan. Pada sisi luarnya, Korea Selatan memang tampak semakin kosmopolit, jika diukur dari banyak warga asing, pelajar internasional, hingga pernikahan lintas negara. Tetapi, data diskriminasi rasial dan tingginya kekerasan terhadap Perempuan karena budaya patriarki menunjukkan bahwa keberagaman di sana masih dihadapi dengan prasangka dan ketimpangan perlakuan. Dalam konteks ini, multikulturalisme belum menjadi praktik sosial yang hidup, melainkan masih sebatas branding nasional yang dibungkus oleh citra global Hallyu. Meskipun Hallyu sebagai bentuk soft power sukses besar dalam memperluas pengaruh budaya Korea di dunia, ironinya Adalah popularitas ini juga menciptakan distorsi persepsi. Melalui K-drama, K-pop, dan media hiburan lainnya, dunia disuguhi gambaran ideal tentang kehidupan yang romantis, setara, dan modern. Padahal di balik layar, masyarakat Korea masih menghadapi tekanan sosial, patriarki, diskriminasi gender, hingga angka bunuh diri yang tinggi seperti yang dilaporkan pada laporan tahunan Indikator Kualitas Hidup 2024 dari Badan Statistik Korea bahwa tingkat bunuh diri di Korea Selatan kembali meningkat pada 2023, naik 2,1 poin menjadi 27,3 kasus per 100.000 orang. Representasi budaya yang seolah terbuka dan harmonis ini justru menutupi realitas sosial yang penuh kesenjangan.
Jadi, menurut saya, di sinilah letak tantangan terbesar bagi multikulturalisme Korea Selatan, yaitu bagaimana membuka diri bukan hanya dalam bentuk ekspor budaya, tetapi juga dalam transformasi nilai sosial di dalam negeri. Keterbukaan sejati bukan sekadar menerima budaya asing, tetapi juga menumbuhkan empati, kesetaraan, dan penghargaan terhadap keberagaman identitas, baik etnis maupun gender. Dengan kata lain, multikulturalisme yang lahir dari popularitas Hallyu masih bersifat simbolik dan belum menyentuh akar sosial masyarakatnya. Korea memang telah menjadi negara yang “global” dari segi budaya, tetapi masih perlu menjadi negara yang “terbuka” dari segi kemanusiaan.
Oleh: Aulia Griselda Maryam – 202410360110046
Referensi:
Ade, S. (2024, Juni 13). Rasisme di Korea Selatan: Didorong Jepang, dimuliakan konsep darah murni. National Geographic Indonesia. https://nationalgeographic.grid.id/read/134104943/rasisme-di-korea-selatan-didorong-jepang-dimuliakan-konsep-darah-murni?page=all
Admin2. (2024, January 15). Budaya Korea: Sejarah, adat dan masyarakat serta zaman modern. Optima Education. https://optima-education.com/budaya-korea-sejarah-adat-dan-masyarakat-serta-zaman-modern/
Channel11.COMM. (2020, November 21). Realita gelap dibalik indahnya K-drama. Himanikaub. https://himanikaub.com/2020/11/21/realita-gelap-dibalik-indahnya-k-drama/
Irhamni, M. A. F. (2024, November 16). Survei Korean Wave: Indonesia jadi negara pusat Hallyu dengan antusiasme budaya Korea tertinggi di dunia. GoodStats. https://goodstats.id/article/survei-korean-wave-indonesia-jadi-negara-pusat-hallyu-dengan-antusiasme-budaya-korea-tertinggi-di-dunia-9f0mf
Jaeeun, L. (2024, March 24). Is South Korea a racist country? The Star. https://www.thestar.com.my/news/focus/2024/03/24/is-south-korea-a-racist-country#goog_rewarded
Jamaan, A., & Sari, I. C. (2014). Hallyu Sebagai Fenomena Transnasional (Doctoral dissertation, Riau University).
Korea.net. (2024, Januari 17). Korea akan masuk era negara multikultural melalui peningkatan penduduk asing. Korea.net. https://indonesian.korea.net/NewsFocus/Society/view?articleId=245563
Riky, M. (2025, March 1). Makin banyak pria di Korea Selatan bunuh diri, ada apa sebenarnya? CNBC Indonesia. https://www.cnbcindonesia.com/lifestyle/20250301174502-33-614729/makin-banyak-pria-di-korea-selatan-bunuh-diri-ada-apa-sebenarnya




