Tenaga Kerja ‘Sekali Pakai’ di Korea Selatan: Antara Ketergantungan Ekonomi, Eksploitasi Sosial, dan Reformasi Multikultural

Sumber gambar: Pinterest

 

Korea Selatan menghadapi krisis populasi yang mendesak. Pada 2024, tingkat kelahiran mencapai 0,75 anak per wanita. Angka ini naik sedikit dari 0,72 pada 2023. Namun, tetap jauh di bawah 2,1 yang diperlukan untuk pengganti populasi. Lebih dari 18 persen penduduk berusia di atas 65 tahun. Situasi ini membebani tenaga kerja domestik. Warga lokal mengurangi jam kerja. Mereka memilih pekerjaan fleksibel. Mereka enggan mengambil sektor 3D, yaitu kotor, berbahaya, dan sulit. Sektor ini mencakup manufaktur, pertanian, dan konstruksi. Kekurangan buruh mendorong pemerintah mendatangkan pekerja migran melalui visa E-9. Visa ini bagian dari Employment Permit System (EPS). Sistem ini merekrut dari 17 negara, termasuk Vietnam, Nepal, dan Indonesia.

Paradoks muncul di sini. Pekerja migran menjadi tulang punggung ekonomi Korea Selatan. Namun, pemerintah memperlakukan mereka sebagai alat pengganti sementara. Hak dan perlindungan sosial mereka minim. Data 2025 menunjukkan penurunan kedatangan pekerja E-9 sebesar 21 persen di paruh pertama tahun ini, akibat perlambatan ekonomi. Hanya 21,9 persen dari kuota total 130.000 orang yang terpenuhi hingga Juni 2025 (Korea Times, 2025). Sejak awal 2000-an, arus migrasi meningkat untuk mengisi kekosongan ini. Pada 2024, jumlah pekerja E-9 mencapai 303.000 orang. Angka ini naik 12,6 persen dari tahun sebelumnya. Ini rekor tertinggi. Sekitar separuh bekerja di manufaktur. Sisanya di pertanian dan konstruksi.

Pekerja E-9 mendukung pertumbuhan ekonomi secara signifikan. EPS memudahkan perekrutan dengan kuota berdasarkan kebutuhan sektor. Mereka lulus tes bahasa dan keterampilan untuk mengisi peran yang dihindari warga lokal. Studi Kang et al. (2021) hitung influx pekerja asing sejak 2010-an menambah PDB 0,08 persen per tahun. Ini setara 1,5 triliun won Korea. Produktivitas lokal naik hingga 1 persen. OECD (2025) konfirmasi migrasi offset kerugian aging society, dengan net migration positif 125.000 orang pada 2024. Ini dorong pertumbuhan populasi untuk kedua kalinya berturut-turut. Di pertanian, mereka memanen padi dan sayur. Pekerjaan ini sulit diganti mesin. Di konstruksi, mereka membangun infrastruktur, seperti proyek Olimpiade dan kota pintar. Tanpa mereka, biaya produksi naik tajam. Perusahaan seperti Samsung dan Hyundai kesulitan merekrut buruh murah. Total foreign residents mencapai rekor 2,73 juta pada Juni 2025, atau 5,3 persen populasi nasional (Korea.net, 2025). Remitansi mereka membantu negara asal. Filipina menerima 853,75 juta dolar AS dari Korea pada 2024.

Namun, sistem E-9 membuat pekerja rentan eksploitasi. Mereka terikat satu majikan selama tiga tahun. Bisa diperpanjang empat tahun. Pindah kerja sulit tanpa izin. Ini buat mereka tak bisa lepas dari pelecehan. Kondisi kerja berbahaya. Pada 2024, 111 pekerja migran tewas dalam kecelakaan industri, hampir tak berubah dari 2020. Mereka wakili 13 persen kematian kerja meski hanya 3,5 persen tenaga kerja (Korea Herald, 2025a). Total fatal accidents 589, turun 1,5 persen dari 2023. Fraktur menjadi cedera umum, 40,8 persen kasus. Amputasi 13,9 persen. Sektor konstruksi paling rawan. Jam kerja panjang tanpa pelatihan keselamatan. Paruh pertama 2025 catat 287 total kematian, dengan pekerja asing mendominasi (Korea Herald, 2025b).

Hak terbatas menambah masalah. Majikan sering menahan paspor dan upah. Kasus pencurian upah naik, terutama di pabrik bata. Bullying kerja pada migran tiga kali lipat sejak 2020. Pekerja alami jam kerja berlebih, diskriminasi, dan pelecehan fisik. Akses kesehatan sulit. Banyak tak dapat kompensasi cedera. Pekerja dari Myanmar dan Kamboja hadapi hambatan remedy. Pemerintah lakukan crackdown pelanggaran. Tapi pekerja takut lapor karena risiko deportasi. Annual claims by foreign workers naik ke lebih dari 10.000 pada 2024 (Korea Herald, 2025a).

Status non-permanen menjadi inti masalah. EPS dirancang untuk rotasi: datang, kerja, pulang. Tak boleh bawa keluarga atau tinggal permanen. Ini jadikan mereka tenaga kerja sekali pakai. Studi 2024 sebut ini ‘kandang legal’ yang tingkatkan kerentanan abuse (East Asia Forum, 2025). Contoh: pekerja Vietnam di pabrik Seoul alami upah telat enam bulan. Tapi tak bisa pindah karena ikatan visa. Laporan Trafficking in Persons 2025 sebut pekerja E-9 hadapi eksploitasi tinggi. Biaya rekrutmen mahal dan perlindungan hukum kurang. Kedatangan ke manufaktur turun 25,8 persen, jadi 21.443 orang. Meski begitu, kontribusi mereka tetap vital.

Dampak ini luas ke bidang sosial dan budaya. Pekerja migran hadapi diskriminasi rasial. Mereka sering dianggap kelas dua. Ini bentrok dengan citra Korea sebagai negara modern. Nasionalisme etnis kuat. Ide “one blood, one nation” masih dominan. Imigran Asia Tenggara kurang dihargai daripada dari Barat. Anak multikultural alami bullying di sekolah. Lebih dari 40 persen siswa keturunan campuran hadapi perundungan. Ini picu masalah kesehatan mental. Pengaruh K-pop global mulai kurangi stigma melalui representasi beragam. Namun, kasus seperti Sam Okyere, selebriti Ghana yang kena serangan rasis setelah kritik blackface pada 2020, tunjukkan resistensi budaya (BBC News, 2021). Secara politik, pemerintah luncurkan Multicultural Family Support Act 2008. Tapi implementasi lambat. Politisi konservatif gunakan isu anti-imigran untuk kampanye. Gerakan buruh migran dorong reformasi. Kampanye anti-eksploitasi oleh serikat internasional tingkatkan kesadaran.

Walaupun begitu, perubahan mulai terlihat. Pemerintah tingkatkan kuota secara bertahap. Tambah program pelatihan keselamatan. Beberapa perusahaan terapkan standar upah lebih baik. Untuk hindari tuntutan. Gerakan buruh migran dorong kesadaran. Seperti kampanye anti-eksploitasi oleh serikat pekerja internasional. Pada 2024, 9 dari 10 pekerja imigran dapat upah di atas 2 juta won per bulan. Tapi jam kerja panjang tetap umum. Hanya 1 dari 4 hindari 50 jam seminggu.

Reformasi EPS krusial untuk multikulturalisme. Integrasi permanen beri hak penuh. Jalur kewarganegaraan buka pintu inklusi. Ini atasi ketergantungan jangka pendek. Kurangi eksploitasi sistemik. Korea bisa bangun masyarakat adil. Dengan migrasi naik dan kesadaran global, peluang inklusif terbuka lebar.

Oleh: Mohamad Rizqi Zulfikar – 202410360110029

Referensi:

BBC News. (2021). Ghanaian TV personality Sam Okyere leaves South Korea after racism controversyhttps://www.bbc.com/news/world-asia-56022103

Berita Satu. (2025). Pekerja Migran Diikat Forklift di Korea Selatan Picu Kemarahanhttps://www.beritasatu.com/internasional/2907346/pekerja-migran-diikat-forklift-di-korea-selatan-picu-kemarahan

East Asia Forum. (2025). South Korea’s migrant workers trapped in a legal cagehttps://eastasiaforum.org/2025/10/31/south-koreas-migrant-workers-trapped-in-a-legal-cage/

Joyce, A. (2024). Reducing Worker Exploitation in Time-Limited, Low-Wage Visa Schemes: Lessons from South Korea and Thailand. International Labour Review, 53(1), 34–52. https://academic.oup.com/ilj/article/53/1/34/7582024

Kang, S., et al. (2021). Wage and employment effects of immigration: Evidence from South Korea. Journal of Demographic Economics, 87(2), 145–168. https://www.cambridge.org/core/journals/journal-of-demographic-economics/article/wage-and-employment-effects-of-immigration-evidence-from-south-korea/9615D99928EA981980081664E860FD4B

Kim, J., et al. (2024). Migrant well-being and undocumented status in South Korea: a qualitative study. International Journal for Equity in Health, 23(1), 1–15. https://equityhealthj.biomedcentral.com/articles/10.1186/s12939-024-02126-2

Korea Herald. (2025a). Foreign workers in S. Korea face triple the workplace death riskhttps://www.koreaherald.com/article/10554829

Korea Herald. (2025b). Majority of foreign workers unable to attend safety drills, despite fatal accidentshttps://www.koreaherald.com/article/10560404

Korea.net. (2025). Foreign resident population in June sets record-high 2.73Mhttps://www.korea.net/NewsFocus/Society/view?articleId=275949

Korea Times. (2025). E-9 foreign worker arrivals down 21% this year amid economic slowdownhttps://www.koreatimes.co.kr/southkorea/society/20250622/e-9-foreign-worker-arrivals-down-21-this-year-amid-economic-slowdown

Merdeka.com. (2024). Korea Selatan Buka 207.000 Lowongan Kerja Non-Profesional buat Warga Negara Asinghttps://www.merdeka.com/uang/korea-selatan-buka-207000-lowongan-kerja-non-profesional-buat-warga-negara-asing-264230-mvk.html

OECD. (2025). International Migration Outlook 2025: Korea Chapterhttps://www.oecd.org/en/publications/2025/11/international-migration-outlook-2025_355ae9fd/full-report/korea_f794c508.html

U.S. Department of State. (2025). Trafficking in Persons Report: South Koreahttps://www.state.gov/reports/2025-trafficking-in-persons-report/south-korea/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *