DINAMIKA KEBIJAKAN MULTIKULTURALISME DAN TANTANGAN INTEGRASI SOSIAL IMIGRAN DI KOREA SELATAN

Sumber gambar: Pinterest

 

Korea Selatan seringkali dipahami sebagai negara dengan identitas etnis yang homogen serta sejarah nasionalisme yang kuat. Namun dalam dua dekade terakhir, Korea mengalami perubahan yang signifikan akibat meningkatnya penduduk asing. Perubahan ini menandai adanya pergeseran Korea Selatan dari masyarakat monoetnis menuju masyarakat multikultural. Transformasi ini memunculkan dinamika kebijakan multikulturalisme serta berbagai tantangan dalam proses integrasi sosial antara penduduk asli dan imigran. Homogenitas budaya Korea tercipta melalui perjalanan sejarah dipenuhi dengan penjajahan dan konflik internal. 

Pengalaman dominasi kolonial Jepang dan perang Korea memperkuat gagasan Han Minjok, yaitu keyakinan mengenai kesatuan bangsa dan ras Korea sebagai satu kesatuan yang harus di jaga dari pengaruh eksternal. Identitas ini membentuk pola pikir eklusivisme etnis yang memengaruhi respons masyarakat terhadap kehadiran kelompok pendatang. Kondisi ini berdampak pada munculnya berbagai masalah adaptasi bagi imigran, karena masyarakat lokal cenderung mempertahankan ikatan budaya internal dan melihat pendatang sebagai pihak yang harus menyesuaikan diri dengan norma yang ada. Hal ini menyebabkan integrasi sosial berkembang secara tidak seimbang, dimana imigran diposisikan sebagai subjek penyesuaian, bukan mitra dalam proses multikulturalisme (ÇİZMECİ, 2022)  

Sikap masyarakat terhadap pendatang dipengaruhi oleh faktor struktural dan psikologis. (Han, 2022) menunjukkan bahwa persepsi ancaman ekonomi karena persaingan tenaga kerja menjadi salah satu penyebab utama munculnya resistensi sosial terhadap imigran. Semakin kuat persepsi bahwa kehadiran imigran dapat mengurangi kesempatan kerja atau kesejahteraan masyarakat lokal, semakin tinggi tingkat penolakan. Namun, penelitian lain menunjukkan bahwa sikap negatif tersebut bukan sesuatu yang statis. Orientasi keadilan sosial memiliki pengaruh signifikan terhadap penerimaan masyarakat terhadap imigran. Individu yang memiliki tingkat kesadaran sosial dan kepekaan terhadap ketidaksetaraan cenderung menunjukkan sikap lebih terbuka dan mendukung inklusi. Artinya, perubahan sikap dapat dibentuk melalui pendidikan dan pengalaman reflektif mengenai isu sosial. (Ahn et al., 2025)

Imigran menghadapi berbagai macam hambatan yang dapat menghalangi integritas sosial. Pertama, keterbatasan bahasa menjadi persoalan utama dalam Pendidikan, pekerjaan, dan kehidupan sehari-hari. Kedua, diskriminasi masih sering dialami baik dalam dunia kerja maupun interaksi sosial. Di lingkungan Pendidikan, anak-anak dari keluarga imigran lebih rentan mengalami perundungan dibanding siswa lokal (Ahn et al., 2025). Dalam konteks sosial penerimaan sosial menjadi kunci utama keberhasilan integrasi. Imigran hanya dapat hidup secara sehat dan produktif apabila mereka diterima ke dalam jaringan sosial masyarakat lokal. 

Pemerintah Korea Selatan telah memperkenalkan kebijakan multikultural terutama dalam Pendidikan dan layanan sosial keluarga. Namun, beberapa orang mengkritik bahwa kebijakan tersebut lebih menekankan penyesuaian budaya daripada penerimaan perbedaan, sehingga cenderung bersifat asimilatif daripada inklusif. Selain itu, terbatasnya undang-undang anti diskriminasi memperlemah perlindungan terhadap imigran. Korea Selatan secara konsisten membahas rencana undang-undang anti diskriminasi, namun hingga kini belum berhasisl mengesahkannya, sehingga diskriminasi berbasis rasa tau negara asal masih sering terjadi dalam pekerjaan maupun layanan publik (Lee & Kim, 2024).

(Iqbal, 2018) menekankan bahwa integrasi sosial imigran tidak hanya mencakup penguasaan bahasa, aturan sosial, dan nilai budaya lokal, tetapi juga sejauh mana imigran dapat diterima dan memiliki kesempatan yang setara dalam kehidupan sosial sehari-hari. Dalam konteks Korea Selatan, integrasi sosial sering kali mengalami hambatan karena akses bahasa dan stereotip sosial. Imigran menghadapi tantangan dalam memperoleh pekerjaan yang layak, terlibat dalam komunitas lokal, dan membangun hubungan sosial yang hangat dengan masyarakat setempat. Salah satu aspek penting dari poses adaptasi adalah interaksi sosial langsung. Semakin sering warga lokal berinteraksi dengan imigran dalam situasi yang seimbang dan bersifat kooperatif, maka semakin besar kemungkinan terbentuknya hubungan positif dan berkurangnya prasangka.

Menyoroti hubungan antara orientasi dominasi sosial dan penerimaan terhadap keberagaman. Individu yang mendukung hierarki sosial cenderung lebih menolak keberadaan kelompok luar, termasuk imigran. Namun, penelitian mereka menemukan bahwa modifikasi stereotipe (kemampuan untuk mengubah atau menyesuaikan pandangan awal mengenai kelompok lain) dapat menjadi mediator yang memperkuat penerimaan multikultural (Lee & Kim, 2024). Untuk memperkuat kebijakan dan inklusi sosial di Korea Selatan dapat dilakukan dengan memperkuat Pendidikan multikultural berbasis kesadaran kritis, agar masyarakat mampu memahami keberagaman secara reflektif. Selain itu, penting menciptakan ruang interaksi sosial yang setara antara warga lokal dan imigran untuk mengurangi prasangka. Pemerintah juga perlu menetapkan regulasi anti diskriminasi yang jelas, serta mendorong media membangun narasi positif mengenai kontribusi imigran dalam kehidupan sosian dan ekonomi.

Korea Selatan saat ini berada pada fase transisi sosial dari masyarakat monoetnis menuju masyarakat multikultural, namun proses ini menghadapi tantangan karena kuatnya identitas etnis, nilai kolektivisme, dan ancaman ekonomi yang memengaruhi sikap masyarakat terhadap imigran. Interaksi sosial tidak hanya bergantung pada kemampuan imigran untuk beradaptasi, tetapi juga pada keterbukaan masyarakat lokal dalam menerima keberagaman. Kebijakan multikultural perlu diarahkan pada pendekatan inklusif melalui Pendidikan multikultural berbasis kesadaran kritis, penguatan perlindungan hukum anti diskriminasi, dan pembentukan narasi media yang positif, agar tercipta hubungan sosial yang harmonis dan integratif antara warga lokal dan imigran.

Oleh: Nur Aisyah – 202410360110027

Referensi:

Ahn, H. W., Lee, H., & An, B. (2025). Fostering Inclusivity: The Impact of Social Justice Orientation on Attitudes Toward Immigrants in South Korea. Asia-Pacific Education Researcher, 34(4), 1401–1412. https://doi.org/10.1007/s40299-024-00953-z

ÇİZMECİ, S. S. (2022). A STUDY ON MULTICULTURALISM AND ADAPTATION PROBLEMS IN SOUTH KOREA. SOCIAL SCIENCE DEVELOPMENT JOURNAL, 7(29), 69–76. https://doi.org/10.31567/ssd.539

Han, S. (2022). An analysis of Koreans’ attitudes towards migrants by application of algorithmic approaches. Heliyon, 8(8). https://doi.org/10.1016/j.heliyon.2022.e10087

Iqbal, M. (2018). INTEGRASI DAN ADAPTASI SOSIAL MIGRANT DI KOREA SELATAN.

Lee, S., & Kim, B. (2024). Exploring How Stereotype Modification Mediates the Relationship between Social Dominance and Multicultural Acceptance. Behavioral Sciences, 14(9). https://doi.org/10.3390/bs14090745

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *