Menyongsong Keberlanjutan Lingkungan Masa Depan

Picture source: Pinterest

Korea Selatan semakin menunjukkan keseriusannya dalam menghadapi tantangan lingkungan global, seiring meningkatnya kesadaran akan dampak krisis iklim terhadap kehidupan sosial, ekonomi, dan kesehatan masyarakat. Pemerintah Korea Selatan mengintegrasikan isu lingkungan ke dalam kebijakan nasional melalui pendekatan yang dikenal sebagai Green Growth, yakni strategi pembangunan yang menempatkan keberlanjutan sebagai elemen utama tanpa mengorbankan pertumbuhan ekonomi. Kebijakan ini tidak hanya mencakup pengurangan emisi gas rumah kaca, tetapi juga mendorong investasi pada teknologi ramah lingkungan, efisiensi energi, serta pengembangan sektor energi terbarukan. Langkah-langkah konkret seperti penanaman kembali hutan, pengelolaan limbah plastik secara ketat, dan pembatasan kendaraan bermotor di wilayah perkotaan menjadi wujud nyata dari komitmen tersebut. Dengan berbagai upaya ini, Korea Selatan menjelma sebagai model negara maju yang aktif memimpin transformasi menuju ekonomi hijau, sekaligus memberikan inspirasi dan dorongan bagi negara-negara lain untuk mengikuti jejak serupa dalam menciptakan masa depan yang berkelanjutan.

Untuk merealisasikannya, pemerintah Korea Selatan mengadopsi kebijakan Green Growth sebagai strategi nasional untuk mengintegrasikan pertumbuhan ekonomi dengan pelestarian lingkungan. Kebijakan ini bertujuan untuk mengurangi emisi gas rumah kaca, mengembangkan teknologi ramah lingkungan, dan mendorong efisiensi energi. Melalui pendekatan ini, Korea Selatan berupaya memperbaiki kondisi lingkungan domestik yang terdampak oleh industrialisasi di masa lalu. Pada tahun 2008, Korea mengumumkan Low Carbon, Green Growth‘ sebagai visinya untuk pembangunan jangka menengah dan panjang jangka menengah (2009-2050) bersama dengan target sukarela pengurangan emisi GRK sebesar 30% dari skenario bisnis seperti biasa pada tahun 2020. Untuk mengimplementasikan visi ini, pemerintah meluncurkan Strategi Pertumbuhan Hijau Nasional pada tahun 2009 bersama dengan Rencana Lima Tahun (FYP) negara tersebut untuk tahun 2009-2013. Melalui konsep Five Year Development Plans yang dirancang oleh badan perancang ekonomi, Korea Selatan memiliki visi jangka panjang untuk mengarahkan pertumbuhan ekonomi. Rencana ini melibatkan berbagai sektor, termasuk industri, infrastruktur, penelitian dan pengembangan, serta pendidikan dan pelatihan tenaga kerja. Dengan adanya rencana yang terstruktur, pemerintah dapat mengalokasikan sumber daya dengan efisien dan mengidentifikasi sektor yang memiliki potensi untuk tumbuh dan berkembang.

Adapun dalam upaya mengurangi ketergantungan pada bahan bakar impor, terutama yang berbahan dasar fosil, Korea Selatan mengembangkan berbagai sumber energi terbarukan, termasuk tenaga surya dan angin. Korea Selatan telah meningkatkan investasi dalam energi angin, energi surya, dan energi air untuk mengurangi penggunaan bahan bakar fosil. Selain itu, pemerintah juga mendorong pengembangan teknologi energi nuklir yang lebih aman dan ramah lingkungan. Korea Selatan juga dikenal dengan sistem pengelolaan limbahnya yang efisien, termasuk kebijakan Volume-based Waste Fee dan Extended Producer Responsibility. Namun, tantangan tetap ada, terutama dalam pengelolaan sampah plastik. Meskipun tingkat daur ulang plastik diklaim tinggi, laporan Greenpeace menyebutkan bahwa hanya sekitar 27% sampah plastik yang benar-benar didaur ulang, menunjukkan perlunya peningkatan dalam sistem daur ulang dan pengurangan penggunaan plastik sekali pakai. Dalam menghadapi keterbatasan hutan daratan, Korea Selatan berfokus pada konservasi ekosistem pesisir seperti mangrove dan lahan basah sebagai bagian dari inisiatif “karbon biru”. Upaya ini bertujuan untuk meningkatkan kapasitas penyerapan karbon dan melindungi keanekaragaman hayati, sekaligus berkontribusi pada mitigasi perubahan iklim.

Korea Selatan sebagai negara yang digolongkan sudah maju, tidak hanya fokus pada isu lingkungan di dalam negeri, tetapi juga aktif membantu negara-negara berkembang dalam mengurangi emisi gas rumah kaca. Melalui kerja sama dengan berbagai lembaga internasional, seperti Green Climate Fund (GCF), Korea Selatan menyediakan bantuan teknis, pelatihan, dan program kesiapan untuk mendukung implementasi Perjanjian Paris. Upaya ini menunjukkan komitmen Korea Selatan dalam memperkuat kerja sama global menghadapi perubahan iklim. Melalui berbagai inisiatif nasional dan kontribusi internasional, Korea Selatan membuktikan dirinya sebagai salah satu pelopor dalam upaya mengatasi perubahan iklim secara global. Komitmen terhadap pembangunan berkelanjutan, pengembangan energi terbarukan, konservasi lingkungan, serta dukungan kepada negara-negara berkembang menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi tidak harus bertentangan dengan pelestarian alam. Dengan visi jangka panjang dan aksi nyata, Korea Selatan tidak hanya memperkuat posisinya sebagai negara maju yang bertanggung jawab, tetapi juga menjadi inspirasi bagi komunitas global dalam membangun masa depan yang lebih hijau dan berkelanjutan.

 

Oleh: Zuhair Baheramsyah

 

Bacaan lebih lanjut:

Finlayson, Robert. 2024. “South Korea Turns to Blue Carbon to Help Mitigate Climate Crisis – CIFOR-ICRAF Forests News.” CIFOR. https://forestsnews.cifor.org/83795/south-korea-turns-to-blue-carbon-to-help-mitigate-climate-crisis?fnl=.

Narita Candra Sari, and Arie Kusuma. “Kebijakan Green Growth Dan Inisiatif Ramah Lingkungan: Kontribusi Korea Selatan Dalam Mengurangi Dampak Negatif Industrialisasi Terhadap Lingkungan.” Journal Of Social Science Research 3 (2023): 11341–55.

Scheme, Emission Trading. “Global Good Practice Analysis on LEDS, NAMAs and MRV Www.Mitigationpartnership.Net/Gpa Republic of Korea National Green Growth Strategy of South Korea,” 2020. www.mitigationpartnership.net/gpa.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *