Sumber foto: Korean Cultural Center New York
Pada zaman sekarang, Korea Selatan masih menjadi salah satu destinasi wisata bagi teman-teman. Tapi guys, ternyata di Korea Selatan tidak hanya ada budayanya tersendiri namun, disana juga memiliki perpaduan budaya negara lain yang diterima oleh Korea Selatan. Telah lama dipengaruhi oleh budaya asing, terutama dari Cina dan Jepang. Hal ini dapat dilihat dari penggunaan Hanja (karakter Cina) dalam bahasa Korea dan adanya pengaruh budaya Jepang dalam seni, musik, dan kuliner Korea. Selain itu, sejarah panjang imigrasi juga turut membentuk masyarakat multikultural di Korea Selatan. Misalnya, kehadiran etnis Cina dan Jepang di Korea Selatan telah memperkaya budaya negara ini dengan tradisi dan kebiasaan mereka. Salah satunya, pasti teman-teman familiar dengan sekarang Korea Selatan yang terbuka dengan agama Islam terbukti dengan banyaknya masjid megah yang terletak di kota besar seperti Seoul, Itaewon, Jeonju, Ansan, Busan, Gwangju. Tidak hanya itu sekarang tempat publik serta kantor korporat di Korea Selatan memfasilitasi tempat khusus untuk beribadah bagi muslim yang tinggal disana.
Perbedaan Wilayah jadi Beda Negara
Pasti bingung kan teman-teman maksudnya kenapa beda wilayah jadi beda negara. Dikarenakan setiap wilayah pasti memiliki spesialitas dari sebuah negara yang spesifik. Salah satu contohnya yaitu, Ansan yang menjadi salah satu destinasi orang Indonesia jika berwisata ke Indonesia untuk melepas rindu. Kalau semisalnya nih teman-teman lagi rindu makanan nusantara bisa langsung ke Ansan aja! Tapi, di Ansan tidak hanya Indonesia saja, Ansan juga memiliki restoran khusus negara Asia Tenggara lainnya seperti, Thailand, Vietnam, Kamboja dsb. Teman-teman tahu tidak? Ansan juga memiliki julukan tersendiri yaitu Da-Munhwa-Eumsik-Geori yang kalau diartikan jadi ‘Jalanan Makanan Multikultural’.
Tidak hanya Ansan ya teman-teman! Ada juga yang teman-teman pasti lebih familiar lagi karena nama wilayah ini pernah menjadi latar drama korea loh. Bisa tebak gak ya? Betul teman-teman! Nama wilayah tersebut yaitu Itaewon. Pasti tidak asing ya di telinga teman-teman terutama buat yang sering nonton drakor nih. Awal mula Itaewon menjadi sebuah destinasi yaitu 1980-an, ketika Korea menjadi tuan rumah Olimpiade Asia Seoul 1986 dan Olimpiade Seoul 1988, serta banyak konferensi internasional. Melainkan Ansan, lingkup multikulturalisme di wilayah kecil ini cukup besar. Jika Ansan lebih fokus pada kawasan Asia Tenggara, namun, Itaewon lebih bercondong kepada budaya barat. Salah satu fun fact juga loh teman-teman. Di Itaewon ternyata bisa membayar dengan berbagai mata uang tidak hanya pakai won korea, namun bisa juga membayar dengan Dollar Amerika ataupun mata uang lainnya kepada penjual-penjual yang ada disana.
Korea Selatan: A Safe Place of Opportunities
Korea Selatan tidak hanya menjadi tempat destinasi wisata saja, Korea Selatan juga menjadi tempat destinasi untuk perkembangan diri. Terutama dikarenakan Korea-wave, sehingga menyebabkan banyaknya calon mahasiswa di Indonesia mendaftarkan dirinya melewati beasiswa yang ditawarkan dari pemerintah hingga pihak swasta yaitu, Global Korea Scholarship, AMA+ Scholarship, KAIST Scholarship, Hyundai Motor Scholarship, dan dsb. Selain itu pun, jaminan dari berpendidikan di Korea Selatan lebih bermanfaat untuk career path teman-teman. Universitas Negeri serta Swasta di Korea Selatan rata-rata memiliki akreditas internasional serta fokus kurikulumnya yang berbasiskan pada riset serta inovasi yang sehingga teman-teman nih yang tertarik banget untuk S1 ataupun S2 dan S3 teman-teman harus persiapkan dari sekarang karena peminat untuk berpendidikan di Korea Selatan ini peminatnya semakin meningkat per tahun.
Namun, tentunya teman-teman pasti memiliki kekhawatiran apakah teman-teman dapat diterima di lingkungan Korea Selatan ini. Jangan khawatir ya teman-teman! Pemerintah Korea Selatan telah mengambil beberapa langkah untuk mempromosikan multikulturalisme dan mengatasi tantangan yang terkait. Salah satu langkah tersebut adalah pembentukan Kementerian Kesetaraan Gender dan Keluarga pada tahun 2001, yang bertanggung jawab untuk merumuskan dan melaksanakan kebijakan terkait multikulturalisme. Selain itu, pemerintah juga telah mengeluarkan Undang-Undang Dasar Multikultural pada tahun 2007, yang bertujuan untuk melindungi hak-hak kelompok minoritas dan mempromosikan integrasi sosial. Jadi untuk teman-teman yang masih bermimpi untuk ketemu oppa Korea ganteng sambil menyantap kuliner lokal khas disana. Ayo teman-teman terus belajar yang giat agar bisa dapat beasiswa yang ditawarkan!




