Sumber gambar: Freepik
Gelar sebagai “negara dengan angka kelahiran terendah di dunia” yang dimiliki oleh Korea Selatan merupakan sebuah kontradiksi. Di balik kemajuan teknologi yang mengesankan dan fenomena Hallyu yang terkenal secara global, ada kenyataan kelam: suatu bangsa yang secara perlahan menghancurkan masa depannya sendiri. Meskipun pemerintah sudah menginvestasikan triliunan won ke dalam berbagai program insentif angka kelahiran masih enggan mengalami peningkatan. Ini menunjukkan bahwa masalahnya bukan disebabkan oleh kurangnya dana, melainkan terletak pada isu yang mendalam dan rumit, yaitu struktur sosial dan budaya Masyarakat modern di Korea Selatan. Krisis ini mencerminkan kondisi Masyarakat yang terjebak antara nilai-nilai tradisional dan fakta-fakta kehidupan modern.
Dalam kultur Korea yang amat persaingan, membesarkan anak telah bertransformasi dari sekedar kebutuhan alami menjadi sebuah usaha yang membutuhkan investasi besar. Pengeluaran yang sangat tinggi untuk Pendidikan, mulai dari Bimbingan Belajar hingga persiapan ujian masuk universitas, telah menciptakan sebuah perlombaan Pendidikan yang intens. Kekhawatiran akan ketidakmampuan untuk memberikan yang optimal bagi anak bukan hanya berkaitan dengan finansial, tetapi juga mengenai status Masyarakat. Memiliki anak namun tidak bisa memberinya Pendidikan terbaik dipandang sebagai sebuah kegagalan dalam konteks sosial(Seth, 2002)
Fenomena ini melahirkan yang dikenal sebagai “Sampo Generation” atau generasi yang meninggalkan tiga elemen penting: hubungan asmara, pernikahan, dan anak. Istilah ini dengan cara yang berlebihan menggambarkan keputusan generasi muda Korea yang merasa perlu untuk “menghapus” aspek-aspek dasar dalam kehidupan mereka demi bertahan secara finansial dan sosial(Kim, 2001). Sebuah studi oleh (Diah Nuraini, 2024) yang melakukan wawancara dengan komunitas Muslim di Mokpo menemukan bahwa tantangan ekonomi dan sistem kerja yang memerlukan komitmen waktu penuh menjadi faktor utama seseorang menunda atau bahkan enggan untuk memulai keluarga.
Salah satu elemen penting yang sering diangkat adalah perubahan peran perempuan. Saat ini, perempuan di Korea Selatan menduduki salah satu posisi paling terdidik di seluruh dunia. Mereka penuh ambisi terhadap karir dan memperoleh akses ke peluang yang dulunya tidak tersedia untuk mereka. Meskipun demikian, struktur masyarakat Korea yang masih sangat patriaki tidak mengalami perubahan secepat kemajuan pendidikan yang diperoleh oleh perempuan.
Di banyak rumah tangga, tanggung jawab untuk mengasuh anak, mengelola rumah, dan merawat orang tua tetap sepenuhnya menjadi tanggung jawab perempuan (Kim, 2001). Banyak perusahaan masih menunjukkan skeptisisme terhadap pekerja perempuan yang juga menjadi ibu, mengharapkan mereka harus memilih antara karir dan keluarga. Ketegangan antara tuntutan untuk menjadi “ibu yang sempurna” dalam kerangka budaya Konfusianisme dan menjadi “pekerja yang berkomitmen” dalam konteks kapitalisme modern menciptakan dilema yang menyakitkan. Bagi banyak perempuan yang berpendidikan tinggi, melepaskan karir yang dibangun dengan susah payah demi menjalani peran tradisional di rumah adalah pilihan yang kurang menarik. Oleh karena itu, banyak dari mereka memilih untuk tidak memiliki keluarga sama sekali.
Budaya kerja yang ada di Korea Selatan, yang memiliki struktur hierarkis dan ditandai oleh jam jam kerja yang Panjang (gwarosa), menjadi penghalang utama bagi kehidupan keluarga. Tradisi pojik (makan malam kelompok sambil mengkonsumsi alkohol) setelah waktu kerja resmi berakhir menyerap waktu dan tenaga yang seharusnya digunakan untuk menjalin hubungan dengan pasangan dan anak-anak. Ketika seorang ayah pulang larut setiap malam, tanggung jawab dalam merawat anak-anak secara tidak seimbang jatuh kepada ibu. Hal ini semakin memperkuat pandangan Perempuan bahwa pernikahan dan memiliki anak merupakan akhir dari kebebasan pribadi (Ananda Fajriani, 2024)
Nilai-nilai Konfusianisme yang mengedepankan ketaatan berbakti juga memiliki kontribusi signifikan terhadap krisis ini. Dalam teori, anak laki-laki, khususnya yang tertua, diharapkan menjadi pengasuh utama bagi orang tua yang sudah tua. Namun dalam kenyataannya, menantu perempuan seringkali yang memberikan sebagian besar dukungan praktis untuk mertua yang sudah lanjut usia. Tanggung jawab untuk merawat mertua yang menua juga menjadi beban bagi wanita yang sudah menikah di Korea. Beban berat dalam merawat orang tua yang semakin tua berpotensi meningkatkan risiko kesehatan buruk dan depresi pada perempuan, tanpa adanya timbal balik yang setara dari suami mereka. Terdapat stigma bahwa perempuan dianggap “hamba” untuk suami dan keluarga, sehingga semakin banyak perempuan muda yang memilih untuk meninggalkan lembaga tradisional yang secara tidak adil meminta pengorbanan dari mereka.
Krisis penurunan kelahiran di Korea Selatan sejatinya mencerminkan krisis dalam nilai-nilai dan tatanan sosial. Ini merupakan indikator dari sebuah komunitas yang terjebak di antara kemajuan ekonomi dan norma-norma tradisional, di mana para individu terlebih perempuan harus memilih di antara keberhasilan karier dan kehidupan berkeluarga, karena sistem yang ada tidak mendukung keduanya.
Upaya pemerintah yang hanya memberikan insentif finansial seperti tunjangan uang tunai dan bantuan perumahan, yang telah diterapkan sejak masa Presiden Moon Jae-in, bagaikan menempelkan perban pada luka yang seharusnya dijahit (Wardani 2020). Solusi yang diperlukan seharusnya lebih mendalam dan membawa perubahan yang signifikan:
- kerja yang lebih manusiawi perlu diatur secara hukum, bukan hanya sebagai saran, demi mendorong keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi.
- Promosi kesetaraan Gender yang nyata: Penting untuk melaksakan Promosi kampanye Tingkat nasional serta memberikan Pendidikan sejak usai dini engenai pembagian tanggung jawab domestic yang adil, dan memberikan insentif kepada para ayah agar mereka bisa mengambil cuti parental penuh, sebagai Langkah untuk meringankan beban Perempuan.
- Perubahan Narasi Sosial: ada kebutuhan yang mengubah perspektif yang melihat anak sebagai “beban ekonomi” menjadi “anggota komunitas yang harus didukung Bersama.” Ini akan membutuhkan reformasi dalam system Pendidikan guna mengurangi stress akibat persaingan.
Tanpa usaha kolektif untuk menciptakan kembali masyarakat yang mendukung keluarga dan menghargai keseimbangan antara kehidupan dan kerja, Korea Selatan akan terus mengalami penurunan angka kelahiran, yang membawa konsekuensi masa depan yang suram dengan populasi yang menyusut dan individu yang semakin terasing.
Oleh: Devi Anestasia Putri – 202410360110130
Referensi dan bacaan lebih lanjut:
Ananda Fajriani, Yonghwa Lee. 2024. “Faktor Sosial Di Balik Rendahnya Angka Kelahiran Di Korea Selatan.” https://journal.ummat.ac.id/index.php/semnaslppm/article/view/23529.
Kim, J.S. 2001. “Daughters-in-Law in Korean Caregiving Families.” https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/11686754/.
MARLINA RAMADHANTI, WARDANI. 2020. “STRATEGI PEMERINTAH KOREA SELATAN DALAM MENGATASI KRISIS DEMOGRAFI DI ERA MOON JAE IN.” http://repository.umy.ac.id/handle/123456789/35540.
Nuraini, Diah. 2024. “Keputusan Tidak Menikah, Tidak Memiliki Anak Di Korea Selatan Di Adopsi Muslim Saat Ini.” https://ejournal.stitbima.ac.id/index.php/fitua/article/view/636.
Sent, Michael J. 2002. “Education Fever: Society, Politics, and the Pursuit of Schooling in South Korea.” https://archive.org/details/educationfeverso0000seth.



