Sumber gambar: Pinterest
Korea Selatan telah mengalami peningkatan yang signifikan terkait pernikahan multikultural atau damunhwa gyeolhon dalam beberapa tahun terakhir, sebagai hasil dari globalisasi dan meningkatnya interaksi antar negara, termasuk karena pengaruh Hallyu (Korean Wave) dan pasar tenaga kerja global. Pada awal tahun 1990, fenomena pernikahan antarbangsa ini tidak popular, namun kemudian meningkat ketika banyak pria Korea menikahi perempuan dari negara lain, terutama Asia Tenggara dan Tiongkok. Pemicu dari munculnya fenomena ini berasal dari berbagai faktor, termasuk meningkatnya mobilitas global dan ketidakseimbangan gender dalam populasi yang siap menikah. Meningkatnya jumlah pernikahan antara warga Korea dengan warna negara asing menjadi topik penting yang memerlukan kajian mendalam mengenai dampak sosial, tantangan, serta peluang yang muncul dari keberagaman. Menurut statistik terbaru, pernikahan dengan warga negara asing meningkat sebesar 18,3% pada tahun 2023, totalnya sekitar 20.000 pernikahan baru. Fenomena ini tidak hanya menunjukkan transformasi sosial di Korea Selatan, tetapi juga berbagai tantangan dan peluang dalam proses integrasi budaya. Kebijakan pendidikan yang awalnya dirancang untuk membangun keseragaman budaya, kini harus beradaptasi dengan kebutuhan anak-anak dari latar belakang yang beragam. Dalam konteks ini, pendidikan tidak hanya berfungsi sebagai sarana integrasi sosial, tetapi juga berperan penting dalam membentuk dan mempertahankan identitas budaya anak-anak multikultural. Selain itu populasi anak yang lahir dari keluarga multikultural juga terus mengalami peningkatan bahkan tercatat per tahun 2023 angka kelahiran dari pernikahan multikulturan mencapai 12.150 anak yang mencakup 5,3% dari seluruh kelahiran di Korea Selatan. Dari jumlah tersebut 59,3% merupakan anak dari ayah Korea dan ibu asing, 21,9% ibu Korea dan ayah asing, serta 18,8% orang tua naturalisasi.
Dalam upaya menegakkan nilai-nilai hak asasi manusia serta membangun masyarakat yang lebih inklusif, para pemimpin pendidikan di Korea Selatan belakangan ini telah memperkenalkan berbagai kebijakan baru yang berfokus pada integrasi kelompok budaya berbeda. Kebijakan ini dikenal dengan istilah Damunhwa atau pendidikan multikultural, dengan tujuan untuk menciptakan lingkungan belajar di mana anak-anak dari beragam latar belakang etnis dan budaya dapat tumbuh, belajar, dan berinteraksi secara setara. Menurut laporan Kementerian Pendidikan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (MEHRD) di tahun 2006, jumlah siswa dari keluarga internasional di Korea Selatan pada awal tahun 2000-an menunjukkan tren peningkatan yang konsisten, dengan kenaikan lebih dari 30% setiap tahunnya. Puncaknya terjadi pada tahun 2005, ketika angka tersebut melonjak hingga melampau 68%.
Dinamika Pertumbuhan Keluarga Multikultural di Korea Selatan
Korea Selatan saat ini Tengah mengalami perubahan demografis yang cukup besar, ditandai dengan meningkatnya angka kelahiran dan pernikahan, termasuk dalam kalangan keluarga multikultural. Pada tahun 2024, jumlah dan keluarga multikultural naik pada angka 10,4%, mencapai lebih dari 13.000 kelahiran, sementara pada pertengahan tahun 2025 tercatat lonjakan pernikahan terbesar dalam 15 tahun dengan 18.487 pasangan yang menikah. Dalam hal ini, menunjukkan bahwa masyarakat Korea mulai semakin terbuka dalam keberagaman dan keluarga lintas budaya. Tingkat kelahiran nasional tetap rendah, sekitar 0,76% dan proses integrasi sosial serta pendidikan bagi anak-anak multikultural masih perlu diperkuat. Karena itu, pemerintah perlu terus mendorong kebijakan yang inklusif agar anak-anak dari keluarga multikultural dapat tumbuh dengan identitas budaya yang kuat dan dapat diterima sepenuhnya oleh masyarakat yang semakin beragam. Perkembangan pendidikan yang ada di Korea Selatan dapat dibagi ke dalam tiga fase utama, pada periode 1945-1950 pemerintah Korea Selatan berfokus membangun kembali sistem pendidikan nasional dan menghapus warisan pendidikan kolonial. Memasuki tahun 1960-1990, pendidikan di Korea Selatan mulai ada perkembangan yang pesat di seluruh lapisan masyarakat di bawah kebijakan pemerintah.
Pada tahun 2018 terdapat survey yang menunjukkan bahwa banyak anak-anak yang terlahir dari keluarga multikultural di Korea Selatan masih menghadapi kesulitan untuk beradaptasi di sekolah karena terdapat hambatan dari segi bahasa, tantangan belajar, serta diskriminasi dari teman dan juga guru. Selain itu, di tahun 2021 mencatat bahwa sekitar 9% siswa multikultural ini mengalami kasus pelecehan di sekolah, menggambarkan masih kuatnya tantangan sosial yang mereka hadapi dalam lingkungan pendidikan. Kementerian Kesetaraan Gender dan Keluarga mengungkapkan bahwa keluarga multikultural dengan penghasilan di bawah rata-rata dan memiliki anak berusia 7-18 tahun bisa mendaftarkan diri untuk mendapatkan bantuan dari pemerintah, yang bertujuan untuk membantu mengurangi kesenjangan tingkat pendidikan. Kementerian Kesetaraan Gender dan Keluarga (MOGEF) telah merancang kebijakan yang menyesuaikan dukungan dengan fase adaptasi dan perkembangan keluarga multikultural, serta membentuk pusat-pusat layanan di tingkat lokal sebagai sarana implementasi.
Respons Kebijakan Pendidikan terhadap Anak Multikultural
Korea Selatan meluncurkan program pendidikan bahasa korea baru yang dirancang untuk siswa multikultural agar mudah dan bisa membantu beradaptasi serta meningkatkan prestasi akademik mereka, melalui program yang bernama“2025 Da-ieum Korean as a Second Language Program (KSL)”. Melalui program ini, setiap mahasiswa akan diberikan pendamping instruktur bahasa Korea dengan mengunjungi sekolah secara langsung. Selain program tersebut, pemerintah juga membuat 40 kursus bahasa Korea yang ditawarkan pada akhir tahun 2024 berduarsi tiga bulan hingga satu tahun, pemerintah memberikan kursus ini di 33 kota dan kabupaten yang memiliki sekolah dengan lebih 100 siswa dengan setidaknya 30% siswa berasal dari keluarga multikultural.
Mahasiswa pendatang yang datang terlambat atau yang berasal dari keluarga multikultural akan mendapatkan dukungan khusus dari pemerintah melalui program peningkatan kemampuan berbahasa Korea. Pemerintah Korea Selatan akan memberikan akses bagi para anak-anak multikultural ke layanan konseling yang dirancang secara personal, tingkat penguasaan bahasa korea, serta status visa masing-masing anak. Hal ini bertujuan untuk membantu anak-anak dalam proses adaptasi mereka secara menyeluruh. Pemerintah melakukan kolaborasi dengan Kementerian Kehakiman, untuk merancang kebijakan visa yang bertujuan membuka jalan bagi lulusan SMA dari keluarga multikultural. Bagi para guru, untuk meningkatkan kemampuan mereka dalam membantu siswa multikultural, Kementerian pendidikan berencana menerapkan program pelatihan yang direncanakan secara bertahap.
Implikasi Kebijakan terhadap Identitas Budaya Anak Multikultural
Dalam beberapa tahun terakhir, kebijakan pemerintah Korea menunjukkan kemajuan dalam membuka akses pendidikan tinggi bagi anak-anak keluarga multikultural. Pendaftaran antara mahasiswa multikultural dan non-multikultural telah berkurang secara signifikan, namun tantangan identitas budaya belum sepenuhnya hilang. Meskipun angka diskriminasi menurun, 13% individu dari keluarga multikultural masih melaporkan pengalaman diskriminatif, serta hamper 40% pekerja masih berada di sektor fisik atau manual, yang mencerminkan keterbatasan dalam akses ke pekerjaan yang berpenghasilan tinggi. Meskipun Korea Selatan telah menerapkan kebijakan pendidikan multikultural sejak 2006, pendekatannya masih lebih condong pada penyeragaman budaya ketimbang penguatan identitas anak-anak dari latar belakang beragam. Anak-anak yang berlatar belakang dari keluarga multikultural elum sepenuhnya mendapat ruang untuk mengenali dan menumbuhkan jati diri budayanya. Ketidakterpaduan antar jenjang pendidikan membuat pengalaman belajar mereka terputus-putus. Hal ini menunjukkan bahwa kebijakan yang ada belum sepenuhnya menjembatani kesenjangan sosial dan ekonomi yang memengaruhi pembentukan identitas budaya anak-anak multikultural. Dengan kata lain, meskipun arah kebijakan sudah mulai berpindah ke jalur yang lebih inklusif, pelaksanaannya masih belum cukup menyentuh aspek keseharian yang membentuk rasa keberterimaan dan harga diri anak-anak dari latar belakang multikultural.
Kesimpulan
Korea Selatan mengalami perubahan demografis signifikan akibat meningkatnya pernikahan multikultural dan kelahiran anak dari keluarga lintas budaya, yang mendorong transformasi sosial dan menuntut adaptasi kebijakan pendidikan. Pemerintah merespons dengan menerapkan pendidikan multikultural (Damunhwa), termasuk program bahasa Korea seperti “Da-ieum Korean as a Second Language”, pelatihan guru, konseling personal, dan kebijakan visa yang mendukung anak-anak multikultural. Meski akses pendidikan dan dukungan sosial meningkat, anak-anak dari keluarga multikultural masih menghadapi hambatan bahasa, diskriminasi, dan keterbatasan ekonomi yang memengaruhi proses adaptasi dan pembentukan identitas budaya mereka. Pendekatan kebijakan yang cenderung menyeragamkan budaya belum sepenuhnya memberi ruang bagi anak-anak untuk mengenali dan menumbuhkan jati diri budayanya, sehingga diperlukan kebijakan yang lebih holistik dan berkelanjutan agar pendidikan benar-benar menjadi sarana inklusi sosial dan penguatan identitas dalam masyarakat Korea yang semakin beragam.
Oleh: Najma Alya Perwitasari – 202210360311090
Referensi dan bacaan lebih lanjut:
Hanchingu. (2024, November 26). Pernikahan multikultural: Menggali dinamika keluarga di Korea Selatan. Hanchingu | Peminat studi Korea di Indonesia. https://hanchingu.com/pernikahan-multikultural-menggali-dinamika-keluarga-di-korea-selatan/
Park, G. C., & Watson, S. L. (2011). In Context: Multicultural Education in Korea–Lessons for American Educators. Multicultural education, 19(3), 2-6.
Statistics Korea. (2024). Birth Statistics in 2023. Ministry of Data and Statistics, Republic of Korea. Retrieved from https://kostat.go.kr/board.es?act=view&bid=11773&list_no=433208&mid=a20108100000
Pemerintah Republik Korea. (2024). Jumlah kelahiran bayi multikultural meningkat 10,4%. Korea.net. https://indonesian.korea.net/NewsFocus/Society/view?articleId=281872
Buana, G. (2025, Agustus 28). Korea Selatan catat lonjakan pernikahan terbesar dalam 15 tahun, kelahiran ikut meroket. Media Indonesia. https://mediaindonesia.com/internasional/805951/korea-selatan-catat-lonjakan-pernikahan-terbesar-dalam-15-tahun-kelahiran-ikut-meroket
Ningsih, W., Dirma, P. Z. N., Maisaroh, M., & Ananda, R. Studi Komparasi Pendidikan Korea Selatan. PEDADIDAKTIKA: Jurnal Ilmiah Pendidikan Guru Sekolah Dasar, 11(2), 265-278
Jeon, M. (2025, April 21). Anak-anak Keluarga Multikultural Berhak Dapatkan Bantuan untuk Pendidikan. Korea.net. https://indonesian.korea.net/NewsFocus/policies/view?articleId=270159
Paik, J.-H. (2025, 28 Mei). Seoul to roll out Korean language educational program for multicultural students. Korea JoongAng Daily. https://koreajoongangdaily.joins.com/news/2025-05-28/national/socialAffairs/Seoul-to-roll-out-Korean-language-educational-program-for-multicultural-students/2317744
Jun, J.-H. (2023, September 26). Gov’t to boost Korean language education for multiethnic students. The Korea Times. https://www.koreatimes.co.kr/amp/southkorea/society/20230926/govt-to-boost-korean-language-education-for-multiethnic-students/2317744
Kim, A. (2018). Social exclusion of multicultural families in Korea. Social Sciences, 7(4), 63.
Jung, M.-H. (2025, July 31). Multicultural families see rising incomes, reduced educational barriers. The Korea Times. https://www.koreatimes.co.kr/southkorea/globalcommunity/20250731/multicultural-families-see-rising-incomes-and-reduced-educational-barriers
Yu, S., Gil, M., Lyu, S. R., & Son, K. (2025). Multicultural awareness and educational continuity among early childhood and elementary school teachers in South Korea. International Journal of Early Childhood, 1-20.




