K-Pop sebagai Sarana Diplomasi Budaya dan Pengaturan Multikulturalisme di Korea Selatan

Sumber gambar: Pinterest

 

Korean Pop (K-Pop) adalah satu pesan verbal dalam media hiburan yaitu musik. Pada awalnya K-Pop hanya berkembang di Kawasan Asia, namun seiring dengan berjalannya waktu media hiburan ini mulai berkembang hingga manca negara. Di negara asalnya yaitu Korea Selatan, K-Pop merupakan suatu fenomena yang biasa di kalangan anak muda dan sudah menjadi gaya hidup mereka. K-Pop telah menjadi industri musik yang sangat diminati oleh berbagai kalangan, bukan hanya anak muda melainkan hingga kalangan dewasa pun ikut menikmatinya. Setelah berkembangnya K-Pop di berbagai penjuru dunia banyak anak-anak muda yang terinspirasi bahkan mengikuti perilaku bahkan sampai penampilan mereka (Ummah 2019) .

Korea Selatan telah mengalami perubahan yang signifikan dari salah satu negara yang menjadi salah satu kekuatan budaya global melalui fenomena Korean Wave, khususnya melalui musik K-Pop. Menurut (Shafie 2025) , K-Pop yang didefinisikan sebagai musik populer Korea, telah berkembang menjadi instrumen diplomasi budaya yang efektif, memungkinkan Korea Selatan untuk memperluas pengaruh soft powernya di panggung internasional. Fenomena ini tidak hanya mencerminkan keberhasilan industri hiburan Korea Selatan, tetapi juga menunjukkan bagaimana budaya populer dapat digunakan sebagai alat untuk membangun hubungan internasional dan mempromosikan multikulturalisme.

Diplomasi budaya Korea Selatan melalui K-Pop dimulai pada akhir tahun 1990-an ketika series di televisi Korea berhasil ditayangkan di beberapa negara Asia. Sejak itu, pemerintah Korea Selatan secara strategis mendukung industri hiburan dengan menyediakan dana besar, meresmikan agensi kreatif, membangun gedung konser, dan bahkan menciptakan kota khusus untuk serial drama. Upaya ini menunjukkan komitmen negara dalam menggunakan budaya sebagai sarana diplomasi yang ditulis oleh (Nugrahadi 2021) . Diplomasi budaya didefinisikan sebagai pertukaran ide, informasi, seni, dan aspek kebudayaan lainnya antara negara-negara dengan tujuan membangun mutual understanding (pemahaman bersama). Korea Selatan menggunakan K-Pop sebagai alat diplomasi untuk meningkatkan citra positif di negaranya dan memperkaya akan soft powernya yang dikenal dari kekayaan budaya, pengalaman politik dan pertumbuhan ekonomi negara tersebut.

Strategi diplomasi budaya Korea Selatan melalui tiga tahapan utama: pengenalan, kebijakan, dan pembentukan kerjasama. (Fachrie 2023) mengatakan bahwa pada tahap pengenalan, Korea Selatan memperkenalkan budayanya melalui komunikasi antara individu, pengusaha, dan aktivis yang didukung oleh media sosial dan platform digital. Tahap kebijakan menunjukkan keseriusan pemerintah Korea Selatan dalam mendukung diplomasi budaya. Melalui Diplomatic White Paper yang diterbitkan sejak 2006, Kementerian Luar Negeri Korea Selatan menegaskan bahwa Korean Wave termasuk K-Pop merupakan bagian penting dari kebijakan luar negeri untuk mengembangkan citra positif negara. Pada tahun 2014, pemerintah Korea Selatan memiliki dana investasi sebesar $1 miliar untuk memelihara budaya populer.

Adapun dampak K-Pop terdapat dalam pemahaman multikultural di dalam K-Pop yaitu Pertama, Korea Selatan berhasil menerapkan strategi pemasaran yang cerdas dan terpadu dalam mempopulerkan K-Pop seperti BLACKPINK untuk memperkuat hubungan diplomatik antara Korea Selatan dan negara lain. (Mahadewi 2024) mengatakan jika dilihat di dalam bidang promosi BLACKPINK berduet dengan Lady Gaga pada perjamuan menunjukkan seberapa besar nilai yang ditempatkan pada BLACKPINK sebagai duta budaya. Penampilan mereka ini juga akan berfungsi sebagai jembatan untuk mengikat hubungan kedua negara. Kedua, Penyebaran K-Pop membawa pengaruh besar terhadap pola interaksi dan penerimaan budaya asing melalui komunitas penggemar lintas negara seperti ARMY dan BLINK. Ketiga, K-Pop menjadi alat diplomasi budaya yang efektif bagi Korea Selatan. Melalui dukungan pemerintah dan strategi digital global, K-Pop tidak hanya memperkenalkan budaya Korea tetapi juga mendorong pertumbuhan ekonomi nasional. Selain itu, keberhasilan grup seperti BTS dalam kampanye global dan kerja sama dengan organisasi internasional menunjukkan bahwa K-Pop mampu dalam memperkuat hubungan diplomatik dan pengaruhnya di dunia.

K-Pop juga memainkan peran penting dalam mempromosikan multikulturalisme, baik di dalam Korea Selatan maupun secara global. Melalui musik, fashion, video klip dan K-Pop memperkenalkan elemen-elemen budaya Korea seperti bahasa, makanan, dan gaya hidup yang pada akhirnya menciptakan citra positif tentang Korea Selatan dan memperkuat identitas nasional di tingkat global. Lebih lanjut lagi, (Zulkifli 2025) menjelaskan bahwa K- Pop telah menciptakan identitas global di mana penggemar dari dari berbagai latar belakang budaya mengadopsi elemen budaya Korea, bahasa, dan nilai-nilai menciptakan ruang digital bersama di mana kelompok internasional berpartisipasi dalam narasi budaya dan gerakan sosial. Fenomena Korean Wave telah menarik perhatian dan kekaguman orang-orang dari berbagai negara dan latar belakang memberikan perspektif unik mengenai globalisasi budaya dan keterhubungan berbagai masyarakat.

Peran aktor non negara dalam diplomasi budaya melalui K-Pop, Korea Selatan tidak hanya mengandalkan aktor negara tetapi juga didukung oleh aktor non negara seperti perusahaan hiburan swasta (SM Entertainment, YG Entertainment, JYP Enterntainment) dan para artis K-Pop itu sendiri. Menurut (Suratmi 2024) ,manajemen-manjemen artis K-Pop memiliki pendapatan yang sangat besar, dengan SM Entertainment mencapai 640 miliar won ( sekitar 7,7 triliun rupiah) dan YG Entertainment mencapai 680 miliar won (sekitar 8,2 triliun rupiah), menunjukkan kontribusi signifikan terhadap perekonomian Korea Selatan.

Meskipun K-Pop telah membawa banyak manfaat bagi diplomasi budaya Korea Selatan, terdapat beberapa tantangan beberapa tantangan dan kritik yang perlu diperhatikan. Perilaku kontroversial yang melibatkan artis K-Pop dapat memengaruhi citra mereka dan secara tidak langsung citra Korea Selatan, seperti isu tentang merokok atau penggunaan vape dalam ruangan yang sering menjadi perhatian media internasional. Selain itu, terdapat kekhawatiran mengenai imperialisme budaya, di mana ekspansi global hiburan Korea dapat dipersepsikan sebagai alat strategis untuk pengaruh nasional daripada pertukaran budaya yang murni. Kritik juga muncul terkait kondisi kerja artis dengan banyak idola K-Pop yang mengalami program pelatihan ketat, seringkali dimulai pada usia muda, dengan otonomi terbatas atas kehidupan pribadi mereka. (Angesti and Purnama 2024) menyatakan bahwa tekanan untuk mempertahankan citra sempurna di depan publik sering kali menyebabkan stres psikologis dan masalah kesehatan mental. Alih budaya juga menyoroti bahwa keberhasilan K-Pop dapat memperkuat standar kecantikan dan performa yang tidak realistis. Meskipun itu industri K- Pop tetap dipandang sebagai kekuatan ekonomi dan budaya yang signifikan, meski diwarnai oleh dinamika dan ketegangan antara orientasi bisnis dan kreativitas artistik.

K-Pop telah berkembang dari sekadar industri hiburan menjadi instrumen diplomasi budaya yang efektif bagi Korea Selatan yang memperluas pengaruh soft powernya di era global melalui strategi yang meliputi tahap pengenalan, kebijakan, dan kerjasama. Dampaknya tidak hanya memperkuat citra positif dan ekonomi negara serta hubungan diplomatik seperti yang ditunjukkan oleh grup seperti BTS dan Blackpink tetapi juga mempromosikan multikulturalisme dengan menciptakan identitas global dan ruang digital bersama bagi penggemar lintas budaya. Dan penting bagi Korea Selatan untuk terus mengembangkan kebijakan strategis dan kerangka kerja etis dalam diplomasi budayanya guna untuk memastikan kontribusi jangka panjang K-Pop bagi perdamaian global dan hubungan internasional yang harmonis.

 

Oleh: Novita Dwi Prasetya – 202410360110154

 

Bacaan lebih lanjut:

Angesti, Annisa Rahmadhani, and Chandra Purnama. 2024. “Diplomasi Budaya Korea Selatan Melalui Grup Idola K-Pop Terhadap Publik Indonesia 2020-2022” 6 (1): 60–73. https://doi.org/10.24198/padjirv6i1.49284.

Fachrie, Muhammad. 2023. “UNCOVERING THE WAY OF K-POP AS A CULTURAL DIPLOMACY STRATEGY SOUTH KOREA IN INDONESIA” 15 (1): 1–19.

Mahadewi, Cendana. 2024. “Analisis Peran BLACKPINK Dalam Diplomasi Ekonomi Dan Politik Korea Selatan,” no. December.

Nugrahadi, Novario. 2021. “Korea Selatan Menggunakan Kebudayaannya Untuk Pendekatan Soft Power Diplomacy,” no. October.

Shafie, Tara. 2025. “K-Pop Idols as Diplomats : South Korean Celebrities and Soft Power.” Athens Journal of Politics & International Affairs, no. 1, 1–23.

Suratmi, Asri. 2024. “Korean Wave as a Tool of Public Diplomacy : The Impact of South Korean Cultural Globalization in Indonesia from 2018 to 2023” 2 (1).

Ummah, Masfi Sya’fiatul. 2019. “No 主観的健康感を中心とした在宅高齢者における 健康関連指標に関する共分散構造分析Title.” Sustainability (Switzerland) 11 (1): 1–14. http://scioteca.caf.com/bitstream/handle/123456789/1091/RED2017-Eng-8ene.pdf?sequence=12&isAllowed=y%0Ahttp://dx.doi.org/10.1016/j.regsciurbeco.2008.06.005%0Ahttps://www.researchgate.net/publication/305320484_SISTEM_PEMBETUNGAN_TERPUSAT_STRATEGI_MELESTARI.

Zulkifli, Noraini. 2025. “K – Pop as a Diplomatic Tool in the Creation of Global Connectivity Noraini Zulkifli,” no. June, 107–13.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *