Picture source: Sayurbox
Korean Food, atau biasa kita kenal dengan K-Food di zaman sekarang, merujuk pada ragam masakan tradisional dan kontemporer Korea yang menekankan keseimbangan rasa asin, pedas, manis, dan lainnya. Di meja makan Korea, nasi hangat yang dikenal juga dengan sebutan “bap” dan sup atau rebusan (guksu, jjigae) mendominasi, sementara banchan aneka lauk kecil seperti sayur tumis, acar, dan salad ikut untuk menghiasi sekelilingnya. Teknik fermentasi menjadi ciri khas utama, bisa dilihat pada gochujang (pasta cabai), doenjang (pasta kedelai), dan tentu saja kimchi juga ikut dalam daftar tersebut, yang bukan hanya menambah kedalaman cita rasa, tetapi juga nilai gizi probiotiknya. Makanan Korea sebagian besar ialah hasil fermentasi dan sebagian besarnya sudah terkenal di dunia karena diakui manfaat kesehatannya, salah satu contohnya ialah kimchi (asinan sayur hasil fermentasi yang diberi bumbu pedas) dan doenjang (pasta kedelai yang difermentasikan) .
Kimchi adalah hidangan makanan fermentasi tradisional Korea yang terbuat dari sayuran segar, paling banyak di gunakan ialah sawi putih, yang telah direndam garam untuk mengeluarkan kadar airnya. Setelah itu, sayuran dicampur dengan bumbu utama yang dinamakan dengan gochugaru (bubuk cabai merah), bawang putih, jahe, serta saus ikan atau udang asin. Proses fermentasi ini terjadi dalam wadah yang kedap udara pada suhu yang rendah, biasanya antara 0-10 derajat celcius, selama beberapa hari hingga beberapa minggu. Kimchi memiliki cita rasa yang asam, berwarna kemerahan karena dalam pembuatannya menggunakan cabai. Cara mengonsumsinya bisa dikonsumsi secara langsung sebagai pendamping makanan ataupun bisa diolah terlebih dahulu, contohnya dibuat menjadi sup kimchi atau kimchi jjigae. Dari dulu hingga sekarang kimchi adalah makanan wajib di Korea Selatan karena dengan mengonsumsi kimchi dapat mendatangkan manfaat bagi tubuh. Begitu banyak manfaat yang didapatkan apabila kita mengonsumsi kimchi ini. Proses fermentasi dalam pembuatan kimchi menyebabkan berkembangnya bakteri baik atau probiotik yang bermanfaat bagi tubuh. Bakteri baik yang terkandung dalam kimchi ialah Lactobacillus. Bakteri ini memang telah diakui bahwasanya membawa banyak manfaat. Kimchi dapat berperan sebagai sumber probiotik bagi tubuh. Probiotik yang terdapat pada kimchi adalah bakteri asam laktat yang berkembang selama proses fermentasi. Bakteri asam laktat yang terdapat pada kimchi diketahui dapat menghambat aktivasi enzim karsinogenik. Selain itu, menurut penelitian, kimchi memiliki manfaat sebagai anti peradangan, dapat meningkatkan kekebalan tubuh, dan menurunkan kolesterol yang berkorelasi dengan anti-aterosklerosis.
Di zaman sekarang ini kimchi secara global telah dianggap sebagai makanan yang sehat, perjalanannya tidak pernah mulus sejak dulu dan adanya hambatan. Kimchi pernah dianggap sebagai makanan inferior bagi orang yang kurang mampu dan dibenci karena memiliki aroma yang kurang sedap. Berkembangnya Hallyu atau gelombang Korea membikin kimchi ikut naik daun di kancah internasional. Restoran Korea menjamur di berbagai belahan dunia, salah satunya di Indonesia, dan produk kimchi kini mudah ditemukan di supermarket luar negeri maupun di dalam negeri. Konten digital seperti makan besar (mukbang) dalam bentuk video makan dan drama Korea juga berperan besar dalam memperkenalkan kimchi di kancah global.
Di sisi lain, pemerintah Korea melihat adanya peluang dari tren global dengan mendorong diplomasi melewati kuliner sebagai bagian dari strategi soft power. Promosi kimchi dilakukan melalui festival makanan, kerjasama dengan restoran internasional, hingga penyertaan kimchi dalam bentuk paket bantuan kemanusiaan. Semua ini menjadi memperkuat citra bangsa Korea sebagai bangsa yang tidak hanya unggul dalam teknologi dan budaya pop melainkan juga dalam segi kuliner yang khas dan sudah menyentuh kancah internasional atau mendunia.
Sekarang produsen kimchi berinovasi untuk menyesuaikan selera global. Kini, masyarakat bisa menemukan varian kimchi yang lebih ringan, bebas bawang putih, tidak terlalu pedas, atau bahkan vegan friendly, tanpa bahan tambahan atau hewani. Inovasi seperti ini memperlihatkan bagaimana kimchi mampu bertransformasi menjadi produk global tanpa kehilangan identitas tradisionalnya. Fleksibilitas inilah yang menjadi kunci keberhasilan kimchi sebagai simbol budaya Korea yang mampu bertahan di tengah arus globalisasi yang terus berkembang sampai saat ini.
Oleh: Dimas Nugraha Andriyanto
Bacaan lebih lanjut:
Masbudi, M., Yuwono, E. C., & Kurniawan, A. S. (n.d.). Perancangan buku pengenalan makanan khas Korea. Program Studi Desain Komunikasi Visual, Fakultas Seni dan Desain, Universitas Kristen Petra.
Lupitasari, E. S., Nurlaela, L., Suhartiningsih, & Miranti, M. G. (n.d.). Pengaruh Korean Wave dan makanan Korea terhadap minat makan hidangan Korea pada masyarakat Kota Madiun. Pendidikan Tata Boga, Universitas Negeri Surabaya.
In, L. (2021, March 30). Kimchi, makanan fermentasi dari Korea Selatan, dan manfaatnya untuk kesehatan tubuh. Retrieved from https://www.example.com
Kanal Pengetahuan FTP UGM. (2021, November 7). Kimchi: Semakin menyehatkan dengan adanya fermentasi. Retrieved from https://www.ftp.ugm.ac.id




