Sumber gambar: Pinterest
KATSEYE (2024): Sophia (Philipina), Yoonchae (Korea Selatan), Manon (Swiss), Daniella (Amerika Serikat), Lara (India), dan Megan (Tionghoa-Singapura)
Di era globalisasi yang mempercepat pertukaran budaya antar negara, Multikultular ternyata masih dianggap sebagai ancaman karena kecenderungannya untuk mengesensialkan budaya dan menetapkan batas-batas budaya bagi suatu negara, termasuk di Korea Selatan. Sudah menjadi pengetahuan umum bagi masyarakatnya bahwa Korea adalah negara yang homogen, hal ini bahkan telah ditanamkan kepada mereka sejak menginjak bangku sekolah dasar (Chae Jung Min, 2006). Kembali kemasa lalu, saat Korea selatan masih negara miskin yang berulang kali dijajah oleh negara negara tetangga seperti Jepang dan Tiongkok, penekanan pada “garis Korea keturunan murni” menjadi penggerak persatuan akan perasaan satu nasib yang kemudian membentuk identitas kebanggaan nasional sebagai negara satu ras dan perilaku masyarakat Korea selatan hingga saat ini.
Namun belakangan, Korea Selatan diprediksi sedang bertransformasi menjadi negara multikultural atau multiras. Di era globalisasi dengan kemudahan dalam bepergian dari negara satu ke negara lain, rupanya berdampak pada peningkatan jumlah individu yang bepergian, bekerja atau belajar di luar negeri. Meningkatnya angka pekerja asing yang masuk memperbesar angka pernikahan internasional. Awal dari fenomena ini tidak terlepas dari peran pemerintah. Meningkatnya angka wanita dari pedesaan yang pindah ke kota membuat pemerintah harus turun tangan dengan mendatangkan wanita Tionghoa Korea untuk warga pedesaan yang belum menikah. Dalam perkembangannya, jumlah pernikahan multikultural mencapai 21.450 pada tahun 2024, naik 1.019 dari 20.431 tahun sebelumnya, menurut data Kementerian Data dan Statistik.
Tentunya fenomena ini menjadi tantangan tersendiri untuk masyarakat Korea Selatan yang dikenal dengan homogenitas dan nasonalisme yang yang kuat. Masyarakat Korea sendiri memiliki konsep identitas dan keanggotaan nasional yang kaku dan sempit. Tidak hanya harus memiliki ‘Darah Korea’, tetapi juga harus mewujudkan nilai, adat istiadat, dan pola pikir yang sama untuk bisa dicap sebagai Korea sesungguhnya. Disaat yang sama, saat seseorang telah terakulturasi dengan budaya Korea namun tidak berdarah Korea, akan tetap ditolak dan dicap sebagai orang luar. Kerangka ini menjurus pada penolakan warga asing oleh masyarakat Korea, bahkan hingga tahap praktik diskriminasi.
Disinilah peran media dalam membentuk presepsi masyarakat dalam mengenalkan keberagaman. Contoh paling mudah dari peran media adalah K-Pop yang dapat dimanfaatkan pemerintah dalam mempromosikan multikultur. Media hiburan seperti Drama Korea dan K-Pop masih menjadi kegemaran masyarakat Korea Selatan dari anak – anak hingga dewasa, bahkan mancanegara. K-pop menjangkau generasi muda yang biasanya paling rentan pada perubahan sikap. Perpaduan hiburan musik dan visual menciptakan engagement yang lebih kuat dibanding kampanye kebijakan biasa.

Sumber gambar: Pinterest
K-Pop generasi ke-3 menjadi pembuka foreign line dalam industry K-Pop. TWICE (2015), 4 anggota non-Korea: Tzuyu (Taiwan), Momo, Sana, Mina (Jepang)
Walaupun K-Pop terkesan tidak berdampak lansung pada pandangan masyarakat terhadap imigran atau non-Korea, secara tidak langsung K-Pop menjadi wadah utuk mempromosikan multikulturalsime. Grup K-Pop, terutama di generasi ketiga (2012-2017), didominasi oleh grup yang memiliki setidaknya satu anggota dari negara lain (Thailand, Jepang, China, dll). Generasi ini bahkan menjadi pelopor foreign line (anggota non-Korea) dalam kultur industri K-Pop. Kultur yang menampilkan keragaman etnis dan ras ini tidak hanya berhenti pada generasi ketiga, tetapi juga membuka jalan bagi non-Korea yang meniti karir di industri K-Pop bahkan hingga saat ini.
Tidak ada bukti langsung adanya pengaruh K-Pop dalam perubahan presepsi terhadap warga asing di masyarakat, namun jelas terjadi perubahan kerangka berpikir dalam dunia hiburan Korea Selatan dalam memandang blasteran Korea atau bahkan sepenuhnya non-Korea. Hingga saat ini, sebagian besar grup K-Pop memiliki satu pola tetap dimana setidaknya salah satu anggota merupakan anggota non-Korea. Ketika masyarakat melihat kekompakan dari dalam grup K-Pop yang mereka gemari, bahkan dengan adanya anggota non-Korea, hal ini menimbulkan keterbukaan dan pemahaman masyarakat Korea terhadap keragaman etnis, ras, dan budaya terhadap bangsa lain.
Beberapa pengalaman yang dirasakan sendiri oleh penggemar juga menjadi faktor. Tergabung dalam suatu fandom (sebutan untuk komunitas penggemar), biasanya menawarkan pengalaman untuk berinteraksi oleh satu penggemar langsung dengan penggemar lain, bahkan dari luar negeri. Pengalaman ini membuka sudut pandang bahwa “orang asing” bukanlah ancaman tetapi bagian dari komunitas yang berbagi minat budaya. Beberapa narasi hiburan seperti musik dan gaya K-pop juga terkadang memadukan unsur Barat (hip-hop, pop) dan Asia Timur yang kemudian menggambarkan keragaman budaya yang harmonis.
Dalam perkembangannya, industri K-Pop bahkan memproduksi grup global dimana lebih dari setengah anggota merupakan warga dari mancanegara. Walaupun dimaksudkan sebagai grup dengan target pasar global, KATSEYE, memiliki popularitas yang bisa dikatakan cukup besar untuk grup dengan mayoritas anggota non-Korea. Grup ini menjadi bukti adanya perubahan presepsi orang Korea terhadap warga mancanegara yang meniti karir atau bekerja di industri berbasis K-Pop di Korea Selatan.
Meskipun bahkan dalam eksekusinya, industri K-Pop masih belum bisa menerapkan penerapan multikultularisme secara 100% tanpa diskriminasi. K-pop berpotensi menjadi salah satu faktor yang mendorong perubahan sikap masyarakat terhadap imigran dan multikulturalisme di Korea Selatan melalui mekanisme budaya, representasi, dan fandom global serta menjadi alat untuk menormalisasi keberadaan warga asing, baik sebagai artis, pekerja, maupun bagian dari masyarakat modern Korea.
Oleh: Nesya Napsiah Zahra – 202410360110109
Bacaan lebih lanjut:
Creatrip., 2020. International Marriages in Korea. Creatip. Available at: https://creatrip.com/en/blog/5610. [Accessed 7 October 2025]
Hae In, S. 2006. Korea Welcomes a New Era of Multiculturalism. Yale Global Online.
Available at: https://archive–yaleglobal-yale-edu.translate.goog/content/korea-greets-new-era-multiculturalism?_x_tr_sl=en&_x_tr_tl=id&_x_tr_hl=id&_x_tr_pto=tc [Accessed 6 October 2025]
Korea.net. 2024. Korea Will Enter the Era of Multiculturalism Through an Increase in Foreign Population. Korea Net
Available at: https://indonesian.korea.net/NewsFocus/Society/view?articleId=245563 [Accessed 6 October 2025]
Koreajoongangdaily. 2025. Marriages with foreign spouses in Korea rise for 3rd year in 2024. Korea JongAng Daily. Available at:https://koreajoongangdaily.joins.com/news/2025-11-06/national/socialAffairs/Marriages-with-foreign-spouses-in-Korea-rise-for-3rd-year-in-2024/2438321 [Accessed 6 October 2025)
Lee, H. 2006. International marriage and the state in South Korea: focusing on governmental policy. Available at: https://www.tandfonline.com/doi/full/10.1080/13621020701794240?scroll=top&needAccess=true [Accessed 7 October 2025]
Lim, T. 2025. Who is Korean? Migration, Immigration, and the Challenge of Multiculturalism in Homogeneous Societies. Available at: https://www.cambridge.org/core/journals/asia-pacific-journal/article/who-is-korean-migration-immigration-and-the-challenge-of-multiculturalism-in-homogeneous-societies/5644838B01D98EDA2E22F921E7A94574 [Accessed 6 October 2025]




