Multikulturalisme di Korea Selatan: Pertukaran Pelajar dan Imigran yang Bekerja di Korea Selatan Membawa Budaya

Sumber gambar: Pinterest

 

Korea selatan merupakan salah satu negara maju di benua asia, sebagai negara maju banyak sekali perkembangan yang terjadi di negara tersebut salah satunya perubahan demografis yakni multikulturalisme. Multikulturalisme di korea selatan mulai berkembang dengan banyaknya pendatang atau imigran dari berbagai negara khususnya warga negara asia adanya pertukaran pelajar dan imigran yang bekerja di sana juga mendominasi banyaknya warga negara asing yang tinggal di korea selatan, pertukaran pelajar di korea selatan cukup diminati di kalangan mahasiswa karna banyak universitas yang membuka beasiswa untuk mahasiswa asing, hal ini dianggap menarik terlebih lagi adanya drama korea dan K-pop secara tidak langsung mempromosikan keadaan sosial budaya yang menjadi salah satu daya tarik para pelajar yang mengambil program pertukaran pelajar di Korea Selatan. Jika para pelajar tertarik untuk mengambil beasiswa belajar di korea selatan, lain halnya beberapa pendatang yang merupakan para pekerja imigran berusaha mencari pekerjaan di negara yang memiliki nilai mata uang yang lebih besar dari negara asalnya selain menguntungkan para pekerja hal ini juga membawa efek positif untuk korea selatan yang mana mereka secara sumber daya manusia kekurangan tenaga untuk pekerja kasar, petani dan penerima jasa, umumnya para imigran berasal dari negara – negara di asia tenggara, di dukung dengan banyaknya industri manufaktur dan konstruksi di korea selatan dan banyaknya lowongan untuk pekerja kasar di korea selatan, dengan banyaknya pendatang dari negara lain ini memperkuat multikulturalisme di korea selatan itu sendiri. saat ini ada beberapa distrik di korea selatan yang memiliki wilayah yang diisi banyak kafe , toko dan warung makan dari berbagai negara, contohnya itaewon, ansan, busan dengan adanya banyak pertokoan dan warung- warung dari berbagai negara ini asing, selain itu dengan banyaknya pekerja imigran secara tidak langsung mereka membawa kebisaan, tradisi, serta agama baru yang dikenalkan di korea selatan hal ini memperkuat bahwa korea selatan memiliki multikulturalisme, banyak warga negara korea yang mulai tertarik mempelajari budaya negara lain, pemerintah korea selatan juga sangat terbuka dengan adanya pertukaran budaya yang terjadi dengan mengadakan beberapa festival budaya yang di selenggarakan seperti Seoul Multicultural Festival sebagai wadah para imigran untuk menunjukkan budaya, makanan, tarian, lagu dan kesenian mereka hal ini juga di sambut dengan positif oleh warga korea selatan.

Selain di dominasi oleh pelajar dan pekerja imigran pada saat ini juga banyak pernikahan antara dua negara atau penikahan campuran yang melahirkan keturunanya di korea selatan, pemerintah korea selatan juga sangat amat mendukung pernikahan campuran dengan memberikan fasilitas untuk belajar bahasa, budaya, sosial untuk warga asing yang menikah dengan warga negara korea selatan. Namun dengan adanya perbedaan ras dan budanya serta agama masih banyak terjadi diskriminasi ataupun salah paham yang di terima oleh orang asing yang menetap di korea selatan terlebih lagi anak hasil kawin campur dan wanita muslim berhijab yang terlihat berbeda hal ini menjadi salah satu tantangan negara yang sedang menghadapi multikulturalisme, namun pemerintah tidak tinggal diam mereka membuat beberapa program yang memberikan pemahaman terhadap warga negara korea selatan seperti mengadakan festival di tempat – tempat umum seperti taman kota, sungai han ataupun di universitas. Selain festival korea selatan juga mulai mengenalkan multikulturalisme di materi pada sekolah jadi pemahaman multikulturalisme sudah dapat dipahami oleh anak anak sekolah. Namun walau pemerintah korea selatan saat ini sedang berusaha menerapkan multikulturalisme dengan benar pemerintah korea selatan juga harus tetap menyeimbangkan tradisi nasional mereka karna dengan penerapan multikulturalisme yang salah dapat menyebabkan hilangnya jati diri suatu negara, hilangnya tradisi lokal dan anak muda yang perlahan meninggalkan atau melupakan sifat, budaya dan tradisi mereka serta menganggap budaya luar terlihat lebih keren dan mulai meninggalkan tradisi negaranya. Multikulturalisme dianggap berhasil jika suatu negara menerima dengan baik budaya asing namun tetap memegang teguh dan melestarikan budaya lokal tanpa merendahkan budaya asing yang masuk ke negara mereka hal ini harus seimbang agar tidak ada suatu golongan atau suku yang dinilai lebih dominan.

Oleh: Radhia Diamonanisa – 202210360311084

Bacaan lebih lanjut:

Aisyabitah. NK (2025). Pengaruh Korean Wave Terhadap Minat Belajar Bahasa Korea Studi Kasus King Sejong Institute Yogyakarta Tahun 2019-2024. Disertasi doktoral, Universitas Islam Indonesia.

Aswatini. DKK (2020). Migrasi sebagai investasi untuk meningkatkan daya saing pekerja migran Indonesia di pasar kerja global. Yayasan Pustaka Obor Indonesia. 

SALSABILA. AR (2022). FENOMENA GUKJE KYEOLHON (PERNIKAHAN ANTARBANGSA) PADA PASANGAN INDONESIA-KOREA SELATAN. Disertasi Doktor, Universitas Nasional.

Kurniasih. M., Sela, D., Ash-Shiddiqy, AR, Mutia, V., Khoerunnisa, A., Hakim, WL, & Saepuloh, N. (2024). PERSPEKTIF MULTIKULTURAL DALAM KURIKULUM SEKOLAH DASAR DI JEPANG, SINGAPURA, KOREA SELATAN DAN DAMPAKNYA TERHADAP INDONESIA. Didaktik: Jurnal Ilmiah PGSD STKIP Subang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *