Sumber gambar: Pinterest
Selama bertahun-tahun, banyak dari kita terbiasa membayangkan Korea Selatan sebagai masyarakat yang seragam—satu bahasa, satu budaya, dan satu identitas nasional yang kuat. Namun lambat laun, gambaran stereotip itu mulai retak. Yang cukup mengejutkan, sebuah transformasi sosial sedang berlangsung diam-diam, menggeser masyarakat homogen menuju keragaman yang tak terelakkan. Bukti paling nyata terlihat dari semakin banyaknya keluarga multikultural yang terbentuk di berbagai penjuru negeri ginseng. Coba renungkan, dalam satu rumah tangga biasa kini berkumpul dua atau lebih kewarganegaraan, bahasa, dan tradisi yang berbeda. Mereka laksana mosaik budaya hidup yang terus beradaptasi dalam masyarakat Korea yang sedang berubah.
Dalam bahasa Korea, keluarga semacam ini disebut damunhwa gajok (다문화가정), yang secara resmi diartikan sebagai keluarga yang beranggotakan warga negara Korea dan pasangan imigran atau warga yang telah dinaturalisasi. Yang patut dicermati, kehadiran mereka kini bukan sekadar fenomena pinggiran, melainkan sudah menjadi bagian penting yang turut membentuk wajah demografi Korea Selatan modern.
Data terbaru cukup mencengangkan. Menurut laporan Badan Data Nasional akhir 2024, untuk pertama kalinya dalam 12 tahun, angka kelahiran dari keluarga multikultural melonjak 10,4%, mencapai 13.416 bayi. Yang tak kalah mengejutkan, dari setiap 18 bayi yang lahir di Korea, satu di antaranya berasal dari keluarga multikultural. Artinya, sekitar 6% dari total kelahiran kini terjadi dalam keluarga dengan latar belakang budaya campuran. Yang cukup menggembirakan, tren ini sejalan dengan peningkatan pernikahan lintas negara yang mencapai 21.450 pada tahun yang sama—angka tertinggi sejak 2019. Meski pola pasangan pria Korea dengan wanita asing masih mendominasi (71,2%), komposisi negara asal pasangan semakin beragam. Yang patut disyukuri, angka perceraian pasangan multikultural justru mengalami penurunan, menunjukkan ketahanan keluarga yang semakin baik dalam menghadapi dinamika sosial budaya.
Sebenarnya, fenomena keluarga multikultural di Korea bukanlah sesuatu yang muncul tiba-tiba. Kalau kita telusuri lebih jauh, akar sejarahnya bisa dilacak sejak akhir 1980-an, ketika arus tenaga kerja asing mulai berdatangan seiring pesatnya pertumbuhan ekonomi Korea. Gelombang besar imigrasi melalui pernikahan internasional kemudian menyusul di awal 2000-an. Data tahun 2016 menunjukkan sekitar dua juta warga asing menetap di Korea—sekitar 4% dari total populasi. Kelompok inilah yang kemudian menjadi cikal bakal keluarga multikultural yang semakin terlihat saat ini.
Respons pemerintah Korea terhadap fenomena ini terbilang progresif. Melalui Kementerian Kesetaraan Gender dan Keluarga (MOGEF), pemerintah mendirikan Multicultural Family Support Centers di berbagai wilayah. Pusat-pusat ini menyediakan beragam layanan, mulai dari kursus bahasa Korea, konseling keluarga, pelatihan kerja, hingga bantuan pengasuhan anak. Yang saya amati, langkah-langkah ini menunjukkan kesadaran pemerintah bahwa integrasi sosial membutuhkan dukungan sistemik, bukan hanya mengandalkan usaha individu imigran.
Namun di balik semua data yang menggembirakan ini, kehidupan keluarga multikultural tidak semudah yang dibayangkan. Di balik angka-angka statistik yang positif, tersimpan persoalan sosial yang kompleks. Tantangan terberat justru datang dari hal paling dasar: bahasa. Kurangnya kemampuan berbahasa Korea sering menjadi penghalang utama dalam mencari pekerjaan, mengakses layanan publik, atau sekadar menjalin relasi sosial dengan warga lokal. Yang memprihatinkan, hambatan bahasa ini menciptakan dinding tak terlihat yang memisahkan mereka dari komunitas sekitar, memicu rasa keterasingan yang mendalam.
Yang cukup memprihatinkan, diskriminasi sosial masih menjadi kenyataan pahit yang harus dihadapi. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa anak-anak dari keluarga multikultural sering mengalami perundungan di sekolah karena perbedaan fisik atau kemampuan bahasa. Perempuan asing juga kerap menghadapi stereotip negatif, baik dari masyarakat maupun keluarga suami. Survei MOGEF 2022 mengungkap fakta mengejutkan: sekitar 36% anak dari keluarga multikultural merasa diperlakukan berbeda di lingkungan sekolah.
Meski demikian, saya melihat ada harapan yang besar. Kunci integrasi sebenarnya terletak pada pemberdayaan individu dan keluarga multikultural itu sendiri. Ketika imigran mendapat kesempatan mengembangkan kemampuan—melalui pelatihan kerja, pendidikan bahasa, dan dukungan sosial—mereka bisa menjadi bagian aktif masyarakat. Yang cukup menggembirakan, anak-anak dari keluarga multikultural justru berpotensi tumbuh sebagai generasi dengan keunggulan budaya ganda yang dapat memperkaya masyarakat Korea.
Pada akhirnya, fenomena keluarga multikultural di Korea Selatan adalah cerminan perubahan sosial di era globalisasi. Yang patut dicermati, keluarga-keluarga ini bukan lagi entitas asing, melainkan bagian integral dari struktur sosial baru. Menurut pandangan saya, keberhasilan integrasi mereka tak hanya bergantung pada usaha pribadi, tetapi juga dukungan berkelanjutan dari pemerintah dan masyarakat.
Pada titik ini, saya yakin keberagaman bukan lagi ancaman bagi identitas nasional, melainkan kekuatan yang memperkaya bangsa. Jika Korea konsisten mengembangkan sikap inklusif dan menghargai perbedaan, negara ini tak hanya akan dikagumi karena kemajuan teknologinya, tetapi juga karena kematangan sosialnya. Dengan demikian, keluarga multikultural bukan sekadar simbol perubahan, melainkan harapan baru bagi masa depan Korea yang lebih terbuka dan toleran.
Oleh: Safra Zarwandah – 202410360110094
Bacaan lebih lanjut:
KBS World. (2024, November 6). Number of multicultural births in S. Korea rises for 1st time in 12 years. KBS World. Diakses dari https://world.kbs.co.kr/service/news_view.htm?lang=i&Seq_Code=79561
Kim, A. (2018). Social exclusion of multicultural families in Korea. Social Sciences, 7(4), 63.
Kim, E., & Park, S. (2018). Social exclusion of multicultural families in Korea. Social Sciences, 7(4), 63. MDPI. https://doi.org/10.3390/socsci7040063
Kim, I., Kim, J. S., Kwak, Y., Kim, H. M., Yu, Y. S., Yi, S., … & Lim, S. (2022). Redefining multicultural families in South Korea: Reflections and future directions. Rutgers University Press.
Ministry of Gender Equality and Family (MOGEF). (n.d.). Support for multicultural families. Diakses dari https://www.mogef.go.kr/eng/pr/eng_pr_s101d.do?bbtSn=708414&mid=eng001
OECD. (2024). Society at a Glance 2024: Country note – Korea. OECD Publishing. https://www.oecd.org/en/publications/society-at-a-glance-2024-country-notes/fd5558c7-en/korea_eca0a44d-en.html
Park, S. Y., Kim, S., & Cho Chung, H. I. (2021). Adaptation process of Korean fathers within multicultural families in Korea. International Journal of Environmental Research and Public Health, 18(11), 5935.
Statistics Korea. (2024). Marriage and divorce statistics in 2024. Korean Statistical Information Service. Diakses dari https://kostat.go.kr/board.es?act=view&bid=11773&list_no=436027&mid=a20108100000&nPage=1




