Picture source: Pinterest
K-Drama di Indonesia telah muncul sebagai fenomena budaya yang dikenal luas hingga mencakup ke berbagai kalangan masyarakat, mulai genre romantis bahkan genre thriller dan menarik penonton dari berbagai usia. Namun, salah satu hal yang sering ditayangkan dalam drama-drama ini adalah penggambaran kebiasaan orang Korea dalam mengonsumsi soju dalam kehidupan sehari-hari mereka, disbanding dengan minuman-minuman yang non-alkohol. Hal ini kemudian mendorong rasa penasaran, apakah kebiasaan ini secara nyata mewakili gaya hidup masyarakat Korea atau hanya berperan sebagai alat strategis untuk menarik minat para penonton?
Dalam konteks ini, penting untuk diketahui bahwa meskipun soju merupakan elemen fundamental dari budaya sosial masyarakat Korea Selatan, tidak semua penggambaran yang muncul dalam K-Drama secara akurat merepresentasikan realita di sekitar penduduknya. Meskipun K-Drama sering kali menonjolkan aspek-aspek tertentu dari warisan budaya Korea, tidak sedikit pula aspek kehidupan yang lebih kompleks dan beragam yang tidak terwakili dalam drama tersebut. Struktur budaya Korea dicirikan oleh berbagai lapisan yang mencakup tradisi, nilai-nilai kekeluargaan, interaksi sosial, dan sebagainya yang tidak selalu digambarkan dalam narasi drama. Oleh karena itu, sangat penting untuk mempelajari lebih dalam tentang bagaimana elemen-elemen ini saling terkait dan berkontribusi pada identitas asli masyarakat Korea. Selain itu, proses globalisasi secara signifikan juga memengaruhi perkembangan gaya hidup yang semakin beragam karena pengaruh budaya luar yang berasimilasi dengan budaya lokal. Interaksi ini telah menimbulkan dinamika baru dalam kehidupan sehari-hari Masyarakat Korea, membuat identitas budaya mereka lebih adaptif terhadap perubahan-perubahan kontemporer. Disaat yang sama, fenomena ini menghadirkan tantangan yang berat bagi generasi muda, yang juga memiliki tanggungjawab untuk ikut melestarikan warisan budaya dengan asimilasi nilai-nilai baru dari sumber-sumber eksternal.
Kebiasaan minum alkohol yang telah menjadi bagian integral dari kehidupan sosial Korea, kini menghadapi perubahan seiring dengan meningkatnya kesadaran akan kesehatan dan gaya hidup yang lebih modern. Perubahan ini mencerminkan perkembangan nilai yang lebih luas di Masyarakat. Dimana, generasi muda semakin kritis terhadap kebiasaan lama dan berusaha mencari cara baru untuk merayakan budaya mereka tanpa mengorbankan Kesehatan diri. Perubahan ini juga mendorong munculnya berbagai alternatif minuman yang lebih sehat dan lebih ramah lingkungan, seiring dengan meningkatnya permintaan akan gaya hidup yang berkelanjutan di kalangan masyarakat. Meskipun secara historis, alkohol telah melekat kuat dalam perkembangan kehidupan sosial masyarakat Korea, yang bahkan telah berkembang pesat di Era Josean. Namun generasi saat ini, yang dipengaruhi oleh kemajuan teknologi, globalisasi, dan akses masyarakat terhadap berbagai macam informasi, telah memainkan peran yang signifikan dalam meningkatkan kesadaran akan kesehatan. Dengan demikian, perkembangan industri alkohol di Korea juga mulai mengadaptasi produk mereka dengan mempertimbangkan tuntutan sosial terhadap kesehatan seperti menciptakan inovasi hybrid yang menggabungkan elemen-elemen dari berbagai jenis alkohol atau minuman di bawah label Low-alcohol beers and free alcohol . Inovasi-inovasi ini tidak hanya menarik bagi konsumen yang lebih sadar akan kesehatan, tetapi juga menciptakan peluang baru bagi produsen untuk memperluas pasar mereka dan memenuhi kebutuhan gaya hidup modern yang lebih berkelanjutan.
Namun, beberapa hal dari kebiasaan meminum alkohol dalam kehidupan sosial Korea tampaknya masih bertahan dengan kuat. Meskipun ada pergeseran ke arah pilihan yang lebih sehat, tradisi berkumpul dan bersosialisasi dengan alkohol tetap menjadi bagian integral dari banyak acara dan perayaan di Masyarakat Korea. Salah satu contohnya adalah budaya Hoesik, yaitu budaya makan dan minum bersama rekan kerja yang sering kali melibatkan konsumsi alkohol sebagai cara untuk membangun hubungan dan memperkuat ikatan tim. Terkadang, perusahaan juga dapat mengadakan acara kumpul-kumpul yang diharapkan dihadiri oleh para karyawan. Dalam sebuah wawancara yang diterbitkan oleh Al Jazeera, seorang karyawan menyebutkan mengapa Hoesik sangat penting di negara mereka. “Minum-minum tidak pernah menjadi tujuannya. Tujuannya adalah untuk membangun ikatan dalam bisnis dan dengan orang-orang. Di tempat kerja, kita tidak bisa begitu terbuka, tetapi di sini, kita bisa membuat kenangan yang menyenangkan.” Orang-orang Korea meminum untuk merasa lebih nyaman dalam berbagi cerita dan menunjukkan kepribadian mereka. Salah satu alasan mengapa mereka tidak terlalu akrab di tempat kerja adalah karena orang Korea Selatan sangat berhati-hati dalam menghormati Sunbae (senior) mereka. Begitu mereka meninggalkan kantor, mereka dapat bermain game, bernyanyi sesuai dengan keinginan mereka, atau tertawa sesuka mereka dengan semua orang. Namun tentu saja, beberapa etika tertentu tetap diberlakukan selama pertemuan sosial ini sebagai bentuk penghormatan.
Oleh: Muhammad Aditya Akbar
Bacaan lebih lanjut:
Schulze, M. (2013). Korea vs. k-drama land: the culturalization of k-dramas by international fans. Acta Koreana, 16(2), 367–397. https://doi.org/10.18399/ACTA.2013.16.2.004
Ariffin, J. T., Bakar, H. A., & Yusof, N. (2018). Culture in Korean drama towards influencing Malaysian audiences. 5(1), 10–14. https://doi.org/10.21276/IJIREM.2018.5.1.3
Yoo, H., & Kim, N.-H. (2020). Factors Associated with Lifestyle Habits and Mental Health Problems in Korean Adolescents: The Korea National Health and Nutrition Examination Survey 2017-2018. International Journal of Environmental Research and Public Health, 17(24), 9418. https://doi.org/10.3390/IJERPH17249418
Russell, I., & Kellershohn, J. (2018). Advances in Technology and New Product Development in the Beer, Wine, and Spirit Industry (pp. 89–104). Springer, Cham. https://doi.org/10.1007/978-3-319-74820-7_5
Ko, S., & Sohn, A. (2018). Behaviors and Culture of Drinking among Korean People. Iranian Journal of Public Health, 47(1), 47–56. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC6124142/
Moan, I. S., & Halkjelsvik, T. (2020). Work-Related Alcohol Use and Harm to Others. Substance Use & Misuse, 55(14), 2305–2313. https://doi.org/10.1080/10826084.2020.1801744
Kim, Y. (2005). Experiencing globalization Global TV, reflexivity and the lives of young Korean women. International Journal of Cultural Studies, 8(4), 445–463. https://doi.org/10.1177/1367877905058344
Berdin, K. (2020, October 26). South Korea’s drinking culture: The rules and rituals of Korean drinking. Cosmo.ph. https://www.cosmo.ph/kloka/korean-food/south-korea-drinking-culture-a4575-20201026




