Sumber gambar: Pinterest
Selama bertahun-tahun, Korea Selatan dikenal sebagai masyarakat yang sangat homogen secara etnis dan budaya. Korea Selatan juga merupakan salah satu negara maju yang memiliki teknologi serta perekonomian yang sangat baik. Hal ini tentu menjadi daya tarik bagi banyak orang dari berbagai negara untuk datang dan menetap di negara tersebut. Korea Selatan dapat dikatakan sebagai tempat tujuan migrasi dari berbagai negara lain apabila mengacu konsep South-North migration. Ellerman (2006) menjelaskan bahwa South to North migration merefleksikan perpindahan penduduk dari negara yang dikategorikan sebagai less developed region (South) ke negara yang dikatakan sebagai developed region (North).
Source by: https://pin.it/2Kb8dvFh6
Menjawab pertanyaan seperti apa kategori migrant di Korea Selatan maka jawabannya adalah kategorinya bisa dikatakan hampir sama dengan negara lain bahwa secara umum kategori migrant di Korea Selatan dibagi menjadi tiga yaitu migrant worker (pekerja), foreign brides (pernikahan internasional), dan international students (pelajar in ternasional)(Iqbal, 2018). Selain itu, pada saat itu juga tidak hanya migrant worker saja yang datang, tetapi juga terdapat peningkatan jumlah foreign brides di Korea Selatan. Kehadiran para imigran ini keragaman sosial di negara tersebut dan menciptakan interaksi antar etnis yang semakin intens.
Di Korea Selatan, pernikahan internasional dan keluarga multietnis menjadi topik penting di media dan politik nasional. Heins Ward adalah seorang yang berkulit hitam dan pemain sepakbola terkemuka di Amerika Serikat menjadi topik utama selama sepuluh hari ia mengunjungi Korea Selatan bersama ibunya yang berkewarganegaraan Korea pada bulan April 2006(Seol & Cho, 2015). Media menyoroti berbagai isu sebelumnya yang tidak pernah dibicarakan secara terbuka, terutama mengenai diskriminasi terhadap anak-anak ras campuran di Korea. Karena dari protes ini pemerintah menjajikan undang undang yang mengakui kewarganegaraan anak-anak dari pasangan internasional yang tinggal bersama(Seol & Cho, 2015).
Lebih jauh lagi, Pertumbuhan keluarga multikultural di Korea Selatan tentunya mengubah komposisi demografis di Korea dan yang menjadi pertanyaan adalah bagaimana keluarga multikultural ini dapat beradaptasi dan berintegrasi dengan masyarakat Korea Selatan(Iqbal, 2018). Dengan munculnya pertumbuhan ini, berbagai agen yang termasuk hak asasi manusia telah mempelajari kondisi sosial mereka . Mereka menyoroti kesulitan yang dihadapi pasangan imigran, termasuk komersialisasi dan anonimitas pernikahan yang diatur oleh broker. Disisi lain, masyarakat lokal juga mengalami proses penyesuaian dengan kehadiran budaya yang dibawa oleh imigran. Ini kemudian membangun opini publik tentang pentingnya membangun masyarakat yang terbuka dan menghargai perbedaan.
Dalam Survei Istri Asing yang dilakukan di Korea Selatan pada tahun 2005, mayoritas dari 945 istri asing melaporkan bahwa salah satu motif utama mereka menikah di luar negeri adalah alasan ekonomi(Seol et al. 2005). Namun seiring waktu, motif tersebut berkembang dan mulai mainkan peran dalam kehidupan keluarga yang multikulturral. Pernikahan internasional telah mendorong Korea Selatan menuju era multikulturalisme yang sebelumnya tidak dapat dibayangkan. Pemerintah tidak hanya melihat keluarga ini sebagai masalah sosial, tetapi juga menjadi potensi dalam Pembangunan demografi dan sosial yang jangka panjang(Iqbal, 2018). Pemerintah kemudian merespon dengan mengembangkan kebijakan Multicultural Family Support Centers yang mendorong agar semua orang bisa diterima dan hidup bersama dengan baik di masyarakat.
Fenomena pernikahan internasional membawa dinamika sosial baru, di mana adaptasi budaya menjadi tantangan utama seperti perbedaan bahasa, sistem keluarga patriarkal, dan norma sosial konservatif yang sering kali menciptakan kesulitan dalam kehidupan sehari-hari. Selain itu, anak-anak hasil pernikahan campuran sering kali menghadapi stereotip dan marginalisasi di sekolah. Mereka sering dianggap “berbeda” karena latar belakang etnis dan bahasa yang tidak sepenuhnya sama dengan anak-anak Korea lainnya. Meski demikian, peningkatan kesadaran publik dan kebijakan yang lebih terbuka menunjukkan arah positif menuju masyarakat yang lebih menerima perbedaan. Upaya pemerintah dan lembaga pendidikan dalam menumbuhkan pemahaman lintas budaya, serta peran media dalam menampilkan keluarga multikultural secara positif, membantu mempercepat proses penerimaan ini. Secara perlahan, masyarakat Korea mulai menyadari bahwa keberagaman bukan ancaman, melainkan bagian penting dari perkembangan sosial dan identitas nasional di era modern.
Kesimpulan
Fenomena pernikahan internasional di Korea Selatan merepresentasikan perubahan sosial yang mendasar dalam Masyarakat yang sebelumnya dikenal sangat homogen secara etnis dan budaya. Pernikahan lintas negara memperkenalkan dinamika sosial baru yang menuntut dua arah. Di satu sisi pasangan membawa nilai, Bahasa, dan tradisi yang berbeda dan disisi yang lain sebagai Masyarakat korea belajar menerima keragaman sebagai bagian kehidupan sosial mereka. Proses ini bukan tanpa tantangan, sebab masih terdapat penolakan budaya dan diskriminasi terhadap sistem keluarga multi kultural. Demikian pernikahan internasional tidak hanya menjadi strategi demografis belaka, tetapi juga sarana untuk membentuk identitas nasional yang lebih terbuka dan menerima perbedaan. Perubahan ini membuktikan bahwa perbedaan justru bisa memperkuat persatuan dan membangun masa depan yang lebih terbuka, saling menghargai dan menghormati, serta nilai kemanusiaan yang lebih luas dalam masyarakat Korea modern.
Oleh: Muh Ikhlas Parenrengi Tetteng – 202410360110059
Referensi:
Ellerman, David. (2006). The dynamics of migration of the highly skilled: a sur vey of the literature. In Kuznetsov, Yevgeny. (Eds.), Diaspora networks and the international migration of skills how countries can draw on their talent abroad (Pp. 21-58). Washing ton: The World Bank
Iqbal, M. (2018). INTEGRASI DAN ADAPTASI SOSIAL MIGRANT DI KOREA. April, 23–34.
Lee, Y. J., Seol, D. H., & Cho, S. N. (2006). International marriages in South Korea: The significance of nationality and ethnicity. Journal of Population Research, 23(2), 165–182.
Maraqy, A. (2025). Bride and groom walk down the aisle at their wedding ceremony (black and white) [Foto]. Pinterest. https://pin.it/68FjYukVs
Pinterest. (2025). Foto pernikahan internasional di Korea Selatan [Foto]. Pinterest. https://pin.it/2Kb8dvFh6
Seol, D., & Cho, S. (2015). International marriages in South Korea : The significance of nationality and ethnicity INTERNATIONAL MARRIAGES IN SOUTH KOREA : September 2006. https://doi.org/10.1007/BF03031814
Seol, DH, YT Kim, HM Kim, dkk. 2005. Kehidupan Istri Asing di Korea: Fokus pada Kebijakan Kesejahteraan dan Kesehatan (dalam bahasa Korea). Kwachon: Kementerian Kesehatan dan Kesejahteraan.




