AKULTURASI GENERASI CAMPURAN DI KOREA SELATAN : STRATEGI INTEGRASI PADA ANAK KELUARGA MULTIKULTUR

Dalam beberapa dekade terakhir, Korea Selatan mengalami perubahan demografis yang cukup besar. Meskipun dulunya Korea Selatan dikenal sebagai masyarakat yang sangat homogen secara etnis, kini muncul semakin banyak keluarga dengan latar multikultural di Korea Selatan. Misalnya, pernikahan antara warga Korea dengan imigran atau orang yang dinaturalisasi dari luar negeri. Perkembangan ini semakin pesat dan kemudian menghasilkan anak-anak generasi campuran yang tumbuh dan berkembang dalam dua budaya secara bersamaan. Fenomena ini menghasilkan keluarga multikultural yang memadukan budaya Korea dengan budaya asing dari orang tua non-Korea. Anak-anak dalam keluarga semacam ini disebut generasi campuran, yang menghadapi tantangan akulturasi karena tumbuh dalam kondisi budaya ganda. Mereka harus menavigasi antara budaya asal orang tua asing dan budaya Korea yang dominan di lingkungan sekitar mereka.

Menurut Berry (1987) Akulturasi merupakan proses ketika seseorang atau sekelompok individu mulai menyesuaikan diri dengan budaya baru, termasuk menerima nilai, cara pandang, serta kebiasaan yang berlaku di dalamnya. Istilah ini merujuk pada perubahan yang muncul saat individu dari latar budaya tertentu berinteraksi dan hidup dalam lingkungan budaya lain. Pada umunya, akulturasi ditandai dengan penyesuaian yang baik secara fisik maupun psikologis sebagi hasil dari upaya untuk dapat berfungsi dan diterima dalam budaya yang berbeda. Menurut undang-undang di Korea, yaitu Multicultural Families Support Act, “Keluarga Multikultural” didefinisakan sebagai keluarga yang terdiri dari warga Korea dan imigran melalui pernikaahan atau naturalisasi.(MULTICULTURAL FAMILIES SUPPORT ACT, 2019). Anak anak dari keluarga multikultural merupakan objek dari kebijakan pendidikan dan sosial. Data telah menunjukkan bahwa jumlah siswa dari keluarga multikultural terus meningkat. Sebagai contoh pada 2024 jumlah siswa dari latar keluarga imigran di sekolah umum mencapai 193.814 atau sekitar 3,72 dari seluruh siswa nasional  (Jung Da-hyun, 2025). Data menunjukkan bahwa jumlah siswa dari keluarga multikultur terus meningkat. Sebagaimana contoh sebuah penelitian menyebut bahwa kelompok siswa dari keluarga multikultur dari kelas 5 SD hingga SMP menunjukkan dinamika yang penting dalam penerimaan multikultural, konsep diri, dan kesadaraan komunitas (Eun-Ju & Kyung-Hwa, 2020)

Dengan adanya data demografis yang berubah ini, sistem pendidikan Korea harus menghadapi tantangan baru yaitu bagaimana mengakomodasi siswa yang memilki latar budaya dan bahasa yang berbeda, serta bagaimana mengembangkan kebijakan dan praktik yang mendukung mereka untuk berhasil dalam sistem pendidikan yang masih sangat dibentuk oleh norma homogenitas.  Salah satu tantangan utama yang kerap dihadapi oleh anak-anak generasi campuran adalah penguasaan bahasa Korea, serta adaptasi dengan norma dan budaya sekolah Korea. Sebuah survei terhadap guru SD di Korea menunjukkan bahwa sekitar 20-25% responden mengalami kesulitan dalam berkomunikasi dengan siswa dan orang tua dari latar belakang migran yang kurang mumpuni dalam berbahasa Korea (Lee, 2021)

Kebijakan baru yang muncul ini menetapkan bahwa siswa dari keluarga multikultur akan mendapatkan kelas bahasa Korea khusus di sekolah menengah dan atas (Ji Hwan Paik, 2025). Penelitian lainnya  menunjukkan bahwa dalam jangka waktu tertentu, hubungan teman sebaya, dan penyesuaian sekolah siswa multikultur cenderung menurun, meskipun tingkat stress akulturasi budaya tidak menunjukkan perubahan besar (Ahn et al., 2023). Anak-anak generasi campuran berada diposisi sentral yaitu mereka tumbuh dalam budaya orang tua non-Korea di rumah, dan budaya Korea di sekolah dan masyarakat. Posisi ini menjadikannya tidak sepenuhnya Korea atau berbeda dibandingkan teman sebaya lainnya. Dari sisi relasi sosial yang ada, data menunjukkan bahwa relasi teman sebaya (peer relations) dan penyesuaian sekolah mengalami penurunan selama periode studi anak generasi campuran, yang akan menambah beban psikologis selain tekanan akademiknya (Ahn et al., 2023)

Sumber gambar: Pinterest – Kimbab Family
Sumber gambar: Pinterest – Ueno Family

Dari kedua gambar tersebut, tampak keluarga multikultural mampu hidup rukun, dan mempertahankan kehangatan dalam kebersamaan. 

Pemerintah Korea Selatan telah menginisiasi berbagai program kesejahteraan dan dukungan untuk keluarga multikultural, termasuk anak-anak dari pernikahan campuran. Program program ini difokuskan untuk memperkuat akses pendidikan yang inklusif, dan mengurangi diskriminasi terhadap anak-anak multikultural, menyediakan layanan konseling dan rehabilitasi, dan mendorong lembaga sosial guna memperkuat proses integrasi anak-anak multikultural dalam lingkungan sekolah dan masyarakat umum (Ji Eunyoung, 2015). Dengan situasi tersebut, anak-anak dari keluaga campuran sering kali terdorong agar selaras dengan siswa korea lainnya, dengan merasakan penerimaan serta pengakuan terhadap identitas budaya ganda mereka oleh lingkungan sekolahnya maupun masyarakat luas.  Seiring dengan inisiatif pemerintah tersebut perhatian khusus dialokasikan kepada ibu asing yang menikah dengan pria Korea serta anak-anak mereka sebagai objek kebijakan Ministry of Gender Equality and Family, dengan pendekatan yang menekankan pentingnya perlindungan hak asasi manusia dan bantuan sosial untuk mengurangi kesenjangan budaya dan sosial yang dihadapi keluarga multikultural  (Iqbal Muhammad, 2018). 

Anak-anak yang terlahir sebagai generasi campuran di Korea Selatan berada di persimpangan budaya, mereka membawa warisan budaya dari orangtua non korea sekaligus tumbuh dalam sistem pendidikan dan lingkungan yang didominasi oleh budaya Korea. Proses akulturasi yang mereka alami sangat kompleks. Mereka tak hanya harus menguasai bahasa korea saja tetapi meraka harus membaca dan menyesuaikan diri dengan norma sekolah Korea, tetapi juga menghadapi tantangan identitas budaya, bagaimana menyeimbangkan budaya asal orang tua non-korea dengan budaya mayoritas Korea di rumah, sekolah dan masyarakat. Dari sisi bahasa dan sekolah. Dalam bahasa dan pendidikan, anak keluarga multikultural sering menghadapi hambatan seperti penguasaan bahasa yang terbatas atau sekolah yang belum cukup fleksibel menerima keberagaman budaya. 

Meskipun pemerintah Korea telah melakukan strategi dan dukungan bahasa, pendidikan, dan pelatihan guru, jika sistem pendidikan dan kondisi sosial tetap berasumsi satu budaya yang dominan, maka generasi campuran tersebut akan terus menghadapi tekanan untuk “menajadi seperti” siswa korea lainnya. Penelitian menunjukkan bahwa pendidikan multikultur di Korea selama ini lebih banyak berfokus pada bagaimana siswa multikultural menyesuaikan diri dengan sistem Korea, daripada merombak sistem agar benar-benar menerima keberagaman. Dari multikulturalisme bukan hanya sekedar menghilangkan hambatan, tetapi lebih dari itu dengan adanya pengakuan bahwa identitas ganda tidak selamanya menjadi beban, melainkan bisa menjadi kekayaan. Jika sistem pendidikan semata-mata memandang siswa multikultur sebagai individu yang perlu dibantu agar sesuai dengan potensi mereka sebagai penghubung antarbudaya atau sebagai agen pengembangan keberagaman. Sebaliknya, jika pendidikan dan masyarakat menghargai bahwa anak-anak tersebut membawa dua budaya yaitu budaya orang tua dan budaya Korea, maka akan berpeluang adanya kader generasi budaya yang aktif. Namun demikian, keberhasilan generasi campuran ini bukan hanya menjadi tanggungajwab mereka atau keluarga mereka sendiri saja, melainkan tanggung jawab bersama masyarakat Korea seluruhnya.

Oleh: Sri Dina Indah Sari – 202410360110152

Referensi dan bacaan lebih lanjut:

Ahn, H. S., Lee, J., & Jin, Y. (2023). The effects of multicultural family support services on the longitudinal changes of acculturative stress, peer relations, and school adjustment. Frontiers in Psychology, 14. https://doi.org/10.3389/fpsyg.2023.1301294

Eun-Ju, C., & Kyung-Hwa, L. (2020). Analysis of longitudinal relationship among elementary and middle school students’ multicultural acceptance, self-concept, and community consciousness using the latent growth model. International Electronic Journal of Elementary Education, 13(4), 565–575. https://doi.org/10.26822/iejee.2021.212

Iqbal Muhammad. (2018). Integrasi dan Adaptasi Sosial Migrant di Korea Selatan.

Ji Eunyoung. (2015). AN ANALYSIS OF MULTICULTURAL EDUCATION IN KOREAN ELEMENTARY SCHOOLS.

Ji Hwan Paik. (2025, May 28). Seoul to roll out Korean language educational program for multicultural students. Korea JoongAang Daily.

Jung Da-hyun. (2025, February 11). Gov’t unveils plans to enhance education for students from multicultural families. The Korea Times .s

Lee, J. (2021). A survey of Korean elementary schoolteachers on their communication with students and parents from migrant backgrounds and the need for quality language services. Translation and Interpreting, 13(1), 118–135. https://doi.org/10.12807/TI.113201.2021.A07

MULTICULTURAL FAMILIES SUPPORT ACT. (2019). Korea Legislation Research Institute 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *