Sumber gambar: Freepik
Masyarakat Korea Selatan secara historis memiliki wacana identitas nasional yang kuat berdasar pada konsep danil minjok, yaitu “satu etnis/kebangsaan” yang menggambarkan Korea sebagai negara homogen secara etnis dan budaya. Namun, dalam beberapa dekade terakhir terjadi perubahan sosial yang signifikan: peningkatan jumlah imigran, pekerja asing, serta pernikahan antarwarga asing-Korea, yang secara langsung memunculkan fenomena keluarga multikultural dan komunitas migran yang semakin terlihat di masyarakat. Perubahan ini menuntut masyarakat Korea untuk merefleksikan ulang posisi warga asing dan keluarga multikultural dalam ruang sosial mereka. Artikel ini bertujuan untuk mengulas bagaimana persepsi dan sikap masyarakat Korea terhadap warga asing dan keluarga multikultural juga termasuk hasil survei, faktor penentu, dan tantangan yang dihadapi.
Persepsi Umum Masyarakat Korea terhadap Warga Asing
Beberapa survei terbaru mencerminkan bahwa meskipun ada peningkatan dalam penerimaan warga asing sebagai bagian dari masyarakat, tingkat penerimaan ke dalam relasi yang lebih pribadi masih relatif rendah. Sebagai contoh:
- Survei 2024 oleh Ministry of Culture, Sports and Tourism menemukan bahwa hanya 16,8 % responden yang pernah melakukan interaksi bermakna dengan warga asing sepanjang hidup mereka.
- Dalam survei oleh Korea Institute of Public Administration yang dirilis Maret 2024, ditemukan bahwa 45,9 % responden menerima warga asing sebagai anggota masyarakat Korea, sementara 25,4 % menyatakan tidak menerima.
- Studi lain menunjukkan bahwa ketika ditanya sejauh mana warga Korea menerima imigran sebagai bagian dari keluarga mereka, hanya ≈ 8,4 % yang bersedia menerima imigran sebagai pasangan atau anggota keluarga dekat mereka.
Dari temuan-temuan ini dapat disimpulkan bahwa masyarakat Korea berada dalam proses transisi: secara publik, warga asing mulai diterima sebagai bagian dari masyarakat, namun pada tingkat relasi interpersonal yang lebih dekat, seperti teman dekat atau keluarga penerimaan masih sangat terbatas.
Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Sikap
Beberapa penelitian telah menyoroti faktor-faktor yang mempengaruhi sikap terhadap imigran dan keluarga multikultural di Korea:
- Kontak dan pengalaman langsung: Studi menggunakan metode machine-learning menunjukkan bahwa pengalaman atau interaksi dengan budaya lain (kontak, keramahan, familiaritas) meningkatkan reseptivitas terhadap imigran, sedangkan persepsi kompetisi atas pekerjaan atau sumber daya cenderung menurunkan penerimaan.
- Orientasi keadilan sosial dan latar belakang sosial: Penelitian terhadap pelajar Korea menemukan bahwa orientasi keadilan sosial yang kuat terkait dengan sikap lebih positif terhadap imigran, terutama di kalangan siswa dari latar belakang yang kurang beruntung secara ekonomi.
- Tingkat pemahaman keberagaman budaya: Survei 2025 menunjukkan bahwa tujuh dari sepuluh orang Korea mengatakan mereka “sedikit atau tidak sama sekali” memahami apa yang dimaksud dengan keberagaman budaya.
- Generasi dan usia: Penerimaan terhadap imigran lebih tinggi pada kelompok usia muda dibandingkan lansia. Meski demikian, bahkan generasi muda masih menunjukkan batasan ketika menyangkut relasi dekat seperti teman atau keluarga.
- Jenis imigran atau keluarga multikultural: Sikap masyarakat juga berbeda tergantung jenis imigrasi seperti misalnya pekerja migran, pernikahan antarnegara, atau pengungsi dengan penerimaan yang cenderung lebih rendah untuk kelompok yang dianggap “lain” atau berbeda secara sosial.
Sikap Terhadap Keluarga Multikultural
Keluarga multikultural yang dalam konteks Korea biasanya adalah keluarga dengan satu orang Korea dan satu orang asing atau migran menghadapi tantangan sosial yang spesifik. Misalnya:
- Menurut sebuah artikel, masyarakat Korea memiliki tingkat kesadaran bahwa “keturunan etnis” masih penting untuk menjadi bagian penuh dari komunitas nasional: 71,2 % responden setuju bahwa silsilah/keturunan adalah kriteria penting untuk menjadi anggota yang sah dari negara.
- Anak-anak dari keluarga multikultural menghadapi tekanan ganda: di satu sisi harus menyesuaikan diri dengan budaya Korea, di sisi lain menghadapi stereotip dan diskriminasi.
- Walaupun keberadaan mereka makin banyak, integrasi sosial masih terbatas: hubungan sosial seperti teman akrab, jaringan keluarga besar, dan penerimaan masyarakat lokal belum sekuat untuk keluarga “monokultural” Korea. Hal ini tercermin dalam rendahnya tingkat penerimaan imigran sebagai teman dekat atau keluarga.
Tantangan dan Implikasi
Sikap masyarakat yang terbatas terhadap warga asing dan keluarga multikultural membawa beberapa implikasi:
- Integrasi sosial yang tidak merata: Dengan kontak sosial yang terbatas dan penerimaan yang sebagian besar masih di tingkat superficial (sebagai kolega/neighbour daripada teman dekat/keluarga), migran dan keluarga multikultural sering merasa berada di “pinggir” masyarakat.
- Risiko marginalisasi dan kesehatan mental: Studi menemukan bahwa anak-remah dalam keluarga multikultural lebih rentan terhadap stres akulturasi, rendahnya rasa komunitas, dan kondisi kesehatan mental yang kurang baik.
- Ketegangan antara kebutuhan demografis dan sikap sosial: Korea Selatan menghadapi tantangan demografis besar (populasi menurun, penuaan), sehingga keberadaan warga asing dan keluarga multikultural menjadi aspek penting dalam strategi nasional. Namun, sikap sosial yang belum sepenuhnya inklusif bisa menjadi hambatan bagi kebijakan yang efektif.
- Pendidikan dan kebijakan sebagai kunci perubahan: Karena faktor-seperti orientasi keadilan sosial dan pengalaman langsung terbukti mempengaruhi sikap, maka kurikulum sekolah, program pengalaman interkultural, dan kebijakan publik yang mendukung interaksi dan pemahaman bisa menjadi alat penting untuk mendorong perubahan sikap di masyarakat.
Penutup
Persepsi dan sikap masyarakat Korea terhadap warga asing dan keluarga multikultural menggambarkan sebuah masyarakat dalam masa peralihan: dari konsep tradisional homogenitas menuju kenyataan pluralitas yang makin nyata. Data menunjukkan bahwa sebagian masyarakat Korea mulai menerima keberadaan warga asing dalam ruang publik sebagai bagian dari komunitas, namun penerimaan dalam relasi pribadi seperti teman dekat atau keluarga yang masih sangat terbatas. Faktor seperti pengalaman langsung, orientasi keadilan sosial, usia, dan jenis kehadiran imigran semuanya memainkan peran penting dalam membentuk sikap ini.
Untuk menuju integrasi yang lebih bermakna, bukan sekadar keberadaan fisik warga asing atau keluarga multikultural, penting agar terjadi perubahan struktural dan kultural: pembentukan pengalaman sosial bersama, kebijakan yang memperkuat interaksi antarkelompok, serta pendidikan yang mendorong pemahaman keberagaman secara mendalam. Dengan demikian, masyarakat Korea dapat terbuka bukan hanya dalam menerima “yang lain”, tetapi juga dalam mengubah dirinya menjadi masyarakat yang benar-benar inklusif.
Oleh: Muhammad Adryan Wahyudi – 202410360110019
Referensi dan bacaan lebih lanjut:
The Straits Times. (2024, March 19). 83% of South Koreans have never had chance to really get to know a foreign national: Survey. The Straits Times. https://www.straitstimes.com/asia/east-asia/83-of-south-koreans-have-never-had-chance-to-really-get-to-know-a-foreign-national-survey
Kwak, Y.-s. (2024, March 19). 46% of Koreans accept foreign nationals as members of society: Poll. The Korea Times. https://www.koreatimes.co.kr/southkorea/globalcommunity/20240319/46-of-koreans-accept-foreign-nationals-as-members-of-society-poll
Jung, M.-h. (2025, July 19). Only 8% of Koreans would accept immigrants as family: Study. The Korea Times. https://www.koreatimes.co.kr/southkorea/globalcommunity/20250719/study-finds-only-8-of-koreans-would-accept-immigrants-as-family
Lee, H., Kuen, K., Kim, S. H., & Moon, H. (2023). Perceiving disorder through different lenses: Native and foreign residents’ perceptions in neighbourhoods with high foreign populations in South Korea. Journal of Criminology. https://hdl.handle.net/10072/438471
Kim, J. G. (2021). The problems and challenges of children from multicultural families in South Korea. Jurnal Puitika. https://jurnalpuitika.fib.unand.ac.id/index.php/jurnalpuitika/article/view/8




