Dampak Globalisasi terhadap Keragaman Budaya di Korea Selatan

Sumber gambar: Pinterest

 

Globalisasi telah menjadi kekuatan yang mengubah tatanan ekonomi, sosial, politik, dan budaya di seluruh dunia termasuk di Korea Selatan. Bersama dengan proses industrialisasi dan modernisasi cepatnya sejak dekade 1970-an dan 1980-an, Korea Selatan menghadapi tantangan dan peluang dalam merespons arus globalisasi yang membawa keragaman budaya baru, migrasi, serta adaptasi identitas nasional. Artikel ini akan membahas bagaimana globalisasi memengaruhi keragaman budaya di Korea Selatan, terutama dalam konteks multikulturalisme, tantangan yang muncul, dan bagaimana negara tersebut merespons perubahan tersebut.

Latar belakang Homogenitas dan perubahan demografis

Secara tradisional, masyarakat Korea Selatan memandang dirinya sebagai masyarakat etnis tunggal  dengan sedikit imigrasi besar atau keberagaman ras/etnis. Namun dalam beberapa dekade terakhir, perubahan demografis yang dipicu oleh globalisasi dan kebutuhan ekonomi telah menggeser realitas tersebut. Menurut situs resmi pemerintah Korea, pada 2020 warga asing yang tinggal di Korea Selatan mencapai sekitar 3,3 % dari total penduduk. Selain itu, pernikahan internasional dan keluarga multikultural pun semakin meningkat. Fakta ini menunjukkan bahwa Korea yang selama ini identik dengan homogenitas kini bergerak menuju masyarakat yang semakin beragam.

Globalisasi sebagai pendorong keragaman budaya

Globalisasi membawa dua arah pengaruh budaya ke Korea Selatan. Di satu sisi, ekspor budaya Korea (seperti gelombang Hallyu) memperluas jangkauan budaya Korea ke dunia, sekaligus menciptakan kontak balik (cultural-inflow) dengan budaya asing. Sebagai contoh, fenomena “Hallyu” atau gelombang budaya Korea menunjukkan bagaimana budaya populer Koreaa musik, drama, film berhasil menembus pasar global.  Sementara itu, globalisasi juga berarti makin banyak orang asing yang datang ke Korea Selatan sebagai pekerja migran, pelajar internasional, atau calon pasangan pernikahan internasional. Hal ini memunculkan keragaman budaya, bahasa, dan identitas yang sebelumnya tidak banyak hadir di masyarakat Korea. Dengan demikian, globalisasi mendorong terciptanya “keragaman budaya” di Korea yang sebelumnya cenderung homogen.

 

Sumber gambar: Pinterest

Dampak positif terhadap keragaman budaya

Ada beberapa dampak positif yang muncul dari globalisasi terkait keragaman budaya di Korea Selatan (Gi Wook Shin, 20220:

  1. Peningkatan kesadaran multikulturalisme: Pemerintah Korea mulai mengenali bahwa keberagaman budaya bukan hanya masalah sosial, namun juga bagian dari pembangunan nasional dan daya saing global. Misalnya, melalui undang-undang dan pusat-pusat dukungan untuk keluarga multikultural. 
  2. Peluang ekonomi dan budaya: Dengan membuka masyarakat terhadap budaya asing, Korea mendapatkan keuntungan dalam hal inovasi, kreativitas, dan daya tarik internasional. Keragaman budaya dan kontak internasional bisa memperkaya produk budaya lokal, memperluas pasar, dan mendukung diplomasi budaya.  
  3. Transformasi identitas nasional: Masyarakat Korea yang selama ini terikat pada ide “satu bangsa, satu etnis” kini menghadapi tantangan redefinisi identitas nasional yang lebih inklusif, memungkinkan munculnya generasi muda dengan latar belakang budaya ganda atau multikultural.  

Tantangan dalam menghadapi keragaman

Walaupun globalisasi membawa peluang, juga muncul berbagai tantangan yang terkait dengan keragaman budaya di Korea Selatan:

  1. Kebijakan multikulturalisme di Korea seringkali masih berorientasi pada asimilasi, yakni imigran atau pasangan asing diharapkan menyesuaikan diri dengan budaya Korea, dan bukan sebaliknya. Banyak kritik yang mengatakan bahwa ini kurang mencerminkan integrasi yang sejati. 
  2. Meskipun ada pusat dukungan bagi keluarga multikultural, kelompok migran atau pekerja asing masih sering mengalami diskriminasi, kewargaan sekunder, atau dipandang hanya sebagai tenaga kerja ekonomis, bukan bagian masyarakat yang setara. 
  3. Anak-anak dari keluarga multikultural kadang mengalami kebingungan identitas antara budaya Korea dan budaya asal orang tua mereka dan ini bisa berdampak pada rasa memiliki dan hubungan sosial. (Wikipedia)
  4. Pertahanan terhadap homogenitas budaya lama  Karena warisan sejarah dan ide “bangsa tunggal”, banyak warga Korea masih berpegang pada nilai homogenitas yang membuat perubahan menuju masyarakat multikultural menjadi proses yang lambat dan penuh resistensi.

Respons kebijakan dan arah masa depan

Respons kebijakan pemerintah Korea Selatan dalam menghadapi dampak globalisasi terhadap keragaman budaya menunjukkan upaya yang terus berkembang meskipun belum sepenuhnya optimal. Pemerintah telah memberlakukan Multicultural Families Support Act sebagai dasar hukum untuk mendukung keluarga multikultural, terutama melalui penyediaan layanan pendidikan bahasa Korea, konseling, serta bantuan akses pekerjaan yang memungkinkan anggota keluarga asing beradaptasi dengan lingkungan sosial Korea. 

Selain itu, pemerintah juga membentuk berbagai pusat dukungan multikultural di tingkat nasional dan lokal, yang menyediakan program edukasi serta kampanye kesadaran publik mengenai pentingnya menghargai keberagaman budaya sebagai bagian dari kehidupan masyarakat modern. Walaupun demikian, para peneliti dan pemerhati isu sosial mengkritik bahwa kebijakan ini masih terlalu berorientasi pada asimilasi, di mana orang asing diharapkan menyesuaikan diri sepenuhnya dengan budaya Korea, bukan pada upaya membangun kesalingpahaman dan penerimaan dua arah dari masyarakat Korea sendiri. Tantangan tersebut semakin penting mengingat perubahan demografis di Korea Selatan, seperti penurunan tingkat fertilitas dan penuaan populasi, yang membuat keberadaan komunitas migran menjadi kebutuhan struktural bagi keberlanjutan ekonomi dan sosial negara. Dengan demikian, arah masa depan kebijakan multikultural di Korea Selatan perlu beranjak dari sekadar integrasi teknis menuju pembentukan identitas masyarakat yang lebih inklusif, terbuka, dan mampu menghargai perbedaan sebagai bagian dari kekuatan nasional.

Refleksi dan kesimpulan

Globalisasi telah membawa arus keragaman budaya yang signifikan ke Korea Selatan suatu negara yang sebelumnya dipandang sangat homogen secara etnis dan budaya. Melalui arus migrasi, ekspor budaya, dan kontak global, Korea kini dihadapkan pada realitas multikulturalisme yang mesti dihadapi secara aktif. Dampak-positifnya mencakup peningkatan kreativitas budaya, peluang ekonomi, dan transformasi identitas nasional yang lebih terbuka. Namun tantangan seperti diskriminasi, integrasi yang belum optimal, dan resistensi kultural tetap menjadi hambatan.

Sebagai kesimpulan, globalisasi telah mengubah keragaman budaya di Korea Selatan bukan hanya sebagai fenomena eksternal, tetapi sebagai faktor internal yang mendesak. Untuk mencapai masyarakat yang benar-benar multikultural dan inklusif, Korea perlu melampaui pendekatan hanya “imigran masuk lalu diintegrasikan”, menuju pendekatan di mana seluruh masyarakat  termasuk warga Korea sendiri berubah dalam sikap, struktur sosial, dan identitas kolektifnya. Tantangan ini adalah bagian dari perjalanan Korea menuju status “Global Korea” yang tidak hanya dalam ekonomi atau budaya pop, tetapi dalam penerimaan keberagaman dan pluralitas budaya.

 

Oleh: Tsabitha Mizan Ivana – 202410360110016

 

Referensi dan bacaan lebih lanjut:

“Transition to a Multicultural Society – Korea.net.” Korea.net, https://www.korea.net/AboutKorea/Society/Transition-to-a-Multicultural-Society. Korea.net

“Globalization in South Korea – Wikipedia.” Wikipedia, https://en.wikipedia.org/wiki/Globalization_in_South_Korea. Wikipedia

“South Korea’s Tug of War With Multicultural Identity.” Glimpse from the Globe, https://www.glimpsefromtheglobe.com/features/op-ed/south-koreas-tug-of-war-with-multicultural-identity. Glimpse From The Globe

“Understanding Korea: Multicultural Korea – Institute of Asian Studies.” https://www.ias.chula.ac.th/en/article/understanding-korea-multicultural-korea/. IAS Chula

“Multicultural Policies in South Korea (2006-2022).” IJPPE, https://ijppe.journals.ekb.eg/article_251650.html?lang=en. IJPP Egypt

“Multiculturalism as State Developmental Policy in Global Korea.” DRAUDT (PDF), https://scdenney.net/wp-content/uploads/2022/03/multiculturalism-as-state-developmental-policy-in-global-korea_draudt.pdf. Steven Denney

“Korean society grows more diverse but still struggles with multicultural integration.” Korea Times, https://www.koreatimes.co.kr/southkorea/globalcommunity/20231025/special-report-korean-society-grows-more-diverse-but-still-struggles-with-multicultural-integration.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *