Sumber gambar: Nikkei Asia
South Korea has more than doubled the maximum number of visas for migrant workers this year versus 2019, before the COVID-19 pandemic struck. © Illustration by Hiroko Oshima
Beberapa tahun terakhir, Korea Selatan makin sering dibicarakan bukan cuma karena musik dan dramanya yang mendunia, tapi juga karena perubahan sosial di dalam negeri. Negara yang dulu dikenal sangat homogen semua warganya hampir dari etnis yang sama sekarang mulai berubah. Banyak orang asing datang untuk bekerja, menikah, atau belajar di sana. Fenomena inilah yang dikenal sebagai multikulturalisme.Dulu, masyarakat Korea cenderung tertutup terhadap orang asing. Tapi sejak ekonomi mereka tumbuh pesat pada tahun 1990-an, kebutuhan tenaga kerja meningkat, dan perlahan pemerintah membuka peluang bagi warga asing untuk datang. Sejak saat itu, masyarakat Korea mulai berinteraksi dengan berbagai budaya dari luar, terutama dari negara-negara Asia seperti Indonesia, Vietnam, Filipina, dan Tiongkok.Perubahan ini punya dua dampak besar: di bidang ekonomi, kehadiran pendatang membantu sektor industri dan perdagangan; sedangkan di bidang budaya, keberagaman memperkaya cara hidup dan pandangan masyarakat.

Sumber gambar: Pinterest
Aspek Ekonomi: Tenaga Migran dan Peluang Baru
Korea Selatan dikenal sebagai negara industri maju, tapi keberhasilannya nggak lepas dari tenaga kerja asing. Banyak pekerja dari negara-negara Asia datang lewat program resmi bernama Employment Permit System (EPS). Program ini memungkinkan warga asing untuk bekerja di bidang manufaktur, pertanian, dan jasa sektor yang sering kekurangan tenaga lokal.Menurut data resmi dari Ministry of Employment and Labor Korea (2023), ada lebih dari 200 ribu pekerja migran yang aktif di Korea, dan jumlahnya terus meningkat tiap tahun. Mereka punya kontribusi besar terhadap ekonomi nasional, terutama dalam menjaga rantai produksi dan menekan biaya tenaga kerja. Tanpa bantuan mereka, banyak perusahaan kecil dan pabrik bisa kesulitan beroperasi.Tapi tentu nggak semuanya berjalan mulus. Banyak pekerja asing menghadapi masalah seperti jam kerja panjang, gaji yang nggak sebanding, atau kesulitan adaptasi karena perbedaan bahasa dan budaya. Meski begitu, pemerintah Korea mulai memperbaiki kebijakan untuk melindungi hak-hak tenaga asing, termasuk menyediakan pusat konsultasi dan pelatihan bahasa Korea.Selain sektor tenaga kerja, keberagaman ini juga mendorong pertumbuhan bisnis baru. Contohnya di kawasan Itaewon dan Ansan, banyak restoran dan toko yang menjual makanan khas Asia Tenggara, Timur Tengah, dan Amerika Selatan. Warga lokal pun mulai terbuka dan penasaran mencoba makanan atau produk luar negeri. Jadi, multikulturalisme secara nggak langsung menggerakkan ekonomi lokal lewat konsumsi lintas budaya.Menurut laporan dari Korea Herald (2024), pengusaha kecil dari luar negeri juga mulai tumbuh pesat. Mereka membuka toko, restoran, dan kafe dengan konsep unik yang akhirnya menarik perhatian warga Korea sendiri. Hal ini menunjukkan kalau keberagaman bukan cuma menambah variasi budaya, tapi juga membuka peluang ekonomi baru.

Sumber gambar: Pinterest
Aspek Budaya: Masyarakat yang Semakin Terbuka
Selain ekonomi, perubahan paling terasa ada di dunia budaya. Kalau dulu orang asing dianggap “berbeda”, sekarang banyak warga Korea yang mulai terbiasa hidup berdampingan dengan berbagai latar belakang. Di kota besar seperti Seoul, Busan, dan Daegu, suasana multikultural terasa banget. Ada festival internasional, sekolah yang mendukung anak-anak dari keluarga campuran, dan komunitas lintas negara yang aktif di media sosial.Menurut BBC Korea (2024), generasi muda Korea mulai memandang keberagaman sebagai hal yang normal dan bahkan menarik. Misalnya, di dunia hiburan, makin banyak artis K-pop berdarah campuran seperti Nancy (Momoland) atau Huening Kai (TXT) yang diterima dengan antusias. Mereka jadi simbol bahwa “menjadi orang Korea” sekarang nggak harus dari satu etnis aja, tapi juga soal kontribusi dan semangat yang dibawa.Perubahan ini juga terasa dalam kehidupan sehari-hari. Di sekolah, anak-anak dari keluarga multikultural belajar dua bahasa dan dua budaya. Kadang memang ada tantangan seperti kesulitan bahasa atau perlakuan berbeda dari teman sebaya. Tapi kini pemerintah dan sekolah-sekolah mulai menyediakan program multicultural education, agar semua siswa bisa belajar menghargai perbedaan sejak dini.Budaya global juga makin memengaruhi gaya hidup. Orang Korea kini lebih suka menjelajah kuliner asing, belajar bahasa lain, dan traveling ke luar negeri. Sementara itu, budaya Korea sendiri juga menyebar luas ke dunia lewat K-pop, K-drama, dan kuliner seperti kimchi atau tteokbokki. Jadi sebenarnya terjadi pertukaran dua arah budaya asing masuk ke Korea, tapi budaya Korea juga keluar ke dunia.Hal ini bikin identitas budaya Korea jadi lebih fleksibel dan modern. Mereka tetap bangga dengan tradisi, tapi nggak menolak pengaruh luar. Masyarakat mulai sadar kalau keberagaman bukan ancaman, tapi justru kekuatan yang bikin negara mereka lebih hidup dan relevan di era global.
Kesimpulan
Multikulturalisme di Korea Selatan menunjukkan bahwa keberagaman bisa berjalan seiring dengan kemajuan ekonomi dan budaya. Di sisi ekonomi, tenaga kerja asing membantu menjaga stabilitas industri dan membuka peluang usaha baru. Di sisi budaya, masyarakat Korea belajar menerima perbedaan dan membentuk identitas baru yang lebih terbuka.Tantangan seperti diskriminasi dan kesenjangan sosial memang masih ada, tapi arah perubahan sudah positif. Generasi muda Korea cenderung lebih toleran dan menghargai keberagaman. Mereka sadar bahwa dunia saat ini nggak bisa lepas dari interaksi antarbudaya.Pada akhirnya, multikulturalisme bukan cuma soal siapa yang datang dari mana, tapi bagaimana semua orang bisa hidup berdampingan dan saling menghormati. Korea Selatan jadi contoh menarik tentang bagaimana sebuah negara yang dulunya homogen bisa bertransformasi jadi masyarakat yang dinamis dan penuh warna tanpa kehilangan jati diri.
Oleh: Pradipa Erfyn Firnanda – 202410360110057
Bacaan lebih lanjut:
BBC Korea. 2024. Young Koreans embrace diversity in a changing society. BBC News Korea, Seoul. www.bbc.com/korean
CNN Indonesia. 2023. Cerita pekerja migran Indonesia di Korea Selatan. CNN Indonesia, Jakarta. www.cnnindonesia.com
JoongAng Daily. 2023. Life in Ansan: Korea’s most multicultural city. Korea JoongAng Daily, Seoul. koreajoongangdaily.joins.com
Korea Herald. 2024. Foreign workers and the new multicultural economy. The Korea Herald, Seoul. www.koreaherald.coms
Ministry of Employment and Labor, Republic of Korea. 2023. Employment Permit System annual report. Government of the Republic of Korea, Seoul. www.moel.go.kr




