Picture source: Pinterest
Salah satu warisan budaya yang sangat populer di Korea Selatan, salah satunya adalah beladiri Taekwondo. Taekwondo semakin dikenal di dunia dan menjadi jenis olahraga kompetitif salah satu alasannya karena seringnya olahraga ini diikutkan dalam berbagai ajang olahraga baik domestik maupun internasional. Taekwondo, secara etimologis berarti “jalan tendangan dan pukulan,” mencerminkan teknik-teknik yang menggabungkan tendangan dan pukulan, serta menekankan pada disiplin dan pengembangan karakter. Pencak Silat, di sisi lain, merupakan seni bela diri yang berasal dari Indonesia dan memiliki akar budaya yang kaya, menggabungkan gerakan fisik dengan filosofi spiritual yang mendalam. Pencak silat sendiri telah menjadi bagian dari proses perkembangan bangsa Indonesia. Perannya yang tidak hanya sebagai bentuk pertahanan diri, melainkan juga bentuk ekspresi budaya yang mencakup seni tari, musik dan pertunjukkan sebagai upaya untuk membentuk identitas bangsa Indonesia, oleh karena itu, Pencak silat sangat mengakar dalam warisan budaya Indonesia. Keduanya, Taekwondo dan Pencak Silat, tidak hanya berfungsi sebagai teknik bela diri, tetapi juga sebagai sarana untuk membangun rasa disiplin, meningkatkan kebugaran fisik, serta memperkuat mentalitas individu dalam menghadapi tantangan hidup sehari-hari. Lalu, bagaimana jika kita membandingkan antara keduanya dari aspek teknik atau gaya bertarungnya?
Setiap seni bela diri memiliki karakteristik dan filosofi yang unik, sehingga perbandingan antara Taekwondo dan Pencak Silat dapat memberikan wawasan mendalam tentang kelebihan masing-masing dalam teknik bertarung dan strategi pertahanan. Selain itu, memahami karakteristik dari masing-masing beladiri ini akan sangat membantu calon praktisi untuk memilih seni bela diri yang paling sesuai dengan tujuan dan kebutuhan pribadi mereka.
Taekwondo secara historis berasal dari penggabungan seni beladiri Korea Kuno, meliputi teknik kaki yang halus dan berirama dari Taekkyon, dimana seni ini telah berdiri sejak Dinasti Goguryeo (37 SM-668 M). Serta pertarungan dengan serangan tangan dan pertahanan dari Subak yang telah berdiri sejak Dinasti Joseon (1392-1910). Pada masa pendudukan Jepang di Korea, seni bela diri Korea ditekan dan dipengaruhi oleh praktik Karate Jepang. Namun setelah pembebasan Korea pada tahun 1945, seni bela diri tradisional kembali diminati, dan pada tahun 1950-an, Jenderal Choi Hong Hi mulai mengembangkan taekwondo dengan menggabungkan elemen Taekkyon, Subak, dan Karate. Taekwondo menggunakan sistem sabuk dan poomsae sebagai sarana untuk menunjukkan tingkat kemahiran praktisi. Selain itu, beladiri ini juga memiliki aspek pertandingan yang dinamakan kyorugi. Dimana, poin dicetak dengan mendaratkan tendangan dan pukulan ke tubuh dan kepala lawan dengan penggunaan alat pelindung.
Di sisi lain, Pencak Silat Indonesia, secara historis , berkembang dari berbagai tradisi dan budaya yang ada di kepulauan Nusantara. Dengan pengaruh dari seni bela diri lokal serta praktik spiritual, Pencak Silat menonjolkan gerakan yang anggun namun efektif dalam pertarungan, sering kali menggabungkan teknik menyerang dan bertahan dengan filosofi mendalam tentang harmoni dan keseimbangan. Manusia memiliki cara mempertahankan diri sesuai dengan situasi dan kondisi alam di sekitarnya. Masyarakat yang tinggal di dekat hutan memiliki seni bela diri yang unik untuk menghadapi binatang buas yang ada. Bahkan, mereka juga menciptakan seni bela diri dengan meniru gerakan binatang di alam sekitarnya, misalnya meniru gerakan monyet, harimau, ular, dan burung. Masyarakat yang tinggal di pegunungan biasanya berdiri, bergerak, dan berjalan dengan posisi kaki yang kuat agar tidak mudah terjatuh saat berjalan di tanah yang tidak rata. Mereka biasanya menciptakan seni bela diri yang memiliki ciri-ciri kuda yang kokoh dan tidak banyak bergerak. Gerakan tangannya lebih lincah, bervariasi, dan efektif. Secara geografis, Indonesia memiliki kontur tanah yang berbeda-beda. Mereka yang tinggal di dataran rendah, rawa, ataupun padang rumput sering kali berjalan atau berlari sehingga gerakan kaki mereka menjadi lincah. Maka, beladiri yang tercipta akan menyesuaikan dengan kapabilitas mereka. Sebelum pencak silat menjadi beladiri modern saat ini, Pada perkembanagnnya, beladiri ini erat kaitannya dengan pembelajaran moral dan spiritual. Pencak silat bukan hanya tentang latihan fisik, tetapi juga melatih moral praktisi dan spiritual seperti puasa dan praktik seremonial. Integrasi tubuh, pikiran, dan jiwa menjadi dasar peran pencak silat dalam mengajarkan pertahanan diri sekaligus menekankan nilai-nilai moral, pengendalian diri, dan rasa identitas yang kuat.
Kedua jenis beladiri ini memiliki karakteristik sendiri dalam aspek teknik atau gaya bertarungnya. Taekwondo, sesuai namanya jelas mereka mempelajari tidak hanya teknik tendangan tapi juga pukulan. Namun, pada praktiknya, beladiri ini cenderung sering menggunakan tendangan dalam menyerang bukan karena teknik pukulannya yang buruk. Dalam pertarungan antar praktisi taekwondo, tendangan memiliki keuntungan dalam serangan jarak yang lebih jauh ketimbang pukulan. Sehingga, lebih efektif bagi mereka untuk mengoptimalkan pada teknik-teknik tendangan yang mengutamakan fleksibilitas dan kecepatan gerakan kaki. Berbeda dengan pencak silat, yang sejak masa perkembangannya banyak mengambil referensi dari gerak hewan seperti Silat Harimau dan Silat Ular, menciptakan gerakan-gerakan yang adaptif. Selain itu, tidak sedikit pula para praktisi yang cenderung mengandalkan teknik-teknik dengan posisi yang rendah serta kelincahan dalam teknik serangan mereka. Dengan demikian, kedua beladiri ini menawarkan pendekatan yang berbeda dalam strategi pertarungan, di mana taekwondo lebih menekankan pada kecepatan dan jangkauan serangan, sementara pencak silat mengedepankan adaptabilitas dan teknik bertahan yang kuat. Maka, untuk menjawab pertanyaan di awal tadi adalah bergantung pada situasi yang dihadapi praktisi. Permasalahannya adalah bukan terletak pada mana yang lebih baik, tetapi pada seberapa baik kita menguasai teknik beladiri baik taekwondo, pencak silat, serta jenis beladiri lainnya.
Oleh: Muhammad Aditya Akbar
Bacaan lebih lanjut:
Sudirohadiprodjo, M. (1982). Pelajaran Pencak Silat.Yogyakarta: Bhratara Karya Aksara.
Cook, D. (2006). Traditional Taekwondo: Core Techniques, History and Philosophy. Boston: YMAA Publication Center.
Muhyi, M., & Purbojati, P. (2014). Penguatan olahraga pencak silat sebagai warisan budaya nusantara. https://doi.org/10.36456/B.NUSANTARA.VOL1.NO2.A415
Kartomi, M. J. (2011). Traditional and Modern Forms of Pencak Silat in Indonesia: The Suku Mamak in Riau. Musicology Australia. https://doi.org/10.1080/08145857.2011.580716
Ediyono, S., Nugraha, R. S., & Hilal, A. (2023). Indigenous Knowledge and Philosopy in Pencak Silat Traditionial. Digital Press Social Sciences and Humanities, 9(00019). https://doi.org/https://doi.org/10.29037/digitalpress.49451
Bozorov, A. (2024). The Genesis of Taekwondo Around The World. The USA Journal, 04(07), pp 113-118. https://doi.org/10.37547/ajsshr/Volume04Issue07-18
Gambar 1. Pinterest. https://pin.it/4ZfQPg5zP




