Dinamika Multikulturalisme dalam Budaya Korea Selatan: Dialog antara Tradisi dan Globalisasi

Sumber gambar: Pinterest

 

Korea Selatan saat ini berada pada masa yang krusial, Ketika upaya mempertahankan nilai-nilai budaya tradisional harus berjalan berdampingan dengan keterbukaan terhadap arus budaya global. Dalam kehidupan kebudayaan, gejala multikulturalisme tampak semakin jelas, mulai dari berkembangnya industri hiburan yang menembus pasar internasional, hadirnya imigran dan keluarga campuran, hingga perubahan selera dan cara masyarakat muda menikmati budaya. Artikel ini berupaya mengulas bagaimana multikulturalisme tumbuh dan berkembangan dalam konteks budaya Korea Selatan, tantangan yang menyertai, serta langkah-langkah menuju masyarakat yang lebih terbuka dan inklusif secara budaya.

Budaya tradisional Korea berakar pada nilai-nilai ajaran konfusius, penghormatan terhadap hierarki sosial, dan pandangan hidup yang menekankan keseragaman serta identitas etnis tunggal. Gagasan minjok atau “bangsa tunggal” pernah sangat dominan di masyarakat Korea. Namum, sejak era modernisasi dan globalisasi pada akhir 1980-an, struktur sosial Korea mulai berubah. Mobilitas antarnegara meningkat, diikuti dengan arus imigrasi dan pernikahan campuran, sementara fenomena budaya popular seperti K-pop, K-drama, dan gaya hidup Korea (Hallyu) membawa Korea ke kancah internasional. Perubahan ini membuka ruang bagi multikulturalisme, di mana masyarakat tidak hanya menerima budaya asing, tetapi juga ikut andil menjadi bagian dari budaya global. 

Salah satu aspek yang paling mencolok dalam keragaman budaya di Korea adalah munculnya fenomena Hallyu atau Korea Wave. Genre musik K-pop, film, drama Korea, kuliner Korea, dan gaya hidup masyarakat Korea telah diterima secara luas di berbagai negara. Ini mendorong masyarakat  Korea untuk melihat diri mereka sebagai bagian dari komunitas dunia, bukan sekadar entitas budaya yang tertutup. Dalam industri hiburan Korea itu sendiri, mulai terlihat kehadiran anggota non-Korea dalam grup K-pop, kerja sama lintas negara, serta penyesuaian budaya global yang disajikan sebagai ‘kultur Korea’. Contohnya, artis asing yang berperan aktif dalam audisi internasional dan sekaligus menghadirkan sudut pandang baru dalam budaya popular Korea.

Berdasarkan kajian, multikulturalisme di Korea tidak hanya soal keberadaan budaya berbeda, tetapi bagaimana budaya tersebut diintegrasikan ke dalam narasi nasional dan komersial Korea untuk memperkuat daya saing budaya global (Draudt, 2019). Contohnuya: pemerintah Korea mendorong ekspor budaya sebagai bagian dari strategi negara untuk menjadi ‘Global Korea’, sehingga budaya populer menjadi komoditas sekaligus jembatan budaya (Draudt, 2019). Oleh karena itu, dalam lingkup budaya, multikulturalisme Korea mulai dilihat sebagai keterbukaan terhadap pengaruh luar sambil tetap menjaga elemen khas Korea, itu merupakan bukti adanya dinamika antara tradisi dan inovasi global.

Meskipun terlihat terbuka, multikulturalisme budaya di Korea tetap menghadapi sejumlah tantangan. Pertama, secara sosial budaya, kesadaran akan keragaman masih kurang dibandingkan negara yang sudah sangat majemuk. Sebuah studi menunjukkan bahwa dalam konteks Korea, multikulturalisme sering kali tetap dipahami dalam kerangka ‘asimilasi’ yaitu bahwa imigran dan pasangan perkawinan campuran diharapkan menyesuaikan diri dengan budaya Korea dominan, bukan sebaliknya (Lee, 2015). Kedua, masih terdapat stereotip budaya dan etnis dalam masyarakat Korea. Anak-anak dari keluarga pernikahan campuran, atau imigran, sering mengalami tekanan untuk ‘menjadi Korea’ dalam bentuk bahasa, norma sosial, dan perilaku. Ketiga, tantangan integrasi budaya tidak hanya di tingkat individu, tetapi juga sistematik: pendidikan, media, dan juga industri hiburan masih banyak dikendalikan oleh kerangka budaya Korea dominan Lee, 2023). Keempat, ada risiko bahwa multikulturalisme budaya hanya dijadikan sebagai simbol atau strategi pemasaran global tanpa adanya perubahan mendasar pada struktur sosial budaya domestik (Hunt, 2020).

Di tengah berbagai tantangan yang ada, muncul beragam inisiatif dan perubahan yang menunjukkan arah lebih inklusif dalam budaya Korea. Pemerintah Korea telah membuat berbagai program untuk mendukung keluarga campuran melalui pusat layanan (Multicultural Family Support Centers) dan pendidikan multicultural. Berbagai penelitian (Jang, 2022) menunjukkan bahwa pusat-pusat layanan tersebut berperan penting dalam memberikan akses budaya dan sosial bagi wanita imigran dan keluarga campuran. Di industri hiburan, kolaborasi internasional  semakin banyak, seperti artis Korea bekerja dengan artis dari negara lain, produksi drama film yang melibatkan talent lintas negara, serta agensi hiburan Korea tidak hanya menggelar audisi di Korea tetapi juga di negara lain, juga adaptasi budaya lokal dan global secara bersamaan. Langkah ini membantu menciptakan budaya yang lebih terbuka terhadap keberagaman. 

Dalam pendidikan dan media, ada upaya untuk memasukkan pandangan multikulturalisme ke dalam kurikulum, meningkatkan sensitivitas antarbudaya siswa, dan mempromosikan dialog lintas budaya di sekolah (Lee, 2023). Akhirnya, masyarakat sipil dan sektor hiburan juga semakin menampilkan representasi budaya yang berbeda, contohnya acara TV, film, acara music yang menampilkan tokoh dengan latar belakang yang berbeda, serta komunitas imigran yang berkembang dalam budayan popular. Semua upaya ini menunjukkan bahwa budaya Korea sedang bergerak menuju perkembangan multikulturalisme yang lebih luas, tidak hanya sebagai pemasaran global, tetapi sebagai perubahan internal nilai budaya.

Multikulturalisme di sektor budaya di Korea Selatan adalah sebuah proses yang terus berkembang, beroperasi di antara tradisi dan modernitas global. Budaya pop, Khususnya Hallyu, telah menciptakan kesempatan untuk menerima pengaruh budaya dari luar dan mendorong terbentuknya identitas budaya yang lebih inklusif. Meski demikian, berbagai tantangan besar masih menghadang: mulai dari kerangka asimilasi yang dominan, ketidakadilan dalam representasi budaya, hingga ancaman bahwa multikulturalisme bisa menjadi sekadar istilah pemasaran. Tantangan ke depan adalah bagaimana masyarakat Korea dan pelaku budaya bisa mengalihkan kerangka pikir dari ‘budaya dominan menerima budaya lain’ menjadi ‘budaya yang saling berinteraksi dan mengakui keragaman sebagai bagian dari identitas nasional yang baru’. Untuk itu diperlukan perubahan dalam pendidikan, media, industri budaya dan kebijakan publik agar multikulturalisme budaya di Korea tidak hanya terjadi secara simbolik, tetapi secara struktural.

 

Oleh: Nayla Kahira – 202410360110103

 

Referensi dan bacaan lebih lanjut:

Draudt D. Multiculturalism as State Developmental Policy in Global Korea. Published online 2019:157-177.

Hunt GJ. Multiculturalism or Revamped Monoculturalism: Exploring the Principles, Policies, and Practices Enacted in Korea’s Changing Society. Published online 2020. https://ijssrr.com/journal/article/view/53

Jang S. Multiculturalism in South Korea: putting migrant wives in their place. Published online 2022. https://www.tandfonline.com/doi/full/10.1080/13504630.2022.2121276

Kim J hee. Understanding the “ Other ”: Rethinking Multiculturalism in South Korea through Gadamer ’ s Philosophical Hermeneutics. 2018;20(1):102-117.

Lee YS. Discussion on Multiculturalism in Korea : The Origin of Lack of Opposition to Multiculturalism *. 2015;5(2):85-100.

6. Lee S. Problematizing the paradoxical pedagogical gestures of ‘embracing diversity’: The case of multicultural education policies in South Korea. Published online 2023. https://www.sciencedirect.com/science/article/abs/pii/S0883035523000800

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *