Mengapa Orang Korea Jarang Memelihara Jenggot: Kajian Budaya, Sosial, dan Sejarah

Dalam masyarakat Korea modern, penampilan seseorang, khususnya dalam lingkungan profesional, memainkan peran besar dalam membentuk kesan sosial dan profesional. Salah satu aspek penampilan yang menimbulkan perdebatan adalah keberadaan jenggot pada pria. Walaupun tidak ada larangan hukum eksplisit mengenai jenggot, norma sosial dan budaya di Korea Selatan menciptakan tekanan yang kuat bagi pria untuk mencukur bersih wajah mereka. Hal ini bukan hanya soal estetika, tetapi merupakan cerminan dari sejarah panjang, budaya kerja yang ketat, serta nilai-nilai sosial yang sangat menghargai keteraturan, kesopanan, dan keseragaman.

Kejadian yang menimpa seorang kapten Asiana Airlines pada 12 September 2015 menjadi contoh konkret bagaimana jenggot bisa menjadi masalah di dunia kerja Korea. Tuan A, yang menumbuhkan jenggot sepanjang 3 cm, dikeluarkan dari tugasnya karena melanggar kebijakan penampilan perusahaan yang mencakup larangan eksplisit terhadap jenggot. Ia dilarang menerbangkan pesawat selama 29 hari hingga akhirnya mencukur jenggotnya. Ketika ia mengajukan pengaduan atas tindakan ini, Pengadilan Administratif Seoul memutuskan bahwa kebijakan tersebut adalah perintah kerja yang sah. Kasus ini menegaskan bagaimana perusahaan-perusahaan Korea, bahkan dalam industri besar seperti penerbangan, menganggap jenggot sebagai sesuatu yang bertentangan dengan citra profesional yang mereka harapkan dari karyawannya.

Di banyak tempat kerja Korea, jenggot masih dianggap sebagai simbol ketidakteraturan atau kurang rapi. Meskipun tidak ada aturan tertulis yang melarang jenggot, persepsi umum tetap mengarah pada sikap negatif. Karyawan pria sering kali mengatakan bahwa meskipun rambut panjang atau rambut yang diwarnai bisa ditoleransi, jenggot tetap tidak bisa diterima. Ini menciptakan tekanan sosial yang besar terhadap para pria, khususnya mereka yang ingin tampil beda atau mengekspresikan individualitas mereka melalui penampilan fisik. Budaya kerja yang sangat hierarkis dan homogen di Korea memandang keberbedaan sebagai sesuatu yang mengganggu harmoni tim atau menciptakan kesan tidak profesional.

Norma ini semakin kuat dalam industri jasa seperti perhotelan, penerbangan, dan pelayanan pelanggan. Penampilan dianggap sebagai bagian dari pelayanan itu sendiri. Bahkan perusahaan perhotelan asing yang beroperasi di Korea menyesuaikan diri dengan norma lokal, mendorong bahkan memaksa para eksekutifnya mencukur jenggot. Alasan utamanya adalah bahwa pelanggan di Korea terbiasa melihat wajah bersih sebagai tanda keramahan dan kepercayaan. Bahkan dalam kasus medis atau estetika, misalnya seseorang yang memiliki bekas luka di bawah hidung, jenggot hanya diterima sebagai pengecualian, bukan sebagai norma.

Dalam konteks pegawai negeri, tidak ada aturan resmi yang melarang jenggot, namun kenyataan sosial tetap menekan pilihan personal tersebut. Seorang pegawai di Kementerian Luar Negeri bahkan menyatakan bahwa mengenakan pakaian sedikit berbeda saja, seperti jaket kombinasi, dapat menimbulkan komentar yang mengganggu. Dalam masyarakat yang sangat mementingkan kesesuaian dengan norma kolektif, ekspresi personal sering kali ditahan untuk menghindari kritik atau penilaian negatif. Di militer, jenggot dilarang karena alasan kebersihan dan sanitasi, tetapi hal itu turut memperkuat citra bahwa wajah bersih adalah bagian dari disiplin dan keteraturan.

Namun, ada ruang kecil bagi ekspresi diri melalui jenggot. Di industri kreatif seperti hiburan, desain, dan perusahaan asing berbasis teknologi, norma ini lebih longgar. Karyawan di perusahaan IT multinasional merasa lebih bebas untuk menumbuhkan jenggot karena tidak ada tekanan budaya yang sama seperti di perusahaan domestik. Selebriti, sutradara, dan pekerja seni juga sering kali memelihara jenggot sebagai bagian dari gaya pribadi atau citra publik mereka. Hal ini menunjukkan bahwa resistensi terhadap jenggot di Korea lebih bersifat budaya daripada universal, dan sangat dipengaruhi oleh konteks institusional dan sosial.

Secara historis, jenggot di Korea bukanlah hal yang asing. Pada masa Tiga Kerajaan, jenggot dianggap sebagai simbol kebijaksanaan dan kedewasaan. Banyak lukisan mural dari zaman itu menunjukkan para pria bangsawan dengan jenggot yang terawat. Namun, perubahan besar terjadi pada tahun 1895 dengan diberlakukannya peraturan pemotongan rambut, yang merupakan bagian dari upaya modernisasi dan westernisasi Korea. Peraturan ini menandai awal dari penghilangan simbol-simbol tradisional, termasuk jenggot, yang mulai dianggap sebagai sisa-sisa Konfusianisme yang sudah tidak relevan dengan semangat kemajuan zaman. Masa penjajahan Jepang turut memperkuat norma ini, di mana gaya jenggot ala Barat sesekali muncul tetapi tidak mengakar dalam budaya local .

Setelah Korea merdeka dan memasuki era industrialisasi cepat di bawah rezim militer, jenggot semakin dianggap sebagai simbol keterbelakangan dan ketidakdisiplinan. Budaya perusahaan Korea yang berkembang pada masa itu sangat menekankan keseragaman, efisiensi, dan kepatuhan. Dalam lingkungan seperti itu, jenggot menjadi simbol pemberontakan terhadap norma sosial yang tidak dapat diterima secara luas. Bahkan hingga saat ini, meskipun masyarakat Korea telah jauh lebih terbuka dan global dalam hal budaya, pandangan terhadap jenggot tetap konservatif dalam banyak sektor kehidupan, terutama yang berkaitan dengan pelayanan publik dan profesionalisme formal.

Kesimpulannya, alasan mengapa pria Korea jarang memelihara jenggot bukan hanya karena alasan estetika atau preferensi pribadi, tetapi merupakan hasil dari dinamika budaya, sejarah, dan sosial yang kompleks. Mulai dari warisan Konfusianisme, pengaruh penjajahan Jepang, kebijakan modernisasi, hingga norma kerja yang ketat, semuanya berkontribusi pada pembentukan persepsi negatif terhadap jenggot. Meskipun terdapat pengecualian dalam industri kreatif dan perusahaan asing, mayoritas masyarakat Korea masih memandang wajah bersih sebagai standar emas profesionalisme dan keteraturan. Ke depan, seiring meningkatnya kesadaran terhadap kebebasan berekspresi dan keberagaman penampilan, mungkin akan terjadi pelonggaran terhadap norma-norma ini. Namun untuk saat ini, wajah tanpa jenggot tetap menjadi simbol dominan dari citra ideal pria Korea.

Oleh: Nuril Fajriyah

Bacaan lebih lanjut:

Restu, U., Indriyany, I. A., & Nurjuman, H. (2018). Dekonstruksi Makna Maskulinitas pada Trend Korea Pop (K-POP) Sebagai Praktik Identitas Remaja.

Kien, G. (2005). Beard stories: Signification of facial hair in and out of South Korea. Qualitative inquiry11(3), 458-465

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *