#Budaya #Politic #Politik Korea #Security #Social

REVIEW FILM ” MY WAY “

“My Way” adalah drama perang yang disutradarai oleh Kang Je-gyu, dirilis pada tahun 2011. Ditetapkan dalam latar belakang Perang Dunia II, film ini menceritakan kisah luar biasa dua pelari marathon saingan, Jun-shik, seorang warga Korea, dan Tatsuo, seorang penjajah Jepang, yang kehidupannya menjadi terkait di tengah kekacauan perang. Melintasi benua dan tahun, “My Way”. Film ini  mengeksplorasi tema persahabatan, kesetiaan, dan ketahanan semangat manusia di tengah-tengah kesulitan yang ada.Film ini dibuka pada tahun 1928 di Korea yang sedang diduduki Jepang, di mana Jun-shik dan Tatsuo pertama kali bertemu. Meskipun latar belakang mereka berbeda dan ketegangan antara negara mereka masing-masing, mereka berbagi kecintaan terhadap lari. Namun, persaingan mereka menjadi lebih intens ketika mereka bersaing satu sama lain dalam sebuah maraton, yang menghasilkan peristiwa yang mengubah hidup dan mengatur panggung untuk takdir mereka yang terkait.

Ketika Perang Dunia II meletus, baik Jun-shik maupun Tatsuo mendapati diri mereka diambil oleh tentara negara mereka masing-masing. Jun-shik dipaksa untuk melayani di militer Jepang, sementara Tatsuo menjadi seorang prajurit untuk Tentara Kekaisaran Jepang. Nasib membawa mereka bertemu lagi selama Pertempuran Khalkhin Gol pada tahun 1939, di mana mereka saling berhadapan di medan perang dalam konfrontasi yang mengerikan. Setelah itu pada suatu momen ketika markas tentara jepang diserang oleh pasukan uni soviet para pasukan jepang yang siap mati pun menyerang dengan penuh ambisi yang membara namun, dengan terbatasnya alat tempur dan persenjataan pasukan jepang pun kocar kacir dalam penyerangan tersebut. Sehingga mereka mengalami kekalahan , setelah itu para pasukan jepang yang masih hidup pun dijadikan tawanan oleh pasukan Soviet. Setelah serangkaian peristiwa, termasuk ditangkapnya oleh pasukan Soviet, Jun-shik dan Tatsuo akhirnya dijadikan wajib militer dalam Tentara Merah dan dikirim untuk bertempur di Front Timur. Di tengah kekejaman perang, mereka membentuk ikatan yang tidak mungkin saat mereka berjuang untuk bertahan hidup di kondisi keras Uni Soviet.

Narratif “My Way” berkembang melawan latar belakang peristiwa sejarah besar, termasuk Pertempuran Stalingrad dan pendaratan Normandia. Melalui visual yang menakjubkan dan adegan pertempuran yang intens, film ini menggambarkan dengan jelas horor perang dan biaya yang harus ditanggung oleh mereka yang terjebak dalam cengkeraman perang. Meskipun perbedaan dan kekejaman yang mereka saksikan, Jun-shik dan Tatsuo menemukan kesamaan dalam konfrontasi realitas brutal pertempuran. Melalui pengalaman bersama mereka, mereka mulai memahami kemanusiaan satu sama lain, melampaui hambatan kewarganegaraan dan ideologi. Saat perang mencapai klimaksnya, Jun-shik dan Tatsuo menemukan diri mereka di pantai Normandia selama invasi Sekutu. Di tengah kekacauan pertempuran, mereka harus sekali lagi menghadapi masa lalu mereka dan memutuskan di mana kesetiaan mereka sebenarnya berada.

Dalam cakupannya yang epik dan kedalaman emosionalnya, “My Way” adalah bukti ketahanan semangat manusia di tengah kesulitan yang tak terbayangkan. Melalui perjalanan Jun-shik dan Tatsuo, film ini mengeksplorasi tema-tema universal seperti keberanian, pengorbanan, dan ikatan persahabatan yang abadi yang melampaui kekejaman perang.

Dengan sinematografi yang megah, penampilan yang kuat, dan penceritaan yang mendalam, “My Way” menjadi penghormatan yang menyentuh bagi individu-individu yang menderita horor Perang Dunia II dan mengingatkan kita akan kekuatan harapan dan kasih sayang yang abadi di tengah-tengah masa-masa tergelap.

Ketika kredit bergulir, penonton dibiarkan dengan rasa kagum dan kekaguman yang mendalam akan semangat tak terkalahkan mereka yang berjuang dan berkorban begitu banyak demi kebebasan dan kemanusiaan. “My Way” bukan hanya sebuah film perang; itu adalah cerita abadi tentang keberanian, ketahanan, dan kekuatan semangat manusia yang abadi untuk menang atas kesulitan.

REVIEW FILM ” MY WAY “

Ginseng and National Identity Why South Korea

The Causes of The Low Birth Rate

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *